alexametrics
27.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Bungkak Nyuh Gading Sangat Penting saat Potong Gigi, Ini Penjelasannya

DENPASAR, BALI EXPRES – Upacara Mapandes atau Potong Gigi, tidak bisa dipisahkan dengan Bungkak Nyuh Gading. Salah satu sarana penting ini digunakan menampung sisa ritual.  Bagaimana filosofinya?

Upacara Mapandes salah satu bagian dari tanggung jawab orang tua pada sang anak. Upacara ini masuk kategori Pitra Rnam, dimana orang tua membayarkan utangnya pada sang leluhur dengan sang anak, melalui ritual Mapandes untuk kemudian menapaki langkah kehidupan menjadi orang dewasa.

Menurut Dekan Fakultas Ayurweda UNHI Denpasar, Dr Ida Bagus Wiryanatha MSi, Potong Gigi adalah ritual yang dijalankan nenek moyang sejak masa lampau, bahkan sebelum zaman prasejarah. Pria berusia 59 tahun, ini mengungkapkan, ada temuan prasejarah yang ditemukan di Gilimanuk menunjukkan gigi manusia sudah terasah.

“Potong Gigi ini adalah ritual yang filosofis sekali yang dilakukan masyarakat Bali sejak prasejarah hingga sekarang,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) saat ditemui di kantornya di UNHI Denpasar.

Filosofi melakukan upacara Potong Gigi dalam perspektif Hindu  adalah sebagai bentuk penyucian diri. “Penyucian diri ini adalah sebagai simbol agar bisa bertemu dengan Sang Hyang Siwa, seperti dalam mitologi kelahiran Batara Kala yang baru reda amarahnya dan tahu Dewa Siwa dan Dewi Uma adalah pencipatnya ketika taringnya sudah patah,” urainya.

Melalui ajaran itu, sebagai manusia yang memiliki taring, lanjutnya, maka diartikan manusia belumlah suci, sehingga perlu sebuah proses agar menjadi suci. “Dalam Kala Pati Tattwa, Ganapati Tattwa dijelaskan,  putra Siwa, Batara Kala, mempunyai taring dan menjadi sebuah simbol keserakahan dan sifat keraksasaan. Akhirnya untuk menghilangkan sifat itu kan dihilangkan taring yang kita miliki, melalui upacara Potong Gigi,” ungkapnya.

 

Dalam ritual Potong Gigi, tidak akan lepas dari sarana yang  namanya kelapa muda gading (Bungkak Nyuh Gading).  Bungkak  ini dipakai sebagai penampung kotoran, seperti air ludah,  juga kotoran gigi yang dikikir.

Penggunaan Bungkak Nyuh Gading dalam ritual ini, rupanya tidak terlepas dari anugerah Batara Gana.

Dijelaskan  Ida Bagus Wiryanatha, Batara Gana atau Dewa Ganesha adalah Dewa Pelebur malapetaka. Jika masih dikuasai sifat keraksasaan, maka manusia akan selalu didatangi petaka. Dan, jika ingin malapetaka tidak datang, maka harus dilakukan penyucian diri. “Bungkak Nyuh Gading ini memang menjadi simbol nyomya atau melebur kekuatan Sad Ripu atau sifat keraksasaan manusia. Maka dari itu, pas sekali dipakai untuk upacara Potong Gigi. Melalui ini kita bisa melihat benang merah antara Nyuh Gading, kesucian diri dan Batara Gana,” tambahnya.

Ida Bagus Wiryanatha menambahkan, penggunaan Bungkak Nyuh Gading telah menerapkan protokol kesehatan yang baik sesuai ajaran Ayurweda maupun usadha Bali. “Air dalam Bungkak tentu sudah terisi alami, bukan sengaja diisi oleh manusia, sehingga airnya pasti bagus. 
Apalagi menyimpan kotoran hasil ritual potong gigi dalam Bungkak  yang sudah dikasturi dan ditulisi aksara Ardhanareswari akan mendapat keberkahan dari Dewa Ganesha untuk mentralisasi segala malapetaka dalam diri,” bebernya.

Sebagai penampungan kotoran atau mala sisa dari Potong Gigi, Bungkak Nyuh Gading membuat kotoran semua ternetralisasi.

Dikatakannya,  Bungkak Nyuh Gading ibaratnya sebagai laut yang menerima sampah dari berbagai sungai, namun laut tersebut tetaplah biru dan tidak menjadi kotor. “Begitulah simbol dari Bungkak Nyuh Gading ketika jadi tempat menampung mala dan kotoran saat ritual Mapandes menjadi penyomya. Semua berkat anugerah Dewa Gana kepada kita,” terang pria asal Pejeng, Kabupaten Gianyar tersebut.

Dari sudut pandang Ayurweda, sisa kotoran seperti air ludah, sisa kikiran gigi, tebu atau dadap pedangal, tisu hingga kain yang dipakai, ketika dibuang ke dalam Bungkak Nyuh Gading sudah sesuai layaknya protokol kesehatan.  Semua kotoran itu dikumpulkan menjadi satu dan langsung ditutup rapat seusai ritual Mapandes, sehingga aman, layaknya sampah medis.

Meskipun seperti sampah medis, lanjut dosen yang kini tinggal di Kesiman, Denpasar ini, Bungkak Nyuh Gading yang dipakai di ritual Mapandes tidaklah jadi sampah.

Ida Bagus Wiryanatha memaparkan,  Bungkak Nyuh Gading tempat menyimpan kotoran dari Mapandes ditanam di Timur Laut pekarangan. “Menanam Bungkak dari ritual Mapandes itu di jaba merajan (di luar merajan) di area Timur Laut pekarangan. Bukan di dalam merajan. Namun,  ada juga yang menanam di belakang Rong Tiga. Itu semua kembali ke kepercayaan masing-masing,” tambahnya.

Ditambahkannya, dari sudut ajaran agama, tidak dibuangnya Bungkak Nyuh Gading, melainkan ditanam di pekarangan,  untuk membuat ikatan memori si anak dengan asalnya. Jadi, kapan pun si anak kembali ke rumah dari tempat jauh akan selalu mudah akrab dengan rumah asalnya. “Layaknya gen. Gen memori kita sudah ada di sana, jadi tidak akan pernah lupa,” paparnya.

Sebagai sebuah ritual, upacara Potong Gigi masuk dalam utang orang tua pada leluhur.
Ditambahkannya, melalui upacara Potong Gigi menjadikan sang keturunan tidak hanya pintar , namun juga tajam secara spiritual. “Lewat Potong Gigi akan menyucikan si anak,  dan dianggap sudah mulai bisa melangkah ke depan dengan harapan sifat Sad Ripu (enam musuh yang ada dalam diri manusia) berkurang, setelah beranjak dari remaja ke dewasa,” terangnya.

Jika seandainya si orang tua sudah tidak ada, lanjutnya, keluarga yang mewakilkan hendaknya meminta izin pada orang tua si anak.  “Jika sudah meninggal orang tua yang Potong Gigi, yang mewakili harus sembahyang sambil meminta izin pada orang tua si anak.
Ini penting dilaksanakan,  sebab ini adalah utang orang tua si anak pada leluhur. Begitulah etikanya agar upacara Mapandes membawa keberkahan pada si anak,” pungkas Ida Bagus Wiryanatha.


DENPASAR, BALI EXPRES – Upacara Mapandes atau Potong Gigi, tidak bisa dipisahkan dengan Bungkak Nyuh Gading. Salah satu sarana penting ini digunakan menampung sisa ritual.  Bagaimana filosofinya?

Upacara Mapandes salah satu bagian dari tanggung jawab orang tua pada sang anak. Upacara ini masuk kategori Pitra Rnam, dimana orang tua membayarkan utangnya pada sang leluhur dengan sang anak, melalui ritual Mapandes untuk kemudian menapaki langkah kehidupan menjadi orang dewasa.

Menurut Dekan Fakultas Ayurweda UNHI Denpasar, Dr Ida Bagus Wiryanatha MSi, Potong Gigi adalah ritual yang dijalankan nenek moyang sejak masa lampau, bahkan sebelum zaman prasejarah. Pria berusia 59 tahun, ini mengungkapkan, ada temuan prasejarah yang ditemukan di Gilimanuk menunjukkan gigi manusia sudah terasah.

“Potong Gigi ini adalah ritual yang filosofis sekali yang dilakukan masyarakat Bali sejak prasejarah hingga sekarang,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) saat ditemui di kantornya di UNHI Denpasar.

Filosofi melakukan upacara Potong Gigi dalam perspektif Hindu  adalah sebagai bentuk penyucian diri. “Penyucian diri ini adalah sebagai simbol agar bisa bertemu dengan Sang Hyang Siwa, seperti dalam mitologi kelahiran Batara Kala yang baru reda amarahnya dan tahu Dewa Siwa dan Dewi Uma adalah pencipatnya ketika taringnya sudah patah,” urainya.

Melalui ajaran itu, sebagai manusia yang memiliki taring, lanjutnya, maka diartikan manusia belumlah suci, sehingga perlu sebuah proses agar menjadi suci. “Dalam Kala Pati Tattwa, Ganapati Tattwa dijelaskan,  putra Siwa, Batara Kala, mempunyai taring dan menjadi sebuah simbol keserakahan dan sifat keraksasaan. Akhirnya untuk menghilangkan sifat itu kan dihilangkan taring yang kita miliki, melalui upacara Potong Gigi,” ungkapnya.

 

Dalam ritual Potong Gigi, tidak akan lepas dari sarana yang  namanya kelapa muda gading (Bungkak Nyuh Gading).  Bungkak  ini dipakai sebagai penampung kotoran, seperti air ludah,  juga kotoran gigi yang dikikir.

Penggunaan Bungkak Nyuh Gading dalam ritual ini, rupanya tidak terlepas dari anugerah Batara Gana.

Dijelaskan  Ida Bagus Wiryanatha, Batara Gana atau Dewa Ganesha adalah Dewa Pelebur malapetaka. Jika masih dikuasai sifat keraksasaan, maka manusia akan selalu didatangi petaka. Dan, jika ingin malapetaka tidak datang, maka harus dilakukan penyucian diri. “Bungkak Nyuh Gading ini memang menjadi simbol nyomya atau melebur kekuatan Sad Ripu atau sifat keraksasaan manusia. Maka dari itu, pas sekali dipakai untuk upacara Potong Gigi. Melalui ini kita bisa melihat benang merah antara Nyuh Gading, kesucian diri dan Batara Gana,” tambahnya.

Ida Bagus Wiryanatha menambahkan, penggunaan Bungkak Nyuh Gading telah menerapkan protokol kesehatan yang baik sesuai ajaran Ayurweda maupun usadha Bali. “Air dalam Bungkak tentu sudah terisi alami, bukan sengaja diisi oleh manusia, sehingga airnya pasti bagus. 
Apalagi menyimpan kotoran hasil ritual potong gigi dalam Bungkak  yang sudah dikasturi dan ditulisi aksara Ardhanareswari akan mendapat keberkahan dari Dewa Ganesha untuk mentralisasi segala malapetaka dalam diri,” bebernya.

Sebagai penampungan kotoran atau mala sisa dari Potong Gigi, Bungkak Nyuh Gading membuat kotoran semua ternetralisasi.

Dikatakannya,  Bungkak Nyuh Gading ibaratnya sebagai laut yang menerima sampah dari berbagai sungai, namun laut tersebut tetaplah biru dan tidak menjadi kotor. “Begitulah simbol dari Bungkak Nyuh Gading ketika jadi tempat menampung mala dan kotoran saat ritual Mapandes menjadi penyomya. Semua berkat anugerah Dewa Gana kepada kita,” terang pria asal Pejeng, Kabupaten Gianyar tersebut.

Dari sudut pandang Ayurweda, sisa kotoran seperti air ludah, sisa kikiran gigi, tebu atau dadap pedangal, tisu hingga kain yang dipakai, ketika dibuang ke dalam Bungkak Nyuh Gading sudah sesuai layaknya protokol kesehatan.  Semua kotoran itu dikumpulkan menjadi satu dan langsung ditutup rapat seusai ritual Mapandes, sehingga aman, layaknya sampah medis.

Meskipun seperti sampah medis, lanjut dosen yang kini tinggal di Kesiman, Denpasar ini, Bungkak Nyuh Gading yang dipakai di ritual Mapandes tidaklah jadi sampah.

Ida Bagus Wiryanatha memaparkan,  Bungkak Nyuh Gading tempat menyimpan kotoran dari Mapandes ditanam di Timur Laut pekarangan. “Menanam Bungkak dari ritual Mapandes itu di jaba merajan (di luar merajan) di area Timur Laut pekarangan. Bukan di dalam merajan. Namun,  ada juga yang menanam di belakang Rong Tiga. Itu semua kembali ke kepercayaan masing-masing,” tambahnya.

Ditambahkannya, dari sudut ajaran agama, tidak dibuangnya Bungkak Nyuh Gading, melainkan ditanam di pekarangan,  untuk membuat ikatan memori si anak dengan asalnya. Jadi, kapan pun si anak kembali ke rumah dari tempat jauh akan selalu mudah akrab dengan rumah asalnya. “Layaknya gen. Gen memori kita sudah ada di sana, jadi tidak akan pernah lupa,” paparnya.

Sebagai sebuah ritual, upacara Potong Gigi masuk dalam utang orang tua pada leluhur.
Ditambahkannya, melalui upacara Potong Gigi menjadikan sang keturunan tidak hanya pintar , namun juga tajam secara spiritual. “Lewat Potong Gigi akan menyucikan si anak,  dan dianggap sudah mulai bisa melangkah ke depan dengan harapan sifat Sad Ripu (enam musuh yang ada dalam diri manusia) berkurang, setelah beranjak dari remaja ke dewasa,” terangnya.

Jika seandainya si orang tua sudah tidak ada, lanjutnya, keluarga yang mewakilkan hendaknya meminta izin pada orang tua si anak.  “Jika sudah meninggal orang tua yang Potong Gigi, yang mewakili harus sembahyang sambil meminta izin pada orang tua si anak.
Ini penting dilaksanakan,  sebab ini adalah utang orang tua si anak pada leluhur. Begitulah etikanya agar upacara Mapandes membawa keberkahan pada si anak,” pungkas Ida Bagus Wiryanatha.


Most Read

Artikel Terbaru

/