alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Produk Tiap Dinasti, Pis Bolong Jadi Lambang Langit dan Bumi

“Istilah jinah, pis, dan artha selalu dianalogikan dengan uang kepeng. Penggunaan uang kepeng dalam kegiatan upacara masyarakat Bali merupakan suatu bentuk pelaksanaan tata cara upakara yang tertuang dalam lontar-lontar keagamaan,”

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Uang kepeng atau pis bolong di masa lalu difungsikan sebagai alat pembayaran yang sah di Bali. Kendati kini tak lagi sebagai alat pembayaran, namun keberadaan uang kepeng tetap eksis karena merupakan sarana ritual umat Hindu di Bali.

Akademisi STAHN Mpu Kuturan, Singaraja Putu Ariyasa Darmawan mengatakan, secara anatomi uang logam ini berbentuk bulat dengan lubang di tengahnya yang berbentuk segi empat bujur sangkar atau segi empat sama sisi.

Dalam berbagai sumber sejarah, uang kepeng yang beredar di Bali berasal dari negeri Tiongkok dan telah diterbitkan Dinasti Zhou (1027-221 SM). Bentuk bulat itu melambangkan langit atau surga, sedangkan lubang berbentuk segi empat melambangkan bumi.

Konon, konsep bumi dan langit ini kemudian menjadi ideologi negeri Tiongkok yang berpijak pada doktrin Tian Ming (mandat dari langit), yaitu sumber otoritas pemerintahan tertinggi adalah penguasa langit.

Dinasti-dinasti yang berkuasa di Tiongkok selalu menerbitkan uang kepeng yang diberi nama sesuai dengan identitas dinastinya. Uang logam ban-liang adalah uang kepeng yang dibuat oleh Dinasti Qin (baca : Chin) (221-206 SM). Mata uang wu zhu dikeluarkan oleh Dinasti Han yang berkuasa pada 206-220 SM. Mata uang Kai yuan tong bao dikeluarkan oleh Dinasti Tang (618-907 Masehi).

Pada tahun 960-1279 M, Dinasti Song mencetak 137 jenis mata uang logam yang masing-masing diberi tulisan dengan gaya yang berbeda-beda sesuai dengan periode terbitnya.

Dinasti Ming menerbitkan uang kepeng berisi tulisan da zhong dan hong wu (Hartawan, 2011: 16-19). Mata uang dari dinasti Ming ini yang kemudian diekspor secara besar-besaran ke luar negeri, termasuk ke Indonesia.

“Uang kepeng masuk ke Indonesia, khususnya Bali dibawa oleh kaum pedagang Cina. Hal ini memberi sebuah petunjuk bahwa hubungan dagang antara Bali dan Cina telah terjalin sejak dinasti Han,” jelasnya.

Perdagangan ini dimulai dari daerah pelabuhan di Bali utara, seperti Desa Julah dan Manasa yang keduanya di Kabupaten Buleleng bagian timur serta di Bali selatan, seperti Banjar Belanjong, Desa Sanur, Denpasar.

Melalui daerah pelabuhan, perdagangan diperluas sampai memasuki desa-desa di Bali, seperti Renon di Denpasar. Sementara itu, perdagangan di Bali utara masuk ke pedalaman, yaitu Desa Sukawana di Kintamani, Bangli.

Pada masa Bali kuno abad ke-8 sampai abad ke-14 masehi, uang kepeng di Bali berfungsi sebagai alat tukar. Sebelum datangnya uang kepeng ke Bali, masyarakat Bali prasejarah melakukan transaksi perdagangan melalui sistem barter yaitu sistem perdagangan dengan cara bertukar barang dengan barang

Uang kepeng yang pernah beredar di Bali, selain berasal dari Tiongkok, juga berasal dari Jepang, dan juga merupakan uang asli Nusantara. Jenis pis bolong tersebut yakni pis gebogan, pis jarring, pis lumrah, pis krinyah, pis koci, pis lembang, dan pis wadhon, “Mesikpun tidak lagi menjadi alat pembayaran, namun, uang kepeng terus beredar dalam kehidupan masyarakat Bali sampai sekarang,” paparnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

“Istilah jinah, pis, dan artha selalu dianalogikan dengan uang kepeng. Penggunaan uang kepeng dalam kegiatan upacara masyarakat Bali merupakan suatu bentuk pelaksanaan tata cara upakara yang tertuang dalam lontar-lontar keagamaan,”

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Uang kepeng atau pis bolong di masa lalu difungsikan sebagai alat pembayaran yang sah di Bali. Kendati kini tak lagi sebagai alat pembayaran, namun keberadaan uang kepeng tetap eksis karena merupakan sarana ritual umat Hindu di Bali.

Akademisi STAHN Mpu Kuturan, Singaraja Putu Ariyasa Darmawan mengatakan, secara anatomi uang logam ini berbentuk bulat dengan lubang di tengahnya yang berbentuk segi empat bujur sangkar atau segi empat sama sisi.

Dalam berbagai sumber sejarah, uang kepeng yang beredar di Bali berasal dari negeri Tiongkok dan telah diterbitkan Dinasti Zhou (1027-221 SM). Bentuk bulat itu melambangkan langit atau surga, sedangkan lubang berbentuk segi empat melambangkan bumi.

Konon, konsep bumi dan langit ini kemudian menjadi ideologi negeri Tiongkok yang berpijak pada doktrin Tian Ming (mandat dari langit), yaitu sumber otoritas pemerintahan tertinggi adalah penguasa langit.

Dinasti-dinasti yang berkuasa di Tiongkok selalu menerbitkan uang kepeng yang diberi nama sesuai dengan identitas dinastinya. Uang logam ban-liang adalah uang kepeng yang dibuat oleh Dinasti Qin (baca : Chin) (221-206 SM). Mata uang wu zhu dikeluarkan oleh Dinasti Han yang berkuasa pada 206-220 SM. Mata uang Kai yuan tong bao dikeluarkan oleh Dinasti Tang (618-907 Masehi).

Pada tahun 960-1279 M, Dinasti Song mencetak 137 jenis mata uang logam yang masing-masing diberi tulisan dengan gaya yang berbeda-beda sesuai dengan periode terbitnya.

Dinasti Ming menerbitkan uang kepeng berisi tulisan da zhong dan hong wu (Hartawan, 2011: 16-19). Mata uang dari dinasti Ming ini yang kemudian diekspor secara besar-besaran ke luar negeri, termasuk ke Indonesia.

“Uang kepeng masuk ke Indonesia, khususnya Bali dibawa oleh kaum pedagang Cina. Hal ini memberi sebuah petunjuk bahwa hubungan dagang antara Bali dan Cina telah terjalin sejak dinasti Han,” jelasnya.

Perdagangan ini dimulai dari daerah pelabuhan di Bali utara, seperti Desa Julah dan Manasa yang keduanya di Kabupaten Buleleng bagian timur serta di Bali selatan, seperti Banjar Belanjong, Desa Sanur, Denpasar.

Melalui daerah pelabuhan, perdagangan diperluas sampai memasuki desa-desa di Bali, seperti Renon di Denpasar. Sementara itu, perdagangan di Bali utara masuk ke pedalaman, yaitu Desa Sukawana di Kintamani, Bangli.

Pada masa Bali kuno abad ke-8 sampai abad ke-14 masehi, uang kepeng di Bali berfungsi sebagai alat tukar. Sebelum datangnya uang kepeng ke Bali, masyarakat Bali prasejarah melakukan transaksi perdagangan melalui sistem barter yaitu sistem perdagangan dengan cara bertukar barang dengan barang

Uang kepeng yang pernah beredar di Bali, selain berasal dari Tiongkok, juga berasal dari Jepang, dan juga merupakan uang asli Nusantara. Jenis pis bolong tersebut yakni pis gebogan, pis jarring, pis lumrah, pis krinyah, pis koci, pis lembang, dan pis wadhon, “Mesikpun tidak lagi menjadi alat pembayaran, namun, uang kepeng terus beredar dalam kehidupan masyarakat Bali sampai sekarang,” paparnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/