alexametrics
29.8 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Protokol Penguburan Korban Wabah

Filolog, Sugi Lanus menyebutkan jika merujuk dalam Lontar Widhi Sastra Sang Hyang Swamandala berisi protokol penguburan korban wabah. Disebutkan, jika wabah menimbulkan korban banyak, maka warga desa diminta langsung menguburkan mayat tanpa perlu upakara yang serupa dengan situasi normal.

“Tidak boleh ada pengabenan (aywa winĕh anyĕkĕh sawa),” jelasnya.

Apapun golongannya (nistha madya uttama wangsa), semua dikubur (pĕndĕmĕn juga swang-swang, aywa mrĕteka wangke). Hanya sulinggih yang tidak boleh dikubur. Namun ngaben sangat sederhana, tidak boleh lama ditempatkan di rumah (aywa suwe ring grĕha).

“Mwah tĕkaning gĕring kameranan, rebah sang agĕring mati makuweh sadesa-desa, aywa mrĕteka wangke, pĕndĕm juga, sawangsa nista madya utama, yadyan pamongmong widhi, yan nora masurudayu, kapatak siwadwara nya de sang pandhita brahmana, dudu amangku widhi uttama, wenang pĕndĕm juga, ne tan wĕnang pĕndĕm sang brahmana pandhita, mangkana ling Bhatara Putrajaya jumĕnĕng ring Basukih,… mangkana kajaring sastra, pakarya sira Mpu Kuturan, jumĕnĕng ring Maospahit.”

Dalam Lontar Yama Purwana Tattwa menyebutkan masyarakat boleh melakukan penguburan langsung tanpa upakara jika terjadi situasi:

“… diserang musuh, musibah penyakit, dan yang lainnya yang menyebabkan masyarakat kacau. Pelaksanaan penguburan tidak menghaturkan upakara pejati sebagaimana situasi normal…Orang yang mati tersebut sama dengan orang yang mati tidak wajar, antara lain mati salah mati; mati di sawah, mati tenggelam di sungai, serta mati karena penyakit lepra, semuanya masing-masing terikat oleh batas waktunya. Bila belum cukup batas waktunya untuk orang yang mati tidak wajar, itu tidak boleh diupacarai. Apabila diupacarai akan menimbulkan kekeringan di muka bumi, para dewa akan meninggalkan tempat suci….”

“Lontar ini selanjutnya menyebutkan orang yang meninggal karena lepra harus langsung dikubur dan baru boleh diupakarai setelah 25 tahun,” pungkasnya. (habis)


Filolog, Sugi Lanus menyebutkan jika merujuk dalam Lontar Widhi Sastra Sang Hyang Swamandala berisi protokol penguburan korban wabah. Disebutkan, jika wabah menimbulkan korban banyak, maka warga desa diminta langsung menguburkan mayat tanpa perlu upakara yang serupa dengan situasi normal.

“Tidak boleh ada pengabenan (aywa winĕh anyĕkĕh sawa),” jelasnya.

Apapun golongannya (nistha madya uttama wangsa), semua dikubur (pĕndĕmĕn juga swang-swang, aywa mrĕteka wangke). Hanya sulinggih yang tidak boleh dikubur. Namun ngaben sangat sederhana, tidak boleh lama ditempatkan di rumah (aywa suwe ring grĕha).

“Mwah tĕkaning gĕring kameranan, rebah sang agĕring mati makuweh sadesa-desa, aywa mrĕteka wangke, pĕndĕm juga, sawangsa nista madya utama, yadyan pamongmong widhi, yan nora masurudayu, kapatak siwadwara nya de sang pandhita brahmana, dudu amangku widhi uttama, wenang pĕndĕm juga, ne tan wĕnang pĕndĕm sang brahmana pandhita, mangkana ling Bhatara Putrajaya jumĕnĕng ring Basukih,… mangkana kajaring sastra, pakarya sira Mpu Kuturan, jumĕnĕng ring Maospahit.”

Dalam Lontar Yama Purwana Tattwa menyebutkan masyarakat boleh melakukan penguburan langsung tanpa upakara jika terjadi situasi:

“… diserang musuh, musibah penyakit, dan yang lainnya yang menyebabkan masyarakat kacau. Pelaksanaan penguburan tidak menghaturkan upakara pejati sebagaimana situasi normal…Orang yang mati tersebut sama dengan orang yang mati tidak wajar, antara lain mati salah mati; mati di sawah, mati tenggelam di sungai, serta mati karena penyakit lepra, semuanya masing-masing terikat oleh batas waktunya. Bila belum cukup batas waktunya untuk orang yang mati tidak wajar, itu tidak boleh diupacarai. Apabila diupacarai akan menimbulkan kekeringan di muka bumi, para dewa akan meninggalkan tempat suci….”

“Lontar ini selanjutnya menyebutkan orang yang meninggal karena lepra harus langsung dikubur dan baru boleh diupakarai setelah 25 tahun,” pungkasnya. (habis)


Most Read

Artikel Terbaru

/