alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Rahinan Purnama di Kubutambahan Dilaksanakan Sehari Setelah Bulian

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Setiap umat hindu akan selalu melaksanakan yang namanya yadnya. Biasanya rahinan atau hari suci yang dilakukan umat hindu akan bertepatan dengan hari yang sudah ditetapkan. Namun berbeda dengan desa Kubutambahan. Perayaan hari suci tertentu dilaksanaka sehari setelah dilaksanakan di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan. Hal itu pun diceritakan dalam Babad Pasek, yang dituturkan oleh Kepala Desa Kubutambahan, Gede Pariadnyana.

Dikatakan, di Kubutambahan setiap hari raya Purnamaakan dilakukan setelah upacara yadnya dilakukan oleh masyarakat di desa Bulian. “Biasanya kalau kami di sini, Purnamanya itu setelah desa Bulian. Kalau sekarang hari raya purnama, maka sekarang yang bersembahyang atau yang beryadnya adalah masyarakat Bulian. Besoknya baru kami di Kubutambahan. Itu uniknya kami di sini,” kata Pariadnyana, Minggu (29/8) siang.

Selain itu, pelaksanaan Purnama lainnya juga dilaksanakan secara bergiliran. Seperti Purnama Kapat dan Purnama Kedasa. “Kami giliran. Kalau upacara ngapat (Purnama Kapat) di desa Bulian piodalannya ageng (besar) kami di Kubutambahan alit (kecil). Begitu juga sebaliknya. Dan tetap kami laksanakan besoknya,” terangnya.

Hal tersebut telah dilakukan sejak berpuluh-puluh tahun silam. Dan tetap dilakukan hingga kini. Sebab, hal itu berdasarkan tutur dari Babad Pasek, serta untuk menghormati Desa Bulian yang merupakan desa tua sebelum adanya Kubutambahan. “Dulu Kubutambahan ini adalah desa Bulian. Sebelum jadi desa Kubutambahan wilayahnya adalah milik Bulian. Jadi Bulian itu luas dulu. Saya juga tidak tahu ini sejak kapan. Yang jelas berdasarkan tutur tetua dan Babad Pasek, ini dilakukan untuk menghormati Bulian yang lebih dulu ada ketimbang dengan desa Kubutambahan,” jelasnya.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Setiap umat hindu akan selalu melaksanakan yang namanya yadnya. Biasanya rahinan atau hari suci yang dilakukan umat hindu akan bertepatan dengan hari yang sudah ditetapkan. Namun berbeda dengan desa Kubutambahan. Perayaan hari suci tertentu dilaksanaka sehari setelah dilaksanakan di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan. Hal itu pun diceritakan dalam Babad Pasek, yang dituturkan oleh Kepala Desa Kubutambahan, Gede Pariadnyana.

Dikatakan, di Kubutambahan setiap hari raya Purnamaakan dilakukan setelah upacara yadnya dilakukan oleh masyarakat di desa Bulian. “Biasanya kalau kami di sini, Purnamanya itu setelah desa Bulian. Kalau sekarang hari raya purnama, maka sekarang yang bersembahyang atau yang beryadnya adalah masyarakat Bulian. Besoknya baru kami di Kubutambahan. Itu uniknya kami di sini,” kata Pariadnyana, Minggu (29/8) siang.

Selain itu, pelaksanaan Purnama lainnya juga dilaksanakan secara bergiliran. Seperti Purnama Kapat dan Purnama Kedasa. “Kami giliran. Kalau upacara ngapat (Purnama Kapat) di desa Bulian piodalannya ageng (besar) kami di Kubutambahan alit (kecil). Begitu juga sebaliknya. Dan tetap kami laksanakan besoknya,” terangnya.

Hal tersebut telah dilakukan sejak berpuluh-puluh tahun silam. Dan tetap dilakukan hingga kini. Sebab, hal itu berdasarkan tutur dari Babad Pasek, serta untuk menghormati Desa Bulian yang merupakan desa tua sebelum adanya Kubutambahan. “Dulu Kubutambahan ini adalah desa Bulian. Sebelum jadi desa Kubutambahan wilayahnya adalah milik Bulian. Jadi Bulian itu luas dulu. Saya juga tidak tahu ini sejak kapan. Yang jelas berdasarkan tutur tetua dan Babad Pasek, ini dilakukan untuk menghormati Bulian yang lebih dulu ada ketimbang dengan desa Kubutambahan,” jelasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/