alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, January 29, 2022

Balian Tidak Boleh Patok Sesari

Pengobatan alternatif di Bali masih mendapat tempat di hati masyarakat dengan beragam pertimbangan. Selain biaya yang terjangkau jenis penyakit dan juga obat yang diberikan juga sering menyembuhkan keluhan penyakit pasien. Namun, yang menarik, dalam Lontar Budha Kecapi disebutkan jika Balian tak boleh mematok sesari yang justru bisa memberatkan pasien.

Dosen Teologi Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Wayan Titra Gunawijaya, S.Fil.H, M.Ag mengatakan dalam Lontar Budha Kecapi menguraikan tentang hakikat pengobatan usada. Utamanya dari dari proses diagnosa hingga pengobatan. Diulas juga disiplin seorang balian pengusada.

Menariknya, seorang Balian tidak diperkenankan mematok sesari dalam melakukan pengobatan kepada pasiennya. Pengobatan dilaksanakan dengan tulus demi kesembuhan pasien. Dalam melakukan suatu pemeriksaan dan mendiagnosa penyakit, Balian menyimpulkan berdasarkan hasil wawancara, hasil pemeriksaan seperti pemeriksaan fisik seperti melihat aura tubuh, sinar mata, menggunakan kekuatan dasa aksara, chakra, kanda pat dan tenung.

“Balian kapican, yang menjadi alat pemeriksaan adalah benda bertuah yang diperoleh sebagai pica. Selain dari pica cara pengobatan oleh seorang Balian adalah dengan menggunakan mantra memohon kepada Ista Dewata untuk menyembuhkan segala jenis penyakit yang diderita pasien,” jelasnya.

Sistem pengobatan juga dijelaskan dalam Lontar Bodha Kacapi, sesuai dengan kutipan berikut: wnang sahananing lara kabeh, maka ngaran hyang sangkul putih, wnang anambanin lara kabeh, hyang tiga padha kasisyanin, ida bhàtara bràhma angadakang gringe kabeh, kasisyanin olih i bhùtha kala dngên, mwang pamala-pamali, mwah ki bhùtha setan, i bhùtha êjim, i bhùtha licin, i bhùtha kakawah, i bhùtha sliwah, i bhùtha ari-ari, i bhùtha rùdhira, i bhùtha êmbaêmba, ika maYoga sami, mangadakang salwiring gring, saking paYogan bhàtara bràhma, marmmaning hana lara kabeh, ring jagat ikang janma. Dadya maYoga ta bhàtara wiûóu, ngawijilang punang tamba, mijil saking sanghyang sùkûma dhana wiúeûa, saking ungsilan, pita warnnan ida, bhàtara wiûóu iki swaran ida, Ung Ung,

Baca Juga :  Megandu, Permainan Tradisi Masyarakat Agraris

Terjemahan: Dapat menyembuhkan segala jenis penyakit, ia bernama Hyang Sangkul Putih, bisa mengobati segala penyakit, Hyang Tiga pada menjadi gurunya. Bhatara Brahma mengadakan semua penyakit, dijadikan guru oleh Bhuta Kala Dengen, Pamala-pamali, Ki Bhuta Setan, I Bhuta Jin, I Bhuta Licin, I Bhuta Kakawah, I Bhuta Sliwah, I Bhuta Ariari, I Bhuta Rudira, I Bhuta Emba-emba, mereka semua beryoga menciptakan berbagai penyakit, berkat Yoga Bhatara Brahma sehingga muncul berbagai penyakit di dunia manusia. Lalu Bhatara Wisnu beryoga menciptakan obat,

Menurutnya, dari cuplikan menunjukkan bahwa Budha Kecapi merupakan salah satu teks rujukan dalam dunia usada di Bali. Sehingga sering dijadikan tuntunan oleh para Balian Pengusada di Bali.

Dikatakan Titra, sistem pengobatan suatu penyakit dalam usada terdiri atas berbagai pendekatan. Meliputi pengobatan tradisional (tamba) seperti loloh, boreh dan minyak/lengis yang didasarkan atas Lontar taru pramana; penggunaan banten-bantenan yang disesuaikan dengan tenung dan Lontar; dan penggunaan rerajahan aksara suci.

“Secara tidak langsung keberadaan Balian berfungsi meningkatkan sraddha bhakti masyarakat kepada Hyang Widhi Wasa, juga sebagai peningkatan kesehatan atau pengobatan dengan usada,” paparnya. (bersambung) 

Pengobatan alternatif di Bali masih mendapat tempat di hati masyarakat dengan beragam pertimbangan. Selain biaya yang terjangkau jenis penyakit dan juga obat yang diberikan juga sering menyembuhkan keluhan penyakit pasien. Namun, yang menarik, dalam Lontar Budha Kecapi disebutkan jika Balian tak boleh mematok sesari yang justru bisa memberatkan pasien.

Dosen Teologi Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Wayan Titra Gunawijaya, S.Fil.H, M.Ag mengatakan dalam Lontar Budha Kecapi menguraikan tentang hakikat pengobatan usada. Utamanya dari dari proses diagnosa hingga pengobatan. Diulas juga disiplin seorang balian pengusada.

Menariknya, seorang Balian tidak diperkenankan mematok sesari dalam melakukan pengobatan kepada pasiennya. Pengobatan dilaksanakan dengan tulus demi kesembuhan pasien. Dalam melakukan suatu pemeriksaan dan mendiagnosa penyakit, Balian menyimpulkan berdasarkan hasil wawancara, hasil pemeriksaan seperti pemeriksaan fisik seperti melihat aura tubuh, sinar mata, menggunakan kekuatan dasa aksara, chakra, kanda pat dan tenung.

“Balian kapican, yang menjadi alat pemeriksaan adalah benda bertuah yang diperoleh sebagai pica. Selain dari pica cara pengobatan oleh seorang Balian adalah dengan menggunakan mantra memohon kepada Ista Dewata untuk menyembuhkan segala jenis penyakit yang diderita pasien,” jelasnya.

Sistem pengobatan juga dijelaskan dalam Lontar Bodha Kacapi, sesuai dengan kutipan berikut: wnang sahananing lara kabeh, maka ngaran hyang sangkul putih, wnang anambanin lara kabeh, hyang tiga padha kasisyanin, ida bhàtara bràhma angadakang gringe kabeh, kasisyanin olih i bhùtha kala dngên, mwang pamala-pamali, mwah ki bhùtha setan, i bhùtha êjim, i bhùtha licin, i bhùtha kakawah, i bhùtha sliwah, i bhùtha ari-ari, i bhùtha rùdhira, i bhùtha êmbaêmba, ika maYoga sami, mangadakang salwiring gring, saking paYogan bhàtara bràhma, marmmaning hana lara kabeh, ring jagat ikang janma. Dadya maYoga ta bhàtara wiûóu, ngawijilang punang tamba, mijil saking sanghyang sùkûma dhana wiúeûa, saking ungsilan, pita warnnan ida, bhàtara wiûóu iki swaran ida, Ung Ung,

Baca Juga :  Di Dunia Politik, Balian Bernama Penasehat Spiritual

Terjemahan: Dapat menyembuhkan segala jenis penyakit, ia bernama Hyang Sangkul Putih, bisa mengobati segala penyakit, Hyang Tiga pada menjadi gurunya. Bhatara Brahma mengadakan semua penyakit, dijadikan guru oleh Bhuta Kala Dengen, Pamala-pamali, Ki Bhuta Setan, I Bhuta Jin, I Bhuta Licin, I Bhuta Kakawah, I Bhuta Sliwah, I Bhuta Ariari, I Bhuta Rudira, I Bhuta Emba-emba, mereka semua beryoga menciptakan berbagai penyakit, berkat Yoga Bhatara Brahma sehingga muncul berbagai penyakit di dunia manusia. Lalu Bhatara Wisnu beryoga menciptakan obat,

Menurutnya, dari cuplikan menunjukkan bahwa Budha Kecapi merupakan salah satu teks rujukan dalam dunia usada di Bali. Sehingga sering dijadikan tuntunan oleh para Balian Pengusada di Bali.

Dikatakan Titra, sistem pengobatan suatu penyakit dalam usada terdiri atas berbagai pendekatan. Meliputi pengobatan tradisional (tamba) seperti loloh, boreh dan minyak/lengis yang didasarkan atas Lontar taru pramana; penggunaan banten-bantenan yang disesuaikan dengan tenung dan Lontar; dan penggunaan rerajahan aksara suci.

“Secara tidak langsung keberadaan Balian berfungsi meningkatkan sraddha bhakti masyarakat kepada Hyang Widhi Wasa, juga sebagai peningkatan kesehatan atau pengobatan dengan usada,” paparnya. (bersambung) 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru