alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Mengenal Yoga Darsana dalam Usada Bali

Dalam Lontar Budha Kecapi, saat melayani pasien, Balian Pengusada wajib memahami Pranayama. Dimana, Pranayama merupakan ilmu tentang cara pengendalian nafas melalui pengaliran prana. Pranayama mampu membawa pikiran dalam keadaan tenang (laghawa) dan mudah untuk berkonsentrasi.

Kondisi nafas dalam kehidupan secara normal yaitu puraka (nafas masuk), rechaka (nafas keluar) dan kumbhaka (menahan nafas). Kekuatan pranayama sangat luar biasa apabila dapat diaplikasikan dengan baik, benar, dan tepat.

Sebelum melakukan pengobatan kepada orang lain setelah duduk di gedong/tempat pengobatan melaksanakan pengaturan nafas terlebih dahulu untuk membangkitkan kundalini sehingga besik Balian lebih kuat dan tidak juga terlepas dari tuntunan betara hyang guru.

Balian Pengusada merupakan sebuah kedudukan suci yang telah ditingkatkan tarap hidupnya dengan melaksanakan upacara pawintenan Balian di sanggah merajan. “Secara tidak langsung Balian telah memiliki surat rekomendasi untuk mengadakan komunikasi dengan Bhtara hyang guru melalu taksunya,” imbuhnya.

Selain memahami pranayama, seorang Balian dalam Lontar Budha Kecapi juga wajib melakukan Semadhi. Semadhi ini merupakan pemusatan pikiran tertinggi yang dilaksanakan oleh Balian Pengusada.

Dengan kemungkinan memulihkan kondisi yang telah turun karena mengobati pasien ataupun meningkatkan pengentahuan suci, dan menenangkan gelombang pikiran sehingga dapat menyatu dengan alam (bhuana agung).

“Yoga memiliki peranan sangat penting dalam menunjang Balian Pengusada baik dalam proses pendapatan ilmu ataupun pengendalian diri sehingga tidak terlepas dari swadharma seorang Balian,” katanya.

Menariknya, dalam Lontar Budha Kecapi memaparkan bahwa seorang balian tidak diperkenankan untuk menerima upah atau imbalan melebihi standar daksina. Dimana di dalam daksina tersebut sudah ada beras, kelapa, telur dan sesari uang kepeng. Akan tetapi seiring perkembangan zaman modern Balian ternyata juga mengalami komodifiksi terkait kepada penggunaan sesari.

“Kadang pasien juga sangat iklas memberikan sesari kepada Balian, terlebih karena merasa sudah dibantu untuk disembuhkan,” pungkasnya. (habis)


Dalam Lontar Budha Kecapi, saat melayani pasien, Balian Pengusada wajib memahami Pranayama. Dimana, Pranayama merupakan ilmu tentang cara pengendalian nafas melalui pengaliran prana. Pranayama mampu membawa pikiran dalam keadaan tenang (laghawa) dan mudah untuk berkonsentrasi.

Kondisi nafas dalam kehidupan secara normal yaitu puraka (nafas masuk), rechaka (nafas keluar) dan kumbhaka (menahan nafas). Kekuatan pranayama sangat luar biasa apabila dapat diaplikasikan dengan baik, benar, dan tepat.

Sebelum melakukan pengobatan kepada orang lain setelah duduk di gedong/tempat pengobatan melaksanakan pengaturan nafas terlebih dahulu untuk membangkitkan kundalini sehingga besik Balian lebih kuat dan tidak juga terlepas dari tuntunan betara hyang guru.

Balian Pengusada merupakan sebuah kedudukan suci yang telah ditingkatkan tarap hidupnya dengan melaksanakan upacara pawintenan Balian di sanggah merajan. “Secara tidak langsung Balian telah memiliki surat rekomendasi untuk mengadakan komunikasi dengan Bhtara hyang guru melalu taksunya,” imbuhnya.

Selain memahami pranayama, seorang Balian dalam Lontar Budha Kecapi juga wajib melakukan Semadhi. Semadhi ini merupakan pemusatan pikiran tertinggi yang dilaksanakan oleh Balian Pengusada.

Dengan kemungkinan memulihkan kondisi yang telah turun karena mengobati pasien ataupun meningkatkan pengentahuan suci, dan menenangkan gelombang pikiran sehingga dapat menyatu dengan alam (bhuana agung).

“Yoga memiliki peranan sangat penting dalam menunjang Balian Pengusada baik dalam proses pendapatan ilmu ataupun pengendalian diri sehingga tidak terlepas dari swadharma seorang Balian,” katanya.

Menariknya, dalam Lontar Budha Kecapi memaparkan bahwa seorang balian tidak diperkenankan untuk menerima upah atau imbalan melebihi standar daksina. Dimana di dalam daksina tersebut sudah ada beras, kelapa, telur dan sesari uang kepeng. Akan tetapi seiring perkembangan zaman modern Balian ternyata juga mengalami komodifiksi terkait kepada penggunaan sesari.

“Kadang pasien juga sangat iklas memberikan sesari kepada Balian, terlebih karena merasa sudah dibantu untuk disembuhkan,” pungkasnya. (habis)


Most Read

Artikel Terbaru

/