alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Pantang Pakai Perhiasan dan Bersuara Saat Masuk Pura

TIDAK hanya keberadaan pura dan palinggihnya yang unik. Pura Dalem Pingit Desa Adat Pilan, ternyata juga memiliki pantangan yang sama sekali tidak boleh dilanggar. Pantangan itu berupa tidak boleh bersuara saat masuk pura, kemudian pantangan untuk tidak memakai perhiasan.

“Jadi pantang ada keramaian di pura ini (Pura Dalem Pingit). Kalau masuk ke pura, juga tidak boleh bersuara, apalagi sampai berisik. Selain itu, tidak boleh menggunakan perhiasan emas,” ujarnya.

Tak hanya itu, ketika melakukan rehab palinggih di Pura Dalem Pingit, juga tidak boleh lebih dari satu hari. “Artinya, mulai dari membuat palinggih sampai upacara harus selesai satu hari,” imbuhnya.

Diterangkan olehnya, sejatinya pada jaman dahulu, hutan kawasan Dalem Pingit ini sangat disakralkan. Bahkan krama tidak berani mencari sesuatu apapun di tempat tersebut. “Jangankan menebang pohon. Memetik selembar daun pun tak berani. Makanya hutan kawasan ini tetap rimbun,” sambungnya.

Diceritakan, suatu ketika seorang prajuru pernah mengeluarkan kebijakan menebang pohon di hutan tersebut, lalu kayunya dijual. Akhirnya prajuru itu sakit, bahkan sampai meninggal. Gejala sakit pun tak ditemukan. “Lehernya bengkak, setelah dibawa ke dokter dan dioperasi, tak ditemukan gejala medis,” sambungnya.

Lantas mengenai keberadaan KRG oleh Pemkab Gianyar yang bekerjasama dengan Desa Adat Pilan. Disebutkan olehnya, hal itu mungkin sudah mendapat restu dari sesuhunan. “Semak-semak dibersihkan, ditata. Hanya saja belum ada pohon besar yang ditebang. Mungkin sesuhunan sudah merestui. (Karena) Belum pernah ada kejadian, apalagi sampai ada warga yang celaka,” lanjutnya.

Terlebih untuk hutan di sekitar Pura Dalem Pingit, tidak ada yang berani menebang. Karenanya, luas hutan sekitar 2 are di sekitar Pura Dalem Pingit masih sangat utuh. Seperti keberadaan pohon besar yang dililit batang rotan.

Maka dari itu, Jero Kubayan Dani mengingatkan, agar apapun aktifitas yang dilakukan di areal KRG, harus selalu memohon restu dan bimbingan sesuhunan, sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. (habis)


TIDAK hanya keberadaan pura dan palinggihnya yang unik. Pura Dalem Pingit Desa Adat Pilan, ternyata juga memiliki pantangan yang sama sekali tidak boleh dilanggar. Pantangan itu berupa tidak boleh bersuara saat masuk pura, kemudian pantangan untuk tidak memakai perhiasan.

“Jadi pantang ada keramaian di pura ini (Pura Dalem Pingit). Kalau masuk ke pura, juga tidak boleh bersuara, apalagi sampai berisik. Selain itu, tidak boleh menggunakan perhiasan emas,” ujarnya.

Tak hanya itu, ketika melakukan rehab palinggih di Pura Dalem Pingit, juga tidak boleh lebih dari satu hari. “Artinya, mulai dari membuat palinggih sampai upacara harus selesai satu hari,” imbuhnya.

Diterangkan olehnya, sejatinya pada jaman dahulu, hutan kawasan Dalem Pingit ini sangat disakralkan. Bahkan krama tidak berani mencari sesuatu apapun di tempat tersebut. “Jangankan menebang pohon. Memetik selembar daun pun tak berani. Makanya hutan kawasan ini tetap rimbun,” sambungnya.

Diceritakan, suatu ketika seorang prajuru pernah mengeluarkan kebijakan menebang pohon di hutan tersebut, lalu kayunya dijual. Akhirnya prajuru itu sakit, bahkan sampai meninggal. Gejala sakit pun tak ditemukan. “Lehernya bengkak, setelah dibawa ke dokter dan dioperasi, tak ditemukan gejala medis,” sambungnya.

Lantas mengenai keberadaan KRG oleh Pemkab Gianyar yang bekerjasama dengan Desa Adat Pilan. Disebutkan olehnya, hal itu mungkin sudah mendapat restu dari sesuhunan. “Semak-semak dibersihkan, ditata. Hanya saja belum ada pohon besar yang ditebang. Mungkin sesuhunan sudah merestui. (Karena) Belum pernah ada kejadian, apalagi sampai ada warga yang celaka,” lanjutnya.

Terlebih untuk hutan di sekitar Pura Dalem Pingit, tidak ada yang berani menebang. Karenanya, luas hutan sekitar 2 are di sekitar Pura Dalem Pingit masih sangat utuh. Seperti keberadaan pohon besar yang dililit batang rotan.

Maka dari itu, Jero Kubayan Dani mengingatkan, agar apapun aktifitas yang dilakukan di areal KRG, harus selalu memohon restu dan bimbingan sesuhunan, sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. (habis)


Most Read

Artikel Terbaru

/