Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Kembar Madura, Sanur; Jejak Sejarah Arya Kuda Pinolih di Bali

I Putu Suyatra • Minggu, 16 Juli 2017 | 21:34 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Jika melewati Jalan Batur Sari, Sanur Kauh, Denpasar Selatan,  maka pandangan akan tertarik pada salah satu kuburan yang terletak di sebelah barat jalan. Nama kuburan tersebut adalah Setra Medura, Desa Pakraman Intaran. Apakah ada kaitannya dengan Madura, Jawa Timur?


Penasaran terhadap hal tersebut, Bali Express (Jawa Pos Group)mencoba mencari informasi dengan langsung menemui salah satu pamangku yang kebetulan sedang berada di Pura Kahyangan, yang letaknya bersebelahan dengan setra (makam) tersebut.


Ketika ditemui, jro mangku tidak bersedia berbicara banyak. Beliau langsung mengarahkan Bali Express untuk menemui jro mangku di Pura Kembar Medura yang letaknya sekitar 50 meter di sebelah utara Setra Medura. “Maaf, saya tidak berani bicara banyak. Soalnya yang lebih tahu tentang sejarah setra ini adalah jro mangku di Pura Kembar Madura. Silakan bertemu langsung dengan beliau,”  ujar jro mangku. Tanpa menunggu lama, Bali Express pun tancap gas ke lokasi yang dimaksud.


Ternyata, letak Pura Kembar Medura tidak terlalu kelihatan dari Jalan Batur Sari. Meskipun letaknya di pinggir jalan sebelah barat, untuk menuju ke pamedalan (gerbang) pura, harus masuk ke gang III. Gang tersebut pun hanya cukup dilalui sepeda motor. Setelah masuk sekitar 25 meter, Bali Express pun tiba di pamedalan pura. Di plang bercat merah tertulis jelas Pura Kembar Madura, Desa Pakraman Intaran. Desa Pakraman Intaran wilayahnya cukup luas, yakni terdiri dari 19 banjar. Oleh karena itu, tidak heran ada dua desa yang termasuk dalam wilayahnya, yakni Desa Sanur Kauh dan Kelurahan Sanur. Khusus Pura Kembar Madura atau yang dalam sebutan orang Bali, Medura, masuk dalam wilayah Banjar Medura, Desa Sanur Kauh.


Saat ditemui, jro mangku kebetulan sedang bersih-bersih bersama beberapa orang pangayah. Jro Mangku Segara--demikian panggilannya---,bersedia memaparkan keberadaan Pura Kembar Madura tersebut serta kaitannya dengan Setra Medura. Jro mangku berusia 58 tahun tersebut menuturkan bahwa keberadaan soroh atau clan Arya Madura di Bali berkaitan dengan sejarah leluhurnya dari Madura, Sri Arya Kuda Pinolih yang juga disebut Arya Kuda Panoleh atau Joko Tole, keturunan Arya Wiraraja.


Saat prosesi pengangkatannya menjadi Raja Sumenep, Arya Kuda Pinolih yang kemudian bergelar  Pangeran Saccadiningrat II mengundang raja-raja dari beberapa daerah di nusantara. Salah satunya adalah Raja Bali, yakni Dalem Ketut Ngulesir. Saat Dalem kembali pulang ke Bali, Arya Kuda Pinolih mengantar bersama sejumlah pengiringnya. “Setibanya di sekitar Pantai Canggu, tiba-tiba keris Dalem terjatuh,” ujarnya.


Arya Kuda Pinolih yang terkenal budi luhurnya pun membantu mencari keris tersebut dibantu oleh pengiringnya. Setelah melakukan penelusuran, akhirnya keris tersebut ditemukan. “Akhirnya keris itu ditemukan di Pantai Karang, Sanur,” ungkap Jro mangku.  Untuk mengucapkan rasa syukur, dibuatlah sebuah Pura Tengahing Segara di kawasan Pantai Karang. Pura tersebut cukup unik karena terletak di laut dan baru terlihat ketika air surut. Setelah pura tersebut dibuat, dibuatkan lagi palinggih yang sekarang menjadi Pura Kembar agar lebih mudah para warganya melakukan persembahyangan.


Berdasarkan hal tersebut, pangempon Pura Kembar Madura adalah keturunan soroh Arya Madura. Diperkirakan oleh jro mangku, jumlah pangempon saat ini mencapai 400 Kepala Keluarga (KK) dengan sekitar 35 KK di wilayah Desa Pakraman Intaran dan tersebar di berbagai daerah di Bali, di antaranya Sulang Klungkung, Menanga Buyan, Tulikup dan Sukawati Gianyar, Banjar Jawa Buleleng, Nusa Dua, dan sebagainya. “Kira-kira seluruh pangempon ada 400 KK. Jadi lumayan banyak,” terangnya.


Para pangempon akan berkumpul saat pujawali di Pura Tengahing Segara pada rahina Purnama Kapat dan pujawali Pura Kembar Madura yang jatuh pada Budha (Rabu) Umanis Tambir.


Ketika ditanya asal mula nama Pura Kembar tersebut Jro Mangku Segara yang juga menjadi pamangku di Pura Blanjong, Sanur tersebut mengatakan, berkaitan dengan Ida Bhatara di Gunung Kembar, Karangasem. Gunung Kembar yang dimaksud adalah Lempuyang. “Dulu namanya Gunung Kembar. Kalau karya di sini, selalu nunas tirtha dari sana,” jelasnya.


Sedangkan kaitan dengan Setra Medura yang ada di sebelah selatan Pura Kembar, ia mengatakan bahwa setra tersebut dahulunya adalah kuburan milik leluhurnya. “Jadi pura ini berkaitan dengan Pura Mrajapati Setra Medura. Memang dulunya adalah kuburan dari warga keturunan Arya Madura. Tapi, sekarang sudah diserahkan ke Desa Adat,” tandasnya. Dengan demikian, setra tersebut telah menjadi bagian dari Kahyangan Desa Pakraman Intaran. 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #sejarah pura