BALI EXPRESS, DENPASAR - Belakangan ini banyak orang yang mengaku Ngiring. Setiap orang yang karauhan biasanya langsung divonis Ngiring. Bahkan terkadang orang yang sakit juga dikaitkan dengan Ngiring. Dengan demikian, Ngiring ini menjadi sesuatu yang agak bias karena sedikit-sedikit selalu dikaitkan dengan Ngiring. Seolah-olah setiap orang dengan mudahnya dicap Ngiring. Benarkah demikian?
Ngiring adalah fenomena yang sering dijumpai dalam masyarakat Hindu di Bali. Ngiring berasal dari kata iring. Dalam bahasa Indonesia iring mengandung arti berjalan berturut-turut atau bersama-sama. Ngiring serupa artinya dengan kata mengiringi, yakni turut serta mendampingi atau menyertai. Namun demikian, dalam konteks ini Ngiring menurut orang Bali konotasinya mengarah kepada konteks yang lebih luas, berhubungan dengan memuja dan mematuhi sesuatu yang diiring, khususnya Tuhan, Dewa-dewa atau Bhatara tertentu. Pun yang Ngiring hanya orang-orang tertentu yang dikatakan terpilih. Ada yang ngiring sebagai Tapakan (penari khusus), Balian (Dukun), dan sebagainya.
Menurut Ketut Gede Suatma Yasa alias Guru Mangku Hipno, Ngiring bagi sebagian masyarakat Bali adalah bagian dari kepercayaan. Menurutnya fenomena Ngiring berawal dari zaman dinamisme (kepercayaan terhadap adanya roh-roh tertentu) dan fetipisme (percaya bahwa benda tertentu memiliki kekuatan sakti). Pada zaman tradisional tersebut roh-roh dikatakan mampu diarahkan untuk memberikan pengaruh buruk pada orang lain. “Dari sana sebenarnya gejala Ngiring tersebut sudah muncul dalam ilmu-ilmu supranatural,” mulainya. Menurutnya di zaman itu banyak orang yang mengalihkan sesuatu yang dialaminya sebagai ilusi dan delusi menjadi sesuatu yang dikaitkan dengan nyata. “Apa yang mereka pikirkan ada dalam dunia nyata, padahal belum tentu. Karena dalam konsep ilusi dan delusi jelas diluar ambang batas pemikiran sadar,” ungkapnya.
Meskipun saat ini zaman sudah modern atau positivistik, orang-orang masih menginjakkan salah satu kakinya di zaman tradisional. Dikaitkan dengan pemikiran August Comte Ngiring adalah salah satu keyakinan yang muncul di zaman tradisional. Selanjutnya menurut Ebit Tailer kenapa saat ini fenomena tradisional masih diyakini kebenarannya? Sebenarnya bukan pada masalah meyakini kebenarannya, tapi orang-orang sudah berangkat melepaskan sistem tradisional beralih ke modern. “Jadi sudut pandangnya tidak lagi tradisional. Bagi mereka yang berpikir modern, tentunya Ngiring itu ada tapi tidak banyak dimanfaatkan ketika ia ingin menemukan konsep jawaban yang benar,” ujarnya. “Kalau dulu kita ingin mendapat jawaban yang benar, lebih mengarah ke sana. Karena yang menjawab nantinya bukan orang yang Ngiring, tapi sasuhunan yang diiring,” tambahnya. Tapi menurutnya di zaman modern ini, orang-orang sudah mendapat jawaban dari pertanyaannya berdasarkan sudut pandang kontemplasi. “Jadi dia lebih percaya kepada yang dilihat, didengar, dan dibaca langsung,” lanjutnya.
Bagi Guru Mangku yang menerapkan sistem modern-tradisional, dari sudut pandang metafisika dikatakan bahwa ada yang Ngiring secara benar, karena memiliki alasan yang bermuara positif. “Ngiring yang benar itu biasanya akan didatangi langsung oleh sasuhunan dan mendapatkan pengalaman jiwa kegamaan, sehingga ia betul-betul yakin Ngiring sasuhunan yang rauh pada dirinya sendiri,” ungkapnya. “Dengan demikian Ngiring secara positif adalah mengalami secara langsung bertemu dengan sasuhunan,” imbuhnya.
Kedua, ia mengatakan, ada yang Ngiring karena informasi orang lain. “Ketika anda bangkrut, kesusahan, kesedihan, sakit, biasanya saat tidak mendapat jawaban secara materi, akan dilarikan ke dunia sana. Misalnya melalui mapluasan (menanyakan ke dukun),” ujarnya. “Sehingga cenderung ada keraguan di sana dan akhirnya ada kepasrahan untuk Ngiring,” tambahnya.
Apakah orang tersebut Ngiring secara benar atau tidak? “Tergantung dari mana ia berangkat,” jelas Guru Mangku. Ia menjelaskan bahwa biasanya orang-orang yang Ngiring secara benar akan mendapat pencerahan. Hidupnya akan semakin baik, terutama dari sifat dan karakter, karena orang tersebut mewakili sifat-sifat yang diiringnya. Sedangkan bagi sebagian orang yang Ngiring karena informasi dari orang lain perlu dipertanyakan. Misalnya berdasarkan mapluasan atau orang tersebut ingin jiwanya tenang, karena melarikan kasus-kasus duniawinya. “Kasus-kasus duniawinya dilarikan ke kasus-kasus supranatural dan berharap dengan Ngiring akan selesai masalahnya, itu kan Ngiring pelarian namanya,” ungkapnya.
Secara sederhana, pria kelahiran Buleleng tersebut mengatakan bahwa yang membedakan seseorang Ngiring dengan benar atau meragukan, tergantung dari sifat, sikap, dan kondisi orang itu. “Karena orang Ngiring itu adalah orang yang berperilaku benar, bijaksana, dan dalam hidupnya dipenuhi keindahan, toleransi, kebersamaan, serta persaudaraan,” paparnya. Sementara kalau dilihat di dunia nyata, banyak orang Ngiringang malah perilakunya bertambah buruk. Tapi banyak orang yang menurutnya tidak introspeksi diri atau mulat sarira dan perlahan hidupnya bertambah hancur. Celakanya lagi orang tersebut selalu berpikir bahwa hal itu adalah proses Ngiringang. “Seperti yang dikatakan Svami Vivekananda, apa yang tidak bermanfaat dalam hidup sebaiknya ditinggalkan. Dengan demikian, jika terus mengalami permasalahan, jalan terbaik adalah introspeksi diri,” sarannya.
Berkenaan dengan hal itu, Guru Mangku Hipno mengatakan Ngiring sesungguhnya hal yang baik untuk melengkapi sraddha bhakti kepada Tuhan. “Tapi karena mengalami permasalahan, sebagian orang kemudian menganggap Ngiringang sebagai sebuah beban. Sehingga banyak orang yang menyaksikan hal itu menolak atau minta tempo untuk Ngiring,” jelasnya. Padahal orang Ngiringang itu adalah sifatnya membagi dan memberi, karena diberkati dengan sentuhan kasih sayang Tuhan. Jadi di dalam jiwanya itu ada jiwa-jiwa pemberi sebagaimana yang digiringnya, karena jika orang Ngiring secara benar, maka penuh keberlimpahan, tidak kekurangan apapun. “Tapi ketika masih meminta dan morat-marit, itu perlu dipertanyakan. Saya tidak megatakan itu salah, tapi perlu dipertanyakan apakah sudah Ngiring secara benar,” tegasnya.
Selanjutnya, ada orang yang mengaku Ngiring dan merasa dirinya sakti. Secara psikologi tentunya kejiwaannya perlu dipertanyakan. Tidak menutu kemungkinan orang tersebut sakit secara psikologi, tapi justru merasa dirinya sakti. “Contohnya adalah orang yang berilusi bisa mendengar bisikan dan melihat penampakan. Bagaimana mungkin seseorang yang normal di dunia ini bisa melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang banyak?” jelasnya. Menurutnya orang yang normal adalah melihat sesuatu yang orang lain lihat. Demikian pula yang tidak dilihat oleh orang lain, ia juga tidak melihat. “Nah sekarang benarkah kita melihat sesuatu yang orang laun tidak lihat? Lalu apa yang kita lihat? Bagaimana kita bisa melihat? Darimana kita bisa melihat? Itu yang harus dicari dulu. Apakah memang dasarnya kita sakti atau itu hanya ilusi?” bebernya.
Selanjutnya ketika bisa melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain tersebut, menurutnya perlu dipertanyakan apa manfaat yang bisa diterima. “Kalau manfaatnya negatif, untuk apa kita melihat? Tapi kalau manfaatnya banyak positif, itulah Ngiringang yang sesugguhnya,” jelasnya. “Jadi kalau Ngiringang, apapun yang terjadi, semuanya adalah pelajaran suci yang Tuhan berikan untuk seseorang sehingga orang tersebut lebih baik. Itu kuncinya,” tegasnya.
Berkenaan dengan hal tersebut, saat ditanya apakah Guru Mangku Hipno sebagai penyembuh juga Ngiring, ia tidak menampik. Secara jelas, ia mengakui bahwa dirinya menggunakan konsep tradisional-modern atau holistic-universal. Menurutnya tidak semua sakit dan permasalahan di zaman sekarang mampu diatasi dengan ilmu-ilmu modern, tapi tidak semua juga mampu diatasi dengan ilmu-ilmu tradisional. “Makanya saya menggunakan konsep keduanya. Konsep modern digunakan ketika ada seseorang yang memiliki penyakit dan permasalahan yang berhubungan dengan duniawi,” ujarnya. “Ketika secara duniawi tidak saya temukan jawabannya, maka saya akan cenderung menanyakan kepada sasuhunan yang saya iring,” jelasnya.
Mengenai siapa yang digiringnya, pemilik Brahma Kunta Centre tersebut mengatakan bahwa Bhatara Brahma, Wisnu, dan Iswara. Ia mengatakan alasannya Ngiring Bhatara Brahma, Wisnu, dan Iswara, karena sesungguhnya Beliau adalah Tuhan yang bertugas sebagau maha pencipta, pemelihara, dan pelebur. “Jadi konsep saya Ngiringang di sini bukan minta pawisik kepada Beliau, tapi memohon kepada Bhatara Brahma agar membuka pintu keberhasilan kepada mereka yang belum berhasil, mohon kepada Bhatara Wisnu agar mereka yang sudah sehat dan baik agar tetap dipertahankan, dan memohon kepada Ida Bhatara Iswara agar hambatan dan penyakit pasien dihilangkan,” bebernya.
Dengan demikian, konsep Ngiringang dalam hal ini bukan mengatakan kepada pasien tentang pawisik atau kata-kata Beliau, tapi menundukkan diri kepada Tuhan. “Karena saya sadar Beliaulah penguasa kehidupan, kesuksesan, dan kematian,” terangnya. Berdasarkan hal itu, ia mengatakan bahwa konsepnya Ngiring bukan mendengarkan Bhatara Brahma bicara atau membisiki dirinya. “Bagi saya Beliau bukan pembisik, karena Beliau maha tahu,” ujarnya. “Kata-kata Beliau bisa kita simpulkan dari hati nurani, tidak didengarkan melalui telinga, tapi gemanya bisa ditangkap dari hati nurani,” tambahnya.
Guru Mangku mengak tidak pernah memaksa Tuhan untuk mencabut penyakit pasiennya ketika belum waktunya ia sembuh. “Maka doa pertama saya adalah Ya Tuhan, kalau memang waktunya orang ini sembuh, maka sembuhkan melalui tanganku atas kuasa-Mu. Ya Tuhan, jika belum waktunya sembuh, mohon ringankanlah penderitaan dan bebannya. Ya Tuhan, hamba hanya bisa berserah kepada-Mu, karena segala yang hamba miliki adalah milik-Mu,” ujarnya. Dengan demikian, semua tentang Ngiring itu menurutnya adalah berserah kepada Tuhan.
Selanjutnya, secara sederhana pakar hypnosis tersebut mengatakan bahwa setiap hidup manusia tidak terlepas dari kelahiran, kehidupan, dan kematian. Di dalam hidup, tentunya ada saat-saat mengalami hal baik dan buruk. Oleh karena itu, sebagai manusia, ia menyarakan agar pandai bersyukur. Namun demikian, ia mengatakan, ada tiga kunci untuk mengubah diri menjadi lebih beruntung dan tetap dalam koridor dharma. Pertama menjadi pribadi yang lebih keras, karena siapapun yang tidak bekerja tidak akan mendapatkan hasil. Kedua, berpikir cerdas. “Kemudian satu-satunya penyempurnanya adalah doa. Doa itu isinya adalah memohon kepada Tuhan agar menmbuka jalan kepada Tuhan apa yang kita belum bisa miliki agar bisa kita miliki, mempertahankan sesuatu yang baik, dan menghilangkan sesuatu yang buruk,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra