BALI EXPRESS, DENPASAR - Ngurek adalah atraksi menusuk diri menggunakan senjata keris, dimana para pelakunya dalam keadaan kerasukan. Ngurek berkaitan erat dengan ritual keagamaan, bahkan disejumlah desa adat di Bali tradisi Hindu ini wajib dilangsungkan.
Ngurek bisa disebut juga dengan Ngunying, merupakan wujud bakti seseorang yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
Ngurek termasuk dalam upacara Dewa Yadnya, yakni pengorbanan atau persembahan suci yang tulus ihklas.
"Tuhan Yang Maha Esa menciptakan dunia beserta isinya berdasarkan atas Yadnya. Karenanya, manusia diharapkan dapat memelihara, mengembangkan, dan mengabdikan dirinya kepada Sang Pencipta, yakni Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa)," ujar Dekan Fakultas Ilmu Agama dan Kebudayaan UNHI, DR. I Wayan Subrata kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Lebih lanjut dijelaskan Subrata, Ngurek berasal dari kata ‘urek’ yang berarti lobangi atau tusuk.Jadi, Ngurek dapat diartikan berusaha melobangi atau menusuk bagian tubuh sendiri dengan keris, tombak atau alat lainnya, saat berada dalam kondisi kerasukan.
Karenanya, Ngurek dilakukan dalam kondisi kerasukan atau diluar kesadaran, dimana roh lain yang masuk ke tubuh memberikan kekuatan.
"Hal ini menyebabkan orang yang melakukan Ngurek menjadi kebal, dan ini suatu keunikan sekaligus misteri yang sulit dijelaskan," bebernya.
Tradisi Ngurek tidak diketahui kapan mulai dilakukan.
Namun, tradisi ini sudah terjadi pada zaman kejayaan kerajaan. Saat itu, sang raja ingin membuat pesta yang tujuannya untuk menunjukkan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan sekaligus menyenangkan hati para prajuritnya.
Setelah dilakukan sejumlah upacara, kemudian memasuki tahap hiburan, mulai dari sabung ayam, hingga tari-tarian yang menunjukkan kedigdayaan para prajurit. Dari tradisi ini munculah Tari Ngurek atau Tari Ngunying.
"Ritual Ngurek ini dibahas dalam Lontar Siwa Gama dan Barong Swari," ujar Subrata
Subrata menuturkan, Ngurek pada zamannya hanya dilakukan oleh para pemangku.
Namun, kini orang yang melakukan Ngurek tak lagi dibedakan statusnya, bisa pemangku, panyungsung pura, anggota krama desa, tokoh masyarakat, laki-laki dan perempuan.
Tapi, suasananya tetap bahwa mereka melakukannya dalam keadaan kerasukan atau trance. Kendati keris yang terhunus itu ditancapkan ke tubuh, namun tidak setitik pun darah yang keluar atau terluka.
Ngurek ini biasa dilakukan di luar kompleks pura utama. Sebelum Ngurek dilakukan, biasanya Barong dan Rangda serta para pepatih yang kerasukan itu keluar dari dalam kompleks pura utama dan mengelilingi wantilan pura sebanyak tiga kali.
"Saat melakukan hal itulah para pepatih mengalami titik kulminasi spiritual tertinggi," Imbuhnya.
Lebih lanjut dijelaskan, kerasukan dalam Ngurek biasanya terjadi setelah melakukan proses ritual.
Untuk mencapai klimaks kerasukan, mereka harus melakukan beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut secara garis besar dibagi menjadi tiga.
Tahapan awal adalah Nusdus. Ritual ini adalah merangsang para pelaku Ngurek dengan asap yang beraroma harum menyengat agar segera kerasukan.
Selanjutnya Masolah, merupakan tahap menari dengan iringan lagu-lagu dan koor kecak atau bunyi-bunyian gamelan.
Dan terakhir adalah Ngaluwur, yang berarti mengembalikan pelaku Ngurek pada jati dirinya
Masuknya roh kedalam diri para pangurek ini ditandai oleh keadaan badan menggigil, gemetar, mengerang dan memekik, dengan diiringi suara gending gamelan.
Pangurek yang kerasukan langsung menancapkan senjata, biasanya berupa keris pada bagian tubuh di atas pusar seperti dada, dahi, bahu, leher, alis, dan mata.
Walaupun keris tersebut ditancapkan dan ditekan kuat kuat berulang ulang. Jangankan berdarah, tergores pun tidak kulit para pangurek tersebut.
"Roh yang ada di dalam tubuh para pangurek ini menjaga tubuh mereka agar kebal, tidak mempan dengan senjata," jelasnya.
Tradisi Ngurek ini merupakan kebiasaan masyarakat Bali, di mana saat upacara mengundang roh leluhur dilakukan.
Para roh diminta untuk berkenan memasuki badan orang-orang yang telah ditunjuk, dan menjadi sebuah tanda, bahwa roh-roh yang diundang telah hadir di sekitar mereka.
Tradisi Ngurek juga dipercaya, untuk mengundang Ida Bhatara dan para Rencang-Nya, berkenan menerima persembahan ritual saat upacara.
"Jika orang-orang yang ditunjuk sudah kerasukan dan mulai Ngurek, maka masyarakat bisa mengetahui dan meyakini kalau Ida Bhatara sudah turun ke marcapada (dunia), maka umat yang mengikuti prosesi ritual kian mantap dengan semangat bhaktinya," tutup Subrata. ***
Editor : I Putu Suyatra