BALI EXPRESS, DENPASAR - Tari Hadrah masih awam terdengar di telinga masyarakat Bali saat ini. Apalagi, tarian yang berasal dari Desa Sading, Sempidi ini, sempat vakum selama lima puluh tujuh tahun. Kini, tari unik ini bangkit dengan pesannya yang utuh.
Tari Hadrah merupakan tarian yang memadukan gerakan senam dengan gerakan janger, dibawakan langsung oleh para penari aslinya yang kini telah berusia lanjut. Sesungguhnya, seni tari ini tidaklah asing di beberapa wilayah di Nusantara. Sebab, seni Hadrah sangat erat kaitannya dengan seni budaya Melayu.
Ketut Sulaiman, salah satu seniman Sekaa Hadrah Kusuma Sari, mengatakan, ditilik dari sejarahnya, seni Hadrah merupakan seni tari yang berasal dari Negeri Parsi yang ada di Arab Saudi. Hadrah juga berasal dari ucapan Arab yaitu dzikir yang disertai oleh Kompang atau Rebana Kecil.
Menurut Profesor Taib Osman, lanjutnya, Hadrah adalah sejenis puisi rakyat yang mempunyai unsur-unsur keagamaan, seperti puisi atau lagu yang dinyanyikan ketika orang Madinah menyambut ketibaan Nabi Muhammad dari Mekah yang dikenali sebagai lagu 'Talla-an Badrun' Alaina'. Namun, berbeda dengan seni Tari Hadrah yang ada di beberapa wilayah lain di Nusantara, seni Tari Hadrah di Bali memiliki kekhasannya tersendiri.
“Tari Hadrah Sading dengan Tari Hadrah di wilayah Jawa Timur dan wilayah lainnya beda. Di Bali merupakan penggabungan antara gerakan senam dengan gerakan Janger. Kalau Hadrah di Jawa, biasanya lebih berbau Islami. Karena memang asal usul tariannya dari Arab Saudi,” ujar Sulaiman kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan.kemarin di Sading.
Sulaiman memaparkan, dari segi musik, Tari Hardah Sading menggunakan rindik serta tetabuhan sebagai pengiring. Namun, Hadrah di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah menggunakan rebana sebagai pengiringnya. “Dari bentuk tariannya juga sangat berbeda. Kalau yang khas Sading, kami menari berpasang – pasangan. Gerakannya lebih banyak seperti Janger, jadi ada celetukan dan gerakan bercumbu seperti sepasang kekasih,” ujarnya.
Malam kemarin, Bali Express (Jawa Pos Group) mendapat kesempatan menyaksikan Sekaa Hadrah Kusuma Sari, tampil memeriahkan acara ulang tahun Banjar Madya Sari, Sading.
Setelah 57 tahun vakum, para seniman berusia senja itu terlihat malu – malu di atas panggung. Terlihat enam belas orang berbaris berjajar di atas panggung. Dengan pola berpasang – pasangan, mereka menunjukkan kebolehannya meliuk dan menari . Meski usia tak lagi muda, para lansia itu masih terlihat punya pesona.
Penonton riuh menyambut para lansia itu tampil. Gerakan yang dinamis serta diiringi slogan dan celetukan banyol di tengah pertunjukan, membuat gelak tawa penonton pecah.
Konon, tarian Hadrah Sading dibawakan terakhir di tahun 1961 lalu. Ketika itu, para penarinya masih sangat belia. Tak jarang sebagian dari mereka mengalami cinta lokasi. “Ya, beberapa di antara kami memang sempat merasakan cinta lokasi. Malah beberapa ada yang sukses dan menjadi suami istri hingga saat ini. Kembali membawakan tarian ini di usia kami yang senja, seperti bernostalgia rasanya. Merasakan kembali menjadi remaja, merasakan lagi deg deg –an di atas panggung sama mantan pacar, walaupun sekarang sudah jadi istri,” ujar Sulaiman sembari terkekeh.
Lantas mengapa tarian Hadrah Sading ini vakum hingga lima puluh tujuh tahun? Dengan menarik napas panjang, Sulaiman mengungkapkan kekecewaannya. “Tari tradisonal ini dulu di era lima puluhan hingga enam puluhan sangatlah popular. Kami kesana kemari membawakan tarian ini. Saya ingat betul masa – masa keemasan kami saat itu. Saking populernya, dalam sehari bahkan kami menerima job hingga enam kali berturut,” ujarnya bangga.
Karena usia yang tak lagi muda, kewajiban dalam mengurus rumah tangga dan adat, lanjutnya, satu per satu anggota Sekaa Hadrah Kusuma Sari memutuskan untuk vakum. “Zaman mulai berubah. Tarian ini mulai sepi peminat. Sedangkan kami tetap harus memenuhi kebutuhan dan kewajiban kami. Jadi, karena itu seni tari ini vakum untuk waktu yang begitu lama. Kami sempat ingin meneruskan seni tari ini kepada putra putri kami, tapi mereka lebih suka nonton youtube atau belajar tari modern dari pada meneruskan seni tari ini. Kami juga tidak bisa memaksa mereka, ” ujarnya.
Minimnya minat remaja dan kawula muda terhadap seni tradisonal, juga sangat disayangkan Kelian Banjar Madya Sari, Desa Adat Sading, I Wayan Winarsa. Segala upaya dilakukan untuk menumbuhkan minat para generasi penerus untuk meneruskan tonggak estafet seni dan budaya khususnya di Desa Sading dan sekitarnya. “Sebenarnya banyak kesenian dan tradisi yang masih tertidur panjang di sini. Kami upayakan agar tidak benar benar menghilang. Salah satunya seni Hadrah ini,” ujar Winarsa.
Ia mengungkapkan minimnya minat serta berubahnya zaman membuat seni dan budaya yang ada seakan mati suri. “Padahal, lewat seni kita belajar siapa kita. Lewat seni kita bisa tunjukkan kekayaan dan budaya yang kita miliki. Hanya karena Gadget kita mengubur jati diri kita sebagai orang Bali,” paparnya.
Winarsa menambahkan, anak muda sekarang di setiap kegiatan mabanjar mereka terlihat sibuk dengan handphone masing – masing. “Waktu kegiatan pemuda pemudi, seharusnya kan fokus untuk berkegiatan atau paling tidak ngobrol dengan sesama. Nah ini masih ada yang terlihat main mobile legend, pekerjaannya dibiarkan begitu saja. Makanya, di sini kami berusaha membuat kegiatan positif yang melibatkan teruna teruni dan sekaa seni yang lama tidak aktif,” paparnya.