Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Makna Masing-masing Unsur dalam Penjor

I Putu Suyatra • Rabu, 30 Mei 2018 | 02:18 WIB
Ini Makna Masing-masng unsur dalam Penjor
Ini Makna Masing-masng unsur dalam Penjor



BALI EXPRESS, DENPASAR - Hari suci Galungan sangat identik dengan pemasangan Penjor. Pemasangan penjor ini merupakan bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Siwa Meneng yang diletakkan di sebelah kanan pintu keluar.


Namun, ada yang memberikan pengertian bahwa penjor merupakan simbol Naga Anantaboga yang merupakan Dewa Bumi. Penjor berasal dari kata Peenyor yang artinya pengajum atau pengastawa, dengan demikian penjor mengandung makna sebagai sarana pengastawa kehadapan Siwa beserta manifestasinya yang distanakan di Pura Besakih.


Pada hari suci Galungan, seluruh Dewata dianggap telah turun ke dunia untuk menerima persembahan dan pemujaan umat. Karenannya, sangat jarang kita jumpai ada yang melaksanakan Piodalan bertepatan dengan hari Suci Galungan. Pada hari ini juga sangat disarankan umat melakukan pemujaan di Pura Khayangan Tiga yang merupakan manifestasi Tri Murti, yakni Brahma, Wisnu dan Siwa. Karena Tri Murti juga merupakan implementasi dari penjawabaran Dewata Nawa Sanga.


Karenanya, pembuatan penjor hendaknya memperhatikan ajaran agama yang terkandung di dalamnya. Hal ini guna memberikan makna yang tepat sasaran agar penjor tidak terkesan hanya perhiasan yang bersifat dekoratif.


“Sesungguhnya penjor mengandung simbol-simbol suci yang merupakan implikasi ajaran Weda yang lebih banyak mengandung esensi ajaran Brahmana dan Aranyaka,” kata Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran.


Adapun unsur-unsur penjor yang merupakan simbol yakni, kain Putih merupakan simbol kekuatan Sang Hyang iswara. Bambu merupakan simbol kekuatan Sang Hyang Mahesora. Jajan merupakan simbol kekuatan Sang Hyang Brahma. Kelapa merupakan simbol kekuatan Sang Hyang Rudra. Janur merupakan simbol kekuatan Sang Hyang Mahadewa. Dedaunan atau Plawa merupakan simbol kekuatan Sang Hyang Sangkara. Pala Bungkah dan Pala Gantung merupakan simbol kekuatan Sang Hyang Wisnu. Tebu merupakan simbol kekuatan Sang Hyang Sambhu. Dan Sanggah Ardha Candra merupakan simbol kekuatan Sang Hyang Siwa.


“Sedangkan upakaranya merupakan simbol Sadha Siwa dan Parama Siwa,” jelasnya.

Editor : I Putu Suyatra