BALI EXPRESS, DENPASAR - Banten merupakan sarana upakara yang digunakan sebagai simbol sebagai bentuk sujud bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Banten terdiri dari tiga kategori, yaitu Banten alit, madya, dan utama. Dalam berbagai struktur keagamaan, Banten dianggap sebagai sarana vital.
Menurut Wakil Ketua PHDI, Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika, Banten yang digunakan tidaklah harus Banten dalam kategori utama. “Banten alit tidak akan menjadi nista jika dipersembahkan dengan rasa tulus ikhlas. Nah, Banten utama justru akan menjadi nista ketika dipersembahkan dengan rasa terpaksa, tidak ikhlas dan beban karena dilakukan dengan cara utang,” jelasnya.
Kalau sudah demikian, lanjutnya, yang terjadi pada masyarakat Hindu di Bali saat ini bukanlah mayadnya dengan tattwa, tapi mayadnya karena gengsi dan ikut-ikutan. “Masyarakat saat ini semua serba mudah, sing nyidang ngae banten meli. Sing ada serati banten, di dagang non Hindu meli," sindirnya. Maksudnya, kalau tidak bisa bikin Banten tinggal beli, bahkan kalau tak tersedia di Serati ( tukang Banten), beli di dagang non Hindu pun jadi.
Dikatakan Pasek Swastika, kalau seseorang mayadnya tidak mengerti makna Banten yang dihaturkan, seberapa mewah pun Bantennya, seberapa baik (melah) dan bagusnya Banten akan percuma.
Ditegaskannya, Banten terikat oleh enam faktor, yaitu Iksa, Sakti, Desa, Kala, Patra, dan Tattwa. Iksa berarti keinginan, di mana Banten harus dilandasi keinginan atau niat yang tulus ikhlas dalam beryadnya. “Ingat jangan pamrih, baru maturan banten soda karena masesangi. Itu namanya tidak tulus, tapi berharap timbal balik,” ungkapnya terkekeh.
Selain Iksa, Banten juga harus dilandasi Sakti yang merupakan kemampuan. Dalam Lontar Sarwa Bebantenan tertulis Banten Pinaka Awakta Twi, yang berarti apapun yang kau persembahkan berupa Banten, sesuaikanlah dengan kemampuanmu. “Arti dalam sloka tersebut bahwa haturkanlah persembahan sesuai dengan apa yang kau miliki saat ini. Jangan memaksakan untuk terlihat wah, tapi justru terlilit utang. Lagi pula tidak ada aturan harus menghaturkan apel New Zealand. Dalam aturan beragama Hindu yang benar, buah apa yang tumbuh di halaman rumahmu itulah yang harus kamu haturkan. Nah, sloka itu sesuai dengan konsep Tri Hita Karana,” ungkapnya.
Setelah Sakti, Banten harus berlandaskan Desa, Kala, dan Patra. Mengapa banten harus berlandaskan Desa, Kala, dan Patra? Desa berarti tempat yag berkaitan dengan budaya yang ada di masing – masing desa. Kala berarti kesempatan atau kemampuan. Dan, Patra adalah kategori Banten yang akan dipersembahkan.
“Nah yang paling perlu disoroti adalah Patranya. Banyak masyarakat salah kaprah, katanya kalau karyanya mau patut harus menggunakan Banten utama. Saya ingatkan itu salah. Ingat seberapa pun mahal dan mewahnya Banten utama akan nista jika dihaturkan tanpa keikhlasan. Dari pada nyusahin diri sendiri, lebih baik kita menghaturkan Banten kecil atau madya saja,” ujarnya.
Pasek Swastika menekankan, dalam tiga kategori Banten cenik, madya, dan utama, ketiganya memiliki dasar Banten inti utama, yaitu Banten Pangresikan, Pras, dan Pangambean.
“Sebenarnya ketiga kategori itu memiliki dasar yang sama, yaitu Banten Pangresikan, Pras, dan Pangambean. Masing – masing Banten memiliki tattwa atau filosofinya tersendiri," terangnya.
Dicontohkannya, Banten Pangresikan ada Byakala, Durmanggala, Prayascita, Pangulapan, dan Padudusan. Sadangkan Banten Pras ada Pras cenik ataupun Pras Agung. Sedangkan Banten Pangambean yaitu berupa Banten Tulung, Sasayut dan Prani atau Banten Ayaban.
Ditegaskannya, jika ketiga jenis Banten tersebut telah lengkap, dan dipuput oleh seorang Sulinggih, maka karyanya sudah bisa dikatakan puput.
“Yang dimaksud lengkap, bahwa ketiga kategori, yaitu ada Banten Pangresikan, Pras, dan Pangambean saja sudah bisa dikatakan puput. Walaupun tidak lengkap isinya hingga Durmanggala, juga tidak apa apa, Yang penting salah satunya ada dan dihaturkan dengan rasa yang tulus ikhlas,” ujarnya.
Dalam Lontar Sarwa Bebantenan tertulis sloka: Banten Pinaka Anda Buana,
yang berarti apa yang kita hasilkan itulah yang kita haturkan. “Kembali lagi ke pengertian Patra, bahwa Tuhan tidak menuntut kita untuk menghaturkan apel yang mahal, atau harus anggur hijau. Tidak ada lontar atau kitab suci yang mengajarkan kita demikian. Sastra justru mengajarkan kita untuk menanam tanaman buah di pekarangan kita. Agar buahnya bisa kita gunakan untuk persembahan. Sebenarnya tidak ruwet beragama Hindu. Hanya kita saja yang tidak mau mengerti. Ingat berupacaralah yang cerdas. Baru kena sakit lantas dibilang kena black magic, padahal sakit itu datang karena kurangnya rasa bhakti yang tulus kepada Sang Pencipta,” tandasnya.
Editor : I Putu Suyatra