Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sadari Tujuan dan Cara Sembahyang Terus Melorot

I Putu Suyatra • Minggu, 15 Desember 2019 | 19:19 WIB
Sadari Tujuan dan Cara  Sembahyang Terus Melorot
Sadari Tujuan dan Cara Sembahyang Terus Melorot


DENPASAR, BALI EXPRESS - Sembahyang bertujuan untuk menunjukkan rasa bakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi beserta segala manifestasi-Nya. Jadi, tubuh sebaiknya dalam keadaan segar bugar,  emosi juga harus stabil. Hindari pergi masih dalam kondisi hati marah.


 


Rasa marah bisa timbul kapan saja, muncul secara tiba-tiba atau meledak setelah memendam beberapa lama. Kadang orang pun akhirnya meluapkan marahnya, tanpa peduli situasi. Namun, rasa marah harus tidak ada lagi, jika kita ingin pergi sembahyang.


Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, 55, mengingatkan bahwa dalam Sarasamuccaya Sloka 277 dituliskan : Mereka yang tidak dirasuki oleh marah dan kebencian. Mereka yang mencintai kebenaran, tetap teguh dalam pengendalian indrawi. Mengasihi segala makhluk seperti mengasihi diri sendiri, orang yang melakukan hal tersebut akan mendapatkan  pahala yang sama dengan orang yang tekun mengunjungi dan bersembahyang ke tempat-tempat suci.



Ida Pedanda Gde Isana Manuaba menyarankan, jika saat hendak ke pura atau sembahyang mengalami situasi yang mengakibatkan seseorang marah, tindakan terbaik adalah jangan pergi atau tunda pergi ke pura untuk sembahyang. “Lebih baik tenangkan diri agar beban rasa lepas dan merasa lega,"  ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) saat ditemui di Griya Lebah Manuaba, Banjar Kedampal, Abiansemal, Badung, beberapa waktu lalu.



Dikatakannya, orang yang sabar, tidak mudah marah, sesungguhnya telah melakukan pengorbanan dalam bentuk Jnana. Pengorbanan jenis ini dalam Weda disebutkan lebih mulia daripada pengorbanan berupa materi.



Ida Pedanda Gde Isana Manuaba mencontohkan, ketika seseorang dihina, dicaci maki di depan orang lain, namun orang tersebut  tidak membalas, maka dia  sudah melakukan pengorbanan dalam bentuk Jnana.



Ketika rasa marah hilang, kemudian pikiran tenang, lanjutnya, barulah pergi ke pura untuk sembahyang. Namun, hendaknya jangan manfaatkan waktu untuk main ponsel atau bergosip di pura saat menunggu waktu sembahyang.  Pamedek harus ingat niat dan tujuan datang ke pura, jangan malah melorotkan bhakti.  “Ada baiknya kalau di pura mengobrol tentang masalah berkaitan dengan berketuhanan. Laku pamedek di pura harus terus diperbaiki, termasuk juga cara sembahyang,” katanya.


Ida Pedanda dengan nama welaka Ida Bagus Putu Tapawana ini, menyoroti
sikap ketika duduk di pura kini terlihat bebas. Diakuinya  sah-sah saja ingin duduk dengan selonjoran kaki ata posisi yang lain. Namun,  sebaiknya ketika sembahyang  posisinya harus sesuai. Perempuan dengan posisi Bajrasana atau bersimpuh dengan dua tumit kaki diduduki. Sedangkan pria dengan sikap duduk bersila.



Jika seseorang tidak kuat melakukan posisi tersebut, Ida Pedanda Gde Isana Manuaba menyarankan perempuan bisa melipat kaki ke belakang saja. “Bisa dengan melipat kaki ke arah samping, itu bagus. Sembahyang kan hanya lima menit, tidak lama,” ujarnya.



Dia mengatakan, bila saat muput (memimpin) upacara agama, melihat ada yang duduk  sembahyang di tangga atau undakan di pura,  apalagi pakai kursi, pasti ditegur."Posisi seperti itu tidak dibenarkan dalam sikap kita bersembahyang,” ucapnya dengan tegas.


 



Jika memang kondisi tubuh, kaki tidak kuat posisinya ketika duduk di pura, sebaiknya tidak datang untuk sembahyang. Menurutnya, sebagai manusia itu harus menghormati keadaan fisiknya. “Jangan dipaksakan untuk bersembahyang ke pura jika sakit. Akhirnya duduk jadi susah. Seperti saya bilang sebelumnya, ketika marah pun juga tidak boleh. Lebih baik sembahyang di rumah, ingat sifat Tuhan (Sang Hyang Widhi) itu Wyapaki Wyapaka yang artinya ada dimana-mana. Jadi, tidak salah, saat sakit sembahyang di rumah saja,” paparnya.


 


Selain itu, Ida Pedanda Gde Isana Manuaba  mengingatkan soal hubungan badan. Kalau seseorang sehabis berhubungan suami-istri wajib mandi dan juga keramas saat mau bersembahyang. Hal ini juga diterangkan dalam Siva Purana, bahwa seseorang tidak dibenarkan melakukan hubungan seksual pada saat hari Sivaratri (sehari sebelum bulan mati atau tilem), dan juga dilarang melakukan pemujaan atau sembahyang kepada Tuhan usai melakukan hubungan seksual sebelum mandi. Dengan kata lain, suami istri wajib hukumnya untuk menyucikan diri (mandi), jika hendak melakukan pemujaan kepada Tuhan setelah melakukan hubungan seksual.



Waktu-waktu sakral yang wajib dihindari untuk berhubungan badan  adalah purnama, bulan mati, prawani/sehari sebelum purnama dan bulan mati, hari-hari besar keagamaan atau hari suci, hari paruh gelap ke delapan. Kitab Sarasamuccaya 255 menegaskan : “Hendaknya seorang suami dan istri yang menghendaki hidup langgeng dalam berumah tangga, menghindari untuk melakukan senggama pada bulan mati (tilem), paruh terang dan paruh gelap ke delapan (8), paruh terang dan paruh gelap ke empat belas/14 (prawani) serta pada bulan purnama.”  Sarasamuccaya dipertegas lagi dalam kitab Siva Purana, bahwa seseorang tidak dibenarkan melakukan hubungan seksual pada saat hari Sivaratri (sehari sebelum bulan mati), dan juga dilarang melakukan pemujaan atau sembahyang kepada Tuhan usai melakukan hubungan seks sebelum mandi.



Dalam kitab Siva Purana terdapat kisah soal hubungan seks. Dikisahkan ada sebuah peristiwa pada saat Sivaratri ketika semua sedang melakukan puasa, Sudarsana melakukan hubungan seksual dengan istrinya dan kemudian melakukan pemujaan. Tapi, sebelum ia melakukan pemujaan, ia tidak mandi. Untuk perbuatan ini Deva Siva marah dan bersabda : Wahai orang yang tidak memiliki tata krama, kamu melakukan hubungan seksual dengan istri pada saat Sivaratri. Tanpa mandi engkau melakukan pemujaan. Engkau sebenarnya dekat dengan ketikdakbijaksanaan. Karena engkau telah melakukan ini secara sadar, jadilah orang yang lamban dan tidak sadar. Anda adalah orang yang tak tersentuh bagi-Ku. Hindari menyentuh-Ku.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu