Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Batuaji Berawal Munculnya Sinar dari Tumpukan Batu

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 15 Juli 2021 | 18:32 WIB
Sejarah Desa Batuaji Berawal Munculnya Sinar dari Tumpukan Batu
Sejarah Desa Batuaji Berawal Munculnya Sinar dari Tumpukan Batu

TABANAN, BALI EXPRESS-Sebelum adanya arsitektur seperti saat ini, sejumlah pura kuno di wilayah Kabupaten Tabanan masih berupa babaturan atau tumpukan batu. Babaturan ini kerap ditemukan di wilayah sekitar Gunung Batukaru dan sekitarnya. 


Keberadaan pura yang berupa babaturan, juga ditemukan di daerah pegunungan atau puncak bukit. Misalnya Pura Besikalung di Penebel, Pura Siwa di Wanagiri, dan lainnya. Pura kuno tersebut umumnya dibangun dengan konsep punden. Di bagian puncak biasanya berisi batu berbentuk lingga dan yoni.


Di Desa Adat Batuaji yang secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Kerambitan, Tabanan, juga ditemukan pura dengan arsitektur serupa. Pura tersebut sesuai konsep Kahyangan Tiga, kini dijadikan Pura Puseh Desa adat setempat. 


“Dahulu sebelum dibangun seperti saat ini, bentuknya masih babaturan,” ungkap Bendesa Adat Batuaji I Gusti Nyoman Madia Utama kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (14/7).


Pembangunannya sesuai konsep Pura Puseh pada umumnya beberapa tahun silam. Meski dibangun dengan konsep Pura Puseh pada umumnya, namun Palinggih Babaturan yang sudah ada terlebih dulu, tetap dilestarikan. Bahkan, hingga kini sangat disakralkan.


Keberadaan babaturan ini ternyata berkaitan erat dengan sejarah Desa Adat Batuaji. Secara sekilas, Jro Bendesa menuturkan, awalnya dari Pura Luhur Batukaru terlihat sinar di kawasan yang kini menjadi wilayah Desa Adat Batuaji. 


Oleh Ida Sasuhunan, kemudian diutus beberapa orang untuk mencari sumber sinar tersebut. Dalam perjalanannya, utusan yang membawa tirta ini melewati beberapa daerah, yakni Wangaya, Ngis, Sengkulung, Jangkahan, hingga di Penulisan. “Nah di Penulisan inilah sejarah ini ditulis. Dari sana terlihat batu bersinar ini,” ungkapnya.


Dari batu berupa lingga dan yoni tersebut, kemudian muncul nama Batuaji yang menjadi nama desa. Menurut Jro Bendesa, Batuaji diartikan batu yang memberikan ilmu atau pengetahuan. “Batu yang memberikan ilmu. Sehingga Aji yang dimaksud bukan orang tua atau ayah, tapi ilmu pengetahuan,” jelasnya.


Keberadaan batu berupa lingga dan yoni tersebut, hingga kini sangat disakralkan oleh krama adat. Beberapa pejabat yang penasaran pun sempat datang untuk sembahyang sekaligus melihat secara langsung keunikan pura tersebut. 


“Ada beberapa pejabat yang ingin melihat langsung, kemudian tangkil ke pura sekaligus bersembahyang,” katanya.


Berdasarkan dorongan untuk menyesuaikan dengan konsep Kahyangan Tiga, beberapa tahun lalu batu lingga yoni tersebut kini dibuatkan tempat khusus. Dibangun pula meru untuk Pura Puseh dan Gedong untuk Pura Desa. 


“Dahulu masih berupa babaturan, tapi kini lingga yoni sudah di dalam Gedong,” terangnya.


Pura Puseh dan Pura Desa ini cukup unik dengan rindangnya pohon beringin. Rimbunnya terlihat hingga ke jalan raya, sehingga menarik perhatian pengendara yang lewat. 


Kehadiran pohon beringin ini seakan menjadi salah satu ciri khusus pura tersebut. Sebab, Pura Puseh dan Pura Desa pada umumnya, jarang ditumbuhi beringin. “Pohon beringin itu memang sudah ada dari dahulu,” ujar pria 60 tahun itu.


Mengenai piodalan, dikatakan berlangsung tiap enam bulan sesuai kalender Bali atau 210 hari, tepatnya tiap Budha Kliwon Pahang. “Piodalannya tiap Budha Kliwon Pahang. Biasanya krama sembahyang bersama-sama. Namun kini di tengah pembatasan, piodalan beberapa waktu lalu pamedek dibatasi sesuai arahan pemerintah,” terang jro bendesa yang gemar makakawin lewat radio amatir ini.


Di samping uniknya Pura Puseh dan Pura Desa, di Desa Adat Batuaji juga terdapat beberapa pura lain yang tergolong unik. Salah satunya Pura Dalem yang dinamakan Pura Dalem Penulisan. 


Pura ini disungsung bersama dengan Desa Adat Batuaji Kawan. 


“Ada juga Pura Manik Galih dan Pura Taman Ayun. Pura Manik Galih berkaitan dengan sawah. Sedangkan Pura Taman Ayun dipercaya sebagai tempat yudha atau perang,” tandasnya.


Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #hindu #pura #tabanan