Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mempelajari Ritual Bayi Satu Weton

I Dewa Gede Rastana • Rabu, 22 Desember 2021 | 16:25 WIB
Ayu Veronika Somawati.
Ayu Veronika Somawati.
Dalam Naskah Dharma Kahuripan, Dosen Filsafat STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Ayu Veronika Somawati menyebut tidak hanya mengungkapkan beragam jenis sesayut saja. Tetapi juga berbagai ritual manusa yadnya mulai dari bayi belum lahir sampai ritual pawiwahan (dewasa).

Seperti contoh upacara saat bayi berumur satu weton. Ritual ini dilaksanakan saat bayi berumur enam bulan pertama. Pawetonan bisa dilaksanakan baik ditingkat nista, madya maupun utama dan penelasan pawetonan, yang semua itu menggunakan byakawonan, sesayut pabersihan serta penyeneng.

“Upacara Pawetonan ini diadakan setelah bayi berumur 6 bulan atau 210 hari, sejak saat itu sang bayi mulai disucikan dengan sarana upacara tertentu yang dipuput oleh pemangku maupun sulinggih,” jelasnya.

Sarana yang digunakan byakawonan berupa penyucian dari perut hingga kaki bayi, ada juga sesajen pabersihan yang lain digunakan untuk penyucian dari perut ke kepala bayi serta ada menggunakan penyeneng.

Dikatakan Vero, penyeneng maknanya senang, jadi dengan harapan yang reinkarnasi terhadap bayi itu merasa senang dan bayi pun selalu dalam keadaan bahagia dengan tenang berada disamping atau dalam penjagaan ibunya.

“Biasanya jika memungkinkan diadakan pertunjukan wayang sudamala yang maknanya wayang yang mengisahkan penyucian dari sebel kandel baik bayi, ibu dan bapaknya dengan dasa malanya yang mengotori bumi bisa tersucikan kembali, sehingga sejak saat itu baru bisa memasuki pura,” pungkasnya. (habis) Editor : I Dewa Gede Rastana
#balinese #adat #tradisi