DOSEN Kajian Budaya, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Ida Bagus Gede Paramita mengatakan Lontar Kala Tattwa banyak mengandung pesan moral baik dalam Tattwa, Susila maupun Upacara. Dalam Tattwa Kala ini diceritakan bagaimana sulitnya Sang Hyang Kala mencari Ayah Ibunya karena beliau dianggap masih kotor.
Dikatakan Ida Bagus Paramita, dalam Lontar Kala Tatwa dikisahkan suatu hari Bhatara Siwa dan Dewi Uma sedang berjalan-jalan di pinggir pantai untuk melihat keindahan laut. Pada saat itu angin bertiup cukup kencang sehingga menyingkap kain Dewi Uma. Bangkitlah nafsu Bhatara Siwa, tetapi sebelum terjadi hubungan sperma Bhatara Siwa terlebih dahulu keluar dan jatuh di laut.
Sperma itu dikatakan bercahaya sehingga mengagetkan bhatara Brahma dan Bhatara Wisnu. Kemudian atas kesaktian yoganya, sperma itu berhasil dikumpulkan dan lahir menjadi raksasa yang tinggi dan besar yang nantinya disebut Sang Hyang Kala.
Setelah Sang Hyang Kala sadar akan diri ingin mengetahui siapa sebenarnya orang tuanya. Kemudian dipandangnya seluruh penjuru arah mata angin. Ternyata sepi, karena itu ia berteriak keras-keras sehingga mengguncangkan alam sorga.
Dewata nawa Sanga menjadi murka, kemudian datang bersama-sama mengeroyok, namun Sang Hyang Kala tidak melawan. Meski diserang oleh para Dewata, namun Sang Hyang Kala sedikitpun tidak terluka oleh senjata mereka. Menyaksikan hal ini para Dewata Nawa Sanga kemudian melaporkan kehadapan Bhatara Siwa, bahwa ada raksasa yang mengobrak-abrik sorga.
Atas dasar itu Bhatara Siwa turun dan mengadapinya. Akhirnya terjadi perang tanding antara Bahtara Siwa dengan Sang Hyang Kala. Sang Hyang Kala tidak dapat dilukai, hal ini menyebabkan Bhatara Siwa melarikan diri.
Dari kejauhan kemudian Bhatara Siwa bertanya, apa sebabnya ia menyerang para Dewata. Sang Hyang Kala menjelaskan bahwa ia tidak pernah menyerang para Dewata, tetapi ia hendak menanyakan siapa ayah ibunya. Setalah mengtahui tujuan kedatangannya. Bhatara Siwa menyadari bahwa itu adalah putranya.
“Dalam Cerita itu Dewa Siwa kemudian meminta agar taringnya Bhatara Kala dipotong. Bhatara siwa menjelaskan kalau Beliau sendiri ayahnya dan Dewi Uma adalah ibunya. Sejak saat itulah si raksasa diberi nama Hyang Kala oleh bhatara Siwa. Hyang Kala diberi anugrah untuk membunuh (yang bersalah) dan memberi hidup (yang tidak bersalah) serta menumbuhkan segala yang bernafas,” ujarnya.
Bhtarari Uma kemudian memerintahkan Hyang kala agar tinggal di Pura Dalem dengan nama Bhatari Durgha sebagai dewanya golongan Kala, Durga, Pisaca, Wil (cuil), raksasa, Danuja, Kingkara, penyakit, hama, bisa dan segala yang gaib. Ketika Dewi Uma masuk ke Pura Dalem beliau bergelar Bhatari Durga Dewi dan Hyang Kala (Bhatara Durga) bernama Kalika.
Bhatari Durga Dewi juga memberi anugrah yang dapat dijadikan makanan oleh Hyang Kala, yaitu orang yang tidur sampai sore dan terbangun setelah matahari terbenam. Anak kecil menangis di malam hari, orang yang membaca kidung kakawin dan tutur utama di tengah jalan, orang yang merapatkan perkumpulan (nyangkepang) di jalan.
“Bhatara Siwa juga memberikan anugerah yang dapat mengambil jiwa manusia atau binatang pada sasih kesanga. Terutama orang berdosa, jahat, bersenggama tidak sesuai dengan Sila karma sesana dan agama,” paparnya. Editor : I Putu Suyatra