Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung I Gusti Agung Istri Purwati mengatakan, selama ini umat Hindu di Bali kerap mendengar istilah Canang Sari dan Canang Genten. Meski sama-sama canang, namun memiliki perbedaan dari sisi sarana penyusunnya.
Dikatakan wanita yang akrab disapa Gung Ti ini, Canang Genten diartikan sebagai sarana canang yang masih polos dan tidak ada tambahan dan diisi urasari. Sehingga disebut dengan kata genten, yang artinya polos, juga disebut suci, murni dan belum ada tambahan apa-apa. "Jadi, apapun bentuknya, apakah segi empat atau bundar kalau hanya dilengkapi dengan porosan dan wadah lengis, maka disebut Canang Genten,” ujarnya.
Katanya, Canang Genten digunakan untuk melengkapi bebantenan. Setiap banten tidak akan sempurna tanpa adanya Canang Genten. Sebesar apapun banten, jika tidak dilengkapi Canang Genten, maka tidak akan sempurna. Ini sebagai simbol pangurip banten
Dalam menata Canang Genten, tidak perlu ada tambahan sarana lain seperti tebu hingga pisang. Cukup hanya dengan porosan saja. Porosan terdiri dari pinang dan kapur sirih (pamor) yang dibungkus dengan daun sirih.
Lontar Yadnya Prakerti menyebutkan, pinang, pamor dan sirih adalah lambang pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti.
Pinang melambangkan pemujaan terhadap Dewa Brahma sebagai pencipta. Sirih melambangkan pemujaan terhadap Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan pamor melambangkan pemujaan terhadap Dewa Siwa sebagai pelebur.
Kemudian dari sisi penataan posisi bunga, Canang Genten menempatkan bunga putih sebagai hulu. Selanjutnya bunga berwarna merah ada di sebelah kanan, dan bunga kuning ada di bawah. Kemudian bunga ungu posisinya di sebelah kiri. Ini sesuai dengan arah mata angin atau pangider-ider. “Jadi ulunya tetap putih. Bagaimana pun posisi Canang Gentennya,” sebutnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya