Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hindari Lebih dari Satu Pintu Masuk Pekarangan, Ini Alasannya

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 19 Desember 2022 | 22:05 WIB
SATU SAJA : Pintu keluar masuk pekarangan rumah disarankan satu saja, karena jika lebih bisa dianggap boros (I Putu Mardika/Bali Express)
SATU SAJA : Pintu keluar masuk pekarangan rumah disarankan satu saja, karena jika lebih bisa dianggap boros (I Putu Mardika/Bali Express)

“Untuk menciptakan suatu keserasian, keharmonisan dan keselarasan dalam keluarga, hendaknya dalam membangun suatu bangunan selalu mengacu pada konsep Tri Angga, Tri Mandara, dan Tri Hita Karana sebagai dasar dalam menata tata ruang dalam satu keluarga, sesuai dengan konsep Asta Bhumi dan Asta Kosala Kosali." Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali, Nyoman Suka Ardiyasa.


BULELENG, BALI EXPRESS -Tata letak pekarangan berpengaruh sangat besar terhadap penghuninya. Meski tidak bisa dipungkiri, saat ini masyarakat sangat efisien dalam menggunakan lahan di tengah terbatasnya ruang. Baik buruknya pekarangan, tata letak dapur, sumur hingga pintu masuk banyak diulas dalam berbagai lontar.

Ada beberapa petunjuk yang tersurat dalam lontar yang bisa dijadikan rujukan. Mulai dari Lontar Tutur Bhagawan Wiswakarma, Bhamakretti, Japakala dan Rontal Asta Bumi. Di sana diuraikan bahwa dalam pemilihan tanah atau pekarangan untuk dijadikan sebagai tempat tinggal, hendaknya mempertimbangkan berbagai aspek.

Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali Nyoman Suka Ardiyasa mengatakan, dalam lontar diklasifikasikan pekarangan berdasarkan posisi tinggi rendahnya. Semisal, tanah pekarangannya pada sisi baratnya agak tinggi, baik untuk tempat tinggal, yang menempatinya menemukan kebahagiaan. Apabila tanah pekarangan pada sisi sebelah selatan yang agak tinggi, juga baik untuk tempat tinggal. Orang yang menempatinya tidak kekurangan suatu apapun atau berkecukupan.

Berbeda ketika pekarangan agak tinggi pada sisi utara. Pekarangan dengan seperti ini tidak baik untuk tempat tinggal. Orang yang menempatinya bisa sering terkena musibah. “Begitu juga kalau tanah pekarangannya datar, baik untuk tempat tinggal, orang yang menempatinya murah rezeki,” sebut Suka Ardiyasa kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (15/12) siang.

Selain pekarangan baik untuk tempat tinggal, dalam lontar juga disebutkan kriteria tanah atau pekarangan yang tidak baik, bahkan angker. Seperti pekarangan yang pintu masuknya tepat berhadap-hadapan dengan pintu masuk pekarangan orang lain yang berada di depannya. “Karang nyeleking namanya. Tidak baik,” jelasnya.

Pekarangan yang letaknya ditusuk (katumbak) jalan, gang (rurung), sungai (tukad), got (jelinjingan), batas tembok orang lain (tetangga), disebut karang karubuhan jalan atau karang suduk angga. Karang ini dianggap tidak baik. Hendaknya dibuatkan upacara pamahayu karang.

Pekarangan atau tanah yang letak kedua sisinya bersebelahan dengan jalan atau gang (kalingkuhin jalan) disebut karang sulanupi. Karang ini tidak baik jika dipakai untuk tempat tinggal. Sebagai penolaknya, maka hendaknya dibuatkan upacara pamahayu karang dan dibangun palinggih padma capah.

Ciri karang tidak baik lainnya yaitu apabila letaknya dibelah oleh jalan atau gang, dan letaknya tepat berhadap-hadapan atau sudutnya berhadapan. Bahkan, jika dimiliki oleh satu orang atau satu keluarga purusa (garis lurus ke atas), disebut pekarangan sandang lawe.

Bila pekarangan terletak pada sudut perempatan atau pertigaan jalan atau gang, disebut karang angker atau karang nyakitin, karena perempatan jalan adalah sebagai sthana Bhatari Panca Durga. Hendaknya dibuatkan upacara pamahayu karang, dan di luar tembok pekarangan yang menghadap ke sudut perempatan atau pertigaan jalan atau gang dibangun sebuah palinggih Padmacapa.

Penempatan pintu masuk pekarangan yang lebih dari satu, juga kurang tepat. Karena disebut karang boros. Pekarangan atau perumahan yang letaknya di hulu (ngulonin) atau bersebelahan dengan bale banjar, pura, setra, juga tidak baik untuk tempat tinggal.

“Ini bisa dibuatkan gang kecil sebagai pembatas antara tembok banjar, pura, setra dengan tembok pekarangan kita dan dibuatkan upacara pamahayu pekarangan dan di luar tembok pekarangannya agar dibangun palinggih Padmacapa,” paparnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#posisi dapur #bali #balinese #Pintu Masuk Pekarangan #Nyoman Suka Ardiyasa #hindu #Rezeki dan kesehatan #Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali