Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dampak Karang Panes dan cara Mengatasinya bagi Umat Hindu Bali

I Putu Mardika • Selasa, 18 Juli 2023 | 14:37 WIB
Jika menemukan lulut emas dan selaka di rumah wajib dipapag.
Jika menemukan lulut emas dan selaka di rumah wajib dipapag.

BALI EXPRESS - Karang panes, bagi umat Hindu di Bali diyakini memiliki dampak negatif. Lalu seperti apa dampak dan solusi yang harus diambil?

Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Ida Made Windya, S.Ag, M.Ag mengatakan dampaknya bisa dirasakan oleh penghuninya. Seperti adanya keinginan ribut antara anggota keluarga, sehingga menjadi menimbulkan ketidaknyamanan. Bahkan tidak jarang penghuninya melakukan upaya ngulah pati dan salah pati.

“Jika dalam lingkungan kita menemukan hal-hal yang disebut sebagai karang panes, dan itu dapat menyebabkan penghuninya sulit mendapatkan rejeki, sakit yang tidak sembuh-sembuh, bertekar terus menerus antar anggota keluarga dan tidak habis-habisnya, menghuningan seolah-olah dibuat kebingungan, pati salah pati dan ngulah pati,” ungkapnya.

Selanjutnya apabila menemukan hal-hal seperti itu, maka paling lama 40 hari harus telah melakukan usaha dan nyasa untuk membersihkan karang panas itu melalui pengruwatan karang panes. Misalnya jika disebabkan oleh ciri-ciri alam (lulut, tawon, ular, bhuta salah wetu, asap), maka dilakukan pecaruan Jagramaya.

Jika ada lulut emas dan selaka, maka harus dipapag atau disambut karena beliau perwujudan Bhatar Sri dan Bhatara Rambut Sedana dipapag dengan suci asoroh, tebasan, santun, penyeneng, canang sakasidan, daksina linggih. Lulut emas (mebe ayam biing) dilinggihkan di klumpu. Lulut slaka (mebe ayam putih) dilinggihkan di gedong atha.

Lulut tembaga dan lulut besi (dilarung) ke laut disertai dengan caru jigramaya. Pemarisduha caru ekasata ayam putih (caru jigramaya) paling lambat 1 bln 7 hari (40 hari). Sebab, jika lewat dari waktu itu, diyakini akan berdampak negatif kepada penghuninya.

“Tentu kita juga harus tahu, disamping karang panes juga ada karang yang baik, yaitu palemahan asah, terpenuhi sinar, udara, dan air, palemahan inang dan Dewa ngukuhi, ada perasaan tenang dan tenteram; dan palemahan mambu, berbau cabe,” tutupnya.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #karang panes #hindu #STAHN Mpu Kuturan