Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Ini Cara Mendatangkan Hujan Menurut Lontar Nerang Ujan

I Putu Mardika • Jumat, 24 November 2023 | 16:14 WIB
MEMBUAT HUJAN: Lontar Nerang Ujan tidak hanya menyajikan cara menghentikan hujan atau nerang, tetapi juga berisi tentang cara membuat atau mendatangkan hujan.
MEMBUAT HUJAN: Lontar Nerang Ujan tidak hanya menyajikan cara menghentikan hujan atau nerang, tetapi juga berisi tentang cara membuat atau mendatangkan hujan.

BALI EXPRESS - Selain ajaran untuk menghentikan hujan,  dalam teks Lontar Nerang Ujan juga diajarkan cara mendatangkan hujan atau membuat hujan sesuai tradisi Bali.

Tentunya, mantra dan sarana yang digunakan sedikit berbeda dengan cara menghentikan (nerang) hujan.

Tokoh Aliansi Pemuda Hindu Bali, Putu Eka Sura dalam artikel yang tayang di Jurnal Teologi menyebutkan, ada tiga mantra dalam teks lontar tersebut yang dapat digunakan untuk mendatangkan hujan.

Selain mantranya berbeda, sarana yang digunakan juga berbeda.

Mantra tersebut antara lain berbunyi: “Iki Panghujan, sarana gedebong merajah, kaya iki Mantranyane; Om, Ong Sang Hyang Tolu mumbul, saking kulwan. Sang Hyang Tolu mumbul saking kidul. Sang Hyang Tolu mumbul saking lor, rena-renaya nama swaha. Om Brahma, Wisnu, Iswara, ulun minta ring Bhatara Iswara, Bhatara Umadewi, Hlah-Hlah Susyah, Byor, Byor, Byor.”

Seperti disebutkan dalam mantra tersebut, sarana yang digunakan membuat hujan di antaranya batang pisang yang diisi rerajahan.  Penggunaan batang pohon pisang untuk menurunkan hujan merupakan kearifan lokal Bali.

Sarana ini sudah digunakan para tetua terdahulu untuk menurunkan hujan.

Cara kedua untuk menurunkan hujan sesuai teks lontar Nerang Ujan adalah:

“Iki Pangujan sane kaping kalih, sarananya ruaning kumbang. Panurun ujan sarana Ruaning Kumbang 3 lembar, marajah Naga ketiganya bebeding Lawe Tridatu tindihin batu."

"Mantranyane Hanta ktutuhuna nidha kapatala, kita angina maka tapakan, tebek bumi sagara, tebek danu tumurun ta kita ke pratiwi sida sidi mantranku.”

Terjemahan: Ini adalah cara kedua untuk menurunkan hujan. Menggunakan sarana ruaning kumbang 3 lembar. Ketiganya digambar dengan rajah naga. Kemudian diisi dengan bebeding lawe warna tri datu dan ditindih batu.

Dikombinasikan dengan mengucapkan mantra “Turunlah ke dunia. Engkau angin sebagai perantara, menyusuplah pada bumi dan lautan, menguap dari danau, turunlah engkau ke permukaan tanah, semoga bisa berhasil mantraku.”

Berdasarkan mantra kedua tersebut dapat dipahami bahwa untuk menurunkan hujan bisa dilakukan dengan menggunakan sarana ruaning kumbang dan dikombinasikan dengan gambar rajah naga dan mantra.

Pada halaman teks lontar Nerang Ujan, ditemukan pula sarana untuk menurunkan hujan dengan menggunakan rerajahan/gambar naga.

Iki Panghujan sane kaping tiga, saranya Jun Kapal, rajah baan naga nguyup sangenge, genahang ring Sanggar Kamulan, mantranyane Ih idepaku Bhatara Bhumi, Mangadeg manadi Wisnu, medal saking matanai.

Metu dadi aun-aun, peteng dedet triat triut. Genter pater ketug lindu, medal segara danu. Manadi aun-aun, metu Sang Hyang Bhumi. Manadi Wisnu ketug lindu Sang Hyang Segara, Mangadeg menadi Wisnu, medal saking matanai.

Metu dadi aun-aun, peteng dedet triat triut. Genter pater ketug lindu medal segara danu. Menadi aun-aun, metu Sang Hyang Bhumi menadi Wisnu. Ketug Lindu Sanghyang Segara mangadeg menadi Wisnu.

Metu Sang Hyang Angin, menadi Wisnu. Metu Sang Hyang Surya manadi Wisnu. Peteng dedet triat-triut, apan aku anggo Sang Hyang Tunggal. Edeh, edeh Bhatara Guru, Edeh, Edeh Bhatara Wisnu.

Edeh, Edeh Bhatara Bhumi, Endeh Bhatara Indra menadi Wisnu, Cokbyor, Cok byor, cok byor. Metu Sanghyang Angin, menadi Wisnu, sing teke ada enyug, Teka byar, Teka byar, Teka byar. Mandeg Sang Hyang Angin, Metu Sang Hyang Wisnu, Teka byur, Teka byur, Teka byur

Baca Juga: Padel Makin Membumi di Bali, Event Asia-Pasifik Digeber di Canggu dan Ubud

Terjemahan: Ini adalah cara ketiga untuk menurunkan hujan, dengan menggunakan sarana jun kapal, digambar/rajah dengan naga nguyup sangenge, yang bertempat di Sanggar Kemulan.

Mengucapkan mantra dan memusatkan pikiranku kepada Dewa Bumi, bermanifestasi sebagai Wisnu, muncul dari sinar matahari.

Keluar menjadi aunaun, gelap gulita triat triut. Genter pater ketug lindu, muncul dari lautan dan danau.

Menjadi aun-aun, menjadi Sang Hyang Bhumi. Menjadi Wisnu ketug lindu Sang Hyang Segara, bermanifestasi menjadi Wisnu, muncul dari sinar matahari. Keluar menjadi aun-aun, gelap gulita triat triut.

Genter pater ketug lindu muncul dari lautan dan danau. Menjadi aun-aun, muncul Sang Hyang Bhumi menjadi Wisnu.

Baca Juga: Sejarah Singkat Pura Luhur Pucak Batu Lumbung di Tabanan Bali yang Masih Berkaitan Erat dengan Pura Luhur Batukau

Ketug Lindu Sanghyang Segara bermanifestasi menjadi Wisnu. Menjadi Sang Hyang Angin, menjadi Wisnu.

Muncul Sang Hyang Surya menjadi Wisnu. Gelap gulita triat-triut, sebab saya adalah Sang Hyang Tunggal.

Edeh, edeh Bhatara Guru, Edeh, Edeh Bhatara Wisnu. Edeh, Edeh Bhatara Bhumi, Endeh Bhatara Indra menjadi Wisnu, Cokbyor, Cok byor, cok byor. Munculah Sanghyang Angin, menjadi Wisnu, sing teke.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #lontar #nerang ujan #tradisi #mendatangkan hujan