Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ragam Palinggih di Merajan Umat Hindu di Bali: Sebuah Penjelasan

I Putu Suyatra • Rabu, 10 April 2024 | 00:04 WIB

MERAJAN : Merajan merupakan tempat suci umat Hindu yang ada di masing-masing rumah. Soal pembangunan merajan, ini lontar yang menjadi acuannya.
MERAJAN : Merajan merupakan tempat suci umat Hindu yang ada di masing-masing rumah. Soal pembangunan merajan, ini lontar yang menjadi acuannya.

BALI EXPRESS - Merajan, tempat suci umat Hindu di Bali, memiliki berbagai jenis palinggih dengan makna dan fungsinya masing-masing.

Apa yang dimaksud dengan palinggih-palinggih di dalam merajan? Menurut buku yang berjudul "Riwayat Merajan di Bali" yang ditulis oleh Ktut Soebandi, konsep merajan tersebut terdapat dalam Lontar Ithi Prakerthi yang didasarkan pada konsep Mpu Kuturan.

Dalam lontar ini dijelaskan bahwa terdapat konsep Tri Lingga, yaitu Desa, Puseh, dan Dalem.

Ada empat jenis merajan beserta jumlah palinggihnya.

Pertama, konsep Tri Lingga terdiri dari Kamulan, Taksu, dan Tugu (Panunggun karang). Merajan dengan konsep ini adalah satu rumah tangga.

Merajan ini juga dikenal dengan istilah sanggah pakomelan, meskipun menurut Pinandita Pasek, seharusnya disebut sanggah pakamulan.

"Mungkin karena kebiasaan, akhirnya menjadi pakomelan yang memiliki makna yang berbeda," katanya.

Kedua, ada konsep merajan Panca Lingga dengan lima palinggih, yaitu Kamulan, Taksu, Tugu, Pelik Sari, dan Gedong.

Merajan dengan konsep ini adalah beberapa rumah tangga yang masih satu purusha.

Istilah lain untuk merajan ini adalah Panti. Ketiga, disebut dengan Sapta Lingga, terdiri dari tujuh palinggih, yaitu Kamulan, Taksi, Tugu, Pelik Sari, Gedong, Catu, dan Manjangan Salwang.

Merajan ini disebut dadya dan disungsung oleh beberapa Panti dan Paibon. Terakhir, disebut dengan Ekadasa Papeking Dewata, terdiri dari 11 palinggih, yaitu Kamulan, Taksu, Tugu, Pelik Sari, Gedong, Catu, Manjangan Salwang, Pasarem, Limas Sari, Lirah, dan Padma, disebut dengan Dadya Agung.

Pemilik Dadya, Panti, dan Paibon merupakan panyungsungnya.

Selain palinggih-palinggih tersebut, biasanya terdapat pula palinggih pasimpangan atau panyawangan Ida Bhatara tertentu, seperti Ida Bhatara Gunung Agung, Batur, Beratan, Batukaru, Lempuyang, dan lainnya.

Menurut Ktut Soebandi, pendirian pasimpangan tersebut karena adanya kendala perbedaan wilayah di Bali pada masa itu, yang mungkin menyebabkan ketegangan.

Masyarakat mendirikan pasimpangan agar tetap dapat melakukan pemujaan.

Tidak menutup kemungkinan juga, pasimpangan dibangun karena adanya kendala jarak pada zaman dahulu.

Berikut penjelasannya:

Jenis Merajan berdasarkan Jumlah Palinggih:

1.  Tri Lingga

-  3 palinggih (Kamulan, Taksu, Tugu/Panunggun Karang)

-  Ditujukan untuk satu rumah tangga.

2.  Panca Lingga

-  5 palinggih (Kamulan, Taksu, Tugu, Pelik Sari, Gedong)

- Ditujukan untuk beberapa rumah tangga satu purusha (garis keturunan laki-laki).

3.  Sapta Lingga

-  7 palinggih (Kamulan, Taksi, Tugu, Pelik Sari, Gedong, Catu, Manjangan Salwang)

-  Ditujukan untuk beberapa Panti dan Paibon (kelompok keluarga).

4.  Ekadasa Papeking Dewata

-  11 palinggih (Kamulan, Taksu, Tugu, Pelik Sari, Gedong, Catu, Manjangan Salwang, Pasarem, Limas Sari, Lirah, Padma)

- Ditujukan untuk pemilik Dadya, Panti, dan Paibon.

Palinggih Utama di Merajan:

Palinggih Lainnya:

Alasan Pendirian Palinggih Pasimpangan:

Kesimpulan:

Merajan merupakan tempat suci yang mencerminkan nilai-nilai religius dan budaya masyarakat Hindu di Bali.

Baca Juga: Menurut Lontar Tutur Gong Besi, Ilmu Ini Wajib Dikuasai Pandita Hindu: Paling Utama Pahami Makna Sunya

Ragam palinggih di dalamnya memiliki makna dan fungsi yang penting dalam kehidupan spiritual umat.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #lontar #merajan #ithi prakerthi #hindu #mpu kuturan