Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Memahami Penggunaan Bija yang Benar dalam Agama Hindu: Beda Upacara Beda Tempat Meletakkannya

I Putu Suyatra • Sabtu, 4 Mei 2024 | 22:51 WIB
Bulan Sutena mengenakan bija
Bulan Sutena mengenakan bija

DENPASAR, BALI EXPRESS - Agama Hindu di Bali memiliki banyak aturan dan tradisi yang kompleks, termasuk dalam hal persembahyangan dan penggunaan bija.

Tak jarang, umat Hindu melakukan persembahyangan dengan meniru apa yang mereka lihat tanpa memahami maknanya.

Hal ini dapat mengakibatkan penggunaan Bija yang tidak tepat, sehingga mengurangi manfaatnya.

Bija adalah mantra suci yang memiliki kekuatan spiritual. Penggunaan Bija yang sesuai dengan tempatnya akan memberikan tingkat maksimal bagi orang yang menggunakannya.

Baca Juga: Pujawali di Pura Luhur Dang Kahyangan Rambut Siwi setiap Buda Umanis Perangbakat, Dilaksanakan Lima Hari 

Pemilihan tempat yang tepat untuk meletakkan Bija dapat memberikan manfaat maksimal bagi individu yang menggunakannya.

Terdapat perbedaan mendasar antara penggunaan Bija setelah melakukan sembahyang di pura dengan penggunaan Bija pada saat upacara maoton.

"Ketika melakukan sembahyang di pura, kita menggunakan Bija yang disebut Bija Panugerahan. Sedangkan dalam upacara maoton, Bija yang digunakan adalah Bija Pangarga," ungkap Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa penggunaan Bija Panugrahan seharusnya dilakukan dengan tepat pada beberapa bagian khusus.

Seperti di atas kepala, di antara kedua alis, di sebelah kanan dan kiri alis, serta di tenggorokan.

Kelima lokasi tersebut membentuk Tapak Dara (tanda tambah), dengan titik pusat berada di antara kedua alis, yang memiliki makna kekuatan Siwa, Sadha Siwa, dan Prama Siwa.

Penggunaan Bija Panugerahan umumnya terlihat saat melakukan persembahyangan di pura.

Sementara itu, penggunaan Bija Pangarga memiliki sedikit perbedaan dari Bija Panugerahan.

Bija Pangarga diletakkan di antara kedua alis, di kerongkongan, di telan, dan terakhir pada kedua bahu.

Dengan titik pusat berada pada kerongkongan, konsep Tapak Dara ini menggunakan kekuatan Dewa Wisnu, yang dalam hal ini sebagai Dewa Pemelihara, khususnya tubuh atau Bhuwana Alit.

Penggunaan Bija pada dasarnya merupakan simbol anugerah yang diberikan Tuhan kepada umatnya.

Menempatkan Bija sesuai dengan tempatnya akan memberikan dampak yang maksimal.

"Hal ini perlu diperhatikan bersama agar penempatan Bija menjadi benar dan fungsi serta manfaatnya menjadi maksimal," tutupnya.

Perbedaan mendasar dalam penggunaan Bija di pura dan saat upacara maoton.

1.  Saat sembahyang di pura

Digunakan Bija Panugerahan, diletakkan di atas kepala, di antara kedua alis, di sebelah kanan dan kiri alis, dan di tenggorokan, membentuk Tapak Dara (tanda tambah).

Titik center di antara kedua alis, melambangkan kekuatan Siwa, Sadha Siwa, dan Prama Siwa.

2.  Saat upacara maoton

Digunakan Bija Pangarga, diletakkan di antara kedua alis, di kerongkongan, ditelan, dan di kedua bahu.

Titik center di kerongkongan, melambangkan kekuatan Dewa Wisnu sebagai Dewa Pemelihara (Bhuwana Alit).

Penggunaan Bija yang tepat:

  • Memberikan anugerah Tuhan secara maksimal
  • Memperkuat makna spiritual persembahyangan
  • Menyelaraskan diri dengan energi ilahi

*** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #upacara #bija #hindu #penempatan #siwa