Ritual Macolongan dalm Tradisi Hindu Bali: Mengapa Jidat Harus Dipatok Ayam?
I Putu Suyatra• Senin, 27 Mei 2024 | 14:35 WIB
Tradisi mecolongan bagi umat Hindu Bali ada ritual jidat dipatok ayam.
BALI EXPRESS - Macolongan adalah salah satu ritual penting yang dilaksanakan dalam upacara Bulan Pitung Dina bagi umat Hindu Bali.
Ini adalah sebuah tradisi ucapan terima kasih kepada Nyama Bajang yang diyakini umat Hindu Bali telah menjaga dan melindungi bayi sejak dalam kandungan.
Nyama Bajang dan Catur Sanak
Nyama Bajang merupakan kekuatan spiritual yang membantu Catur Sanak, yaitu empat unsur pendukung pertumbuhan bayi: darah, yeh nyom, lamad, dan ari-ari.
Menurut beberapa sulinggih, terdapat 108 Nyama Bajang, salah satunya adalah Bajang Colong yang disimbolkan dengan dua ayam pitik.
Inilah asal mula ritual tersebut dinamakan Macolongan, seperti dijelaskan oleh Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran.
Penafsiran Makna Macolongan
Banyak yang salah mengartikan makna Macolongan, yang berasal dari kata "colong" berarti mencuri.
Meski benar bahwa artinya mencuri, dalam konteks ini yang "dicuri" bukanlah ayam pitik, melainkan mala atau sifat buruk bayi melalui simbol ayam pitik.
Ayam tersebut tidak boleh dipotong karena merupakan simbol Bajang Colong yang membantu Catur Sanak dalam menjaga bayi di dalam kandungan.
Upacara ini juga melibatkan penggunaan ayam untuk menyerap energi negatif dari bayi agar kelak ia menjadi anak yang suputra.
Detil Upacara Macolongan
Upacara Macolongan dilakukan saat bayi berumur 42 hari (satu bulan tujuh hari setelah kelahiran).
Pada saat itu, Nyama Bajang dikembalikan ke asalnya, karena tugas mereka menjaga bayi telah selesai.
Sebagai gantinya, dua ekor ayam, satu jantan dan satu betina, serta beberapa simbol lain seperti buki (periuk tanah), pusuh biu (jantung pisang), papah nyuh (pelepah kelapa), dan genjer (pelepa jaka) digunakan dalam upacara ini.
Selama upacara Macolongan, ayam pitik tidak hanya dipegang, tetapi juga dipatukkan ke jidat bayi untuk ayam jantan dan di kedua bahu bayi untuk ayam betina.
Ritual ini biasanya dilakukan oleh pemangku atau sulinggih.
Jadi, pengertian "colong" dalam konteks ini lebih mendalam.
"Yang dicuri bukan ayamnya, melainkan dosa, mala, dan sifat buruk bayi, sehingga ia bisa tumbuh menjadi anak yang baik," ujarnya.
Simbol dan Tujuan Upacara
Simbol-simbol ini mewakili berbagai bentuk Nyama Bajang, seperti Bajang Telebingkah, Bajang Pusuh, Bajang Papah, dan Bajang Raregek.
Tujuan utama upacara Macolongan adalah untuk mengucapkan terima kasih kepada bajang-bajang tersebut yang telah membantu merawat bayi selama di dalam kandungan hingga berumur 42 hari.
Setelah upacara Pacolongan selesai, bajang-bajang dipersilakan kembali ke asal masing-masing.
Dengan menghormati Nyama Bajang melalui upacara Macolongan, komunitas Bali mempertahankan tradisi yang kaya akan makna spiritual dan budaya, serta memastikan kelangsungan perlindungan dan kesejahteraan bagi generasi mendatang. ***