Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Pura Kereban Langit dan Raja Masula-Masuli, Tirta Salaka Terbukti untuk Memohon Keturunan

I Putu Mardika • Rabu, 5 Juni 2024 | 03:27 WIB

Pura Kereban Langit  di Banjar Pekandelan, Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung merupakan pura kahyangan jagat yang tergolong unik
Pura Kereban Langit di Banjar Pekandelan, Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung merupakan pura kahyangan jagat yang tergolong unik
MENGWI, BALI EXPRESS-Pura Kereban Langit yang berlokasi di Banjar Pekandelan, Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali merupakan pura kahyangan jagat yang tergolong unik.

Pura yang berada di dalam goa ini bahkan dijadikan tempat untuk melukat sekaligus memohon keturunan oleh Umat Hindu.

Tidak sulit mencari pura Kereban Langit. Dari areal parkir, Pemedek yang akan nangkil harus berjalan kaki puluhan meter dengan menuruni anak tangga menuju pura. Jalan menuju pura tersebut sudah tertata dengan rapi.

Ya, seperti namanya, Pura Kereban Langit memang unik. Nama pura diambil dari kondisi pura yang berada di dalam goa.

Namun, uniknya lubang yang cukup besar di dalam goa membuat pengunjung bisa menatap langit, sehingga seolah-olah, goa tersebut beratapkan langit.

Di pura ini terdapat mata air yang dipercaya mengeluarkan tirta Batara Wisnu. Dipercaya, pura ini telah dinamai sekitar 923 Masehi.

Pendirian pura erat kaitannya dengan cerita raja kembar, Masula-Masuli.

Pemangku Pura Kereban Langit, Jro Mangku I Ketut Witra menjelaskan, Kereban Langit, berasal dari kata “kereb” yang artinya atap, sehingga diartikan sebagai pura beratapkan langit.

Pasalnya, di dalam goa tersebut atapnya berlubang sehingga langit begitu jelas terlihat.

Jro Mangku Ketut Witra menjelaskan berdasarkan catatan Sejarah, Pura Kereban Langit memang memiliki keterkaitan Cerita dengan Raja Kembar Masula-Masuli.  

Pada tahun 923 Masehi saat pemerintahan Sri Udayana pura ini ditemukan oleh beliau yang sebelumnya mendapat pawisik dari Ida Bhatara Bhatari yang berstana di Gunung Agung.

Karena beliau lama belummendapat keturunan, Raja Udayana pun mengutus para Brahmana bersama patihnya untuk menelusuri dimana keberadaan Pura Kereban Langit.

Setelah beberapa lama proses pencarian, maka ditemukanlah pura ini di Desa Sading.

Beliau kemudian mengambil tirta Selaka yang berada di dalam goa. Pada saat itu ada seorang yang bertapa.

“Saat ditanya, apakah ada tirta selaka, kemudian yang bertapa mengaku tidak tahu. Kemudian diambilah tirta salaka dan diberikan kepada raja agar diminum kepada permaisurinya,” jelasnya.

Beberapa bulan kemudian, setelah meminum tirta tersebut, maka hamilah permaisurinya. Kemudian lahirlah si kembar Sri Masula-Masuli.

Atas keberhasilan itu, membuat sang raja senang, ia kemudian memelihara pura tersebut. Namun saat ini pura tersebut di bawah kepemilikan Raja Puri Sading.

Dikatakan Mangku Witra di tengah goa atau bagian utama mandala pura, ada tempat air suci yang dianamakan Tirta Salaka.

Tirta ini memiliki latar belakang dan sejarah unik. Keberadaan Tirta Salaka tersebut juga dipercaya untuk memohon (nunas) anak atau keturunan.

“Sehingga bagi mereka yang susah memiliki anak dan sudah dengan proses medis belum juga mendapatkan hasil, maka ada baiknya mencoba untuk memohon anugerah di Pura Kereban Langit di Desa Sading ini,” katanya.

Di dalam pura terdiri sejumlah pelinggih. Seperti pelinggih Padma yang merupakan pelinggih dari Ratu Lingsir, Ratu Ayu dan Ratu Made. Di depan padma terdapat patung terakota dan patung penjaga.

Pujawali di Pura Kereban Langit bertepatan dengan Buda Wage Ukir. Saat hari raya Hindu Bali seperti Banyupinaruh, Saraswati, siwaratari, Purnama dan tilem banyak pemedek yang nangkil untuk bersembahyang dan melukat. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#melukat #bali #keturunan #hindu bali #hindu #pura