Tetapi juga menjadi tempat untuk memohon sarana nangluk merana.
Pengempon Pura Ulun Swi Jimbaran, I Wayan Eka Santa Purwita menuturkan di pura ini ada tempat memohon banten nangluk merana.
Sarana ini bisa ditaburkan di kebun, agar bisa menanggulangi hama.
Selain pantangan melaksanakan persembahyangan saat Buda Wage dan Buda Kliwon, di pura ini umat Hindu yang nangkil akan dibuat kaget, karena terdapat kuburan.
Tapi, ini bukan kuburan untuk jasad manusia. Masyarakat setempat menyebut Setra alit namanya, sebelah meru.
Fungsinya, ketika rahina tumpek kandang, sekar ida bhatara akan digeseng, lalu dibuatkan upacara seperti orang meninggal kemudian dikubur di setra alit ini.
Bunga yang digeseng lalu dikubur itu adalah sarana yang digunakan untuk menghias Ida Bhatara saat pujawali yang jatuh pada Saat Sukra Paing Wuku Dunggulan, atau dua hari setelah Hari Raya Galungan.
Kemudian bertepatan pada Tumpek Kandang, maka ada proses membakar puspa (bunga) Ida Bhatara dan dikubur di pojok barat daya meru.
Baca Juga: Jangan Coba-Coba Nangkil Ke Pura Ulun Swi Jimbaran saat Buda Wage atau Buda Kliwon, Akibatnya Fatal
“Pertimbangannya ada piteket agar saat ngias Ida Bhatara ketika pujawali, setelah selesai dan nyineb, maka sekar ida Bhatara masih berada di meru saat tumpek kendang itulah harus ngeseng,” sebutnya.
Di Pura Ulun Swi Jimbaran terdapat tinggalan budaya dari Pura Kahyangan Jagat Ulun Swi di Jimbaran adalah berupa Pelinggih Meru Tumpang Sebelas yang merupakan peninggalan I Gusti Agung Dimade.
Saat ini seluruh gapura dan tembok penyengker pura terbuat dari bahan batu andesit berwarna hitam.
Pada masa lalu, gapura pintu masuk dan tembok penyengker pura terbuat dari bahan batu bata dan batu batu padas
Meru timpan solas ini unik karena kayunya diyakini sudah ada sejak abad ke 11. Meskipun meru ini juga mengalami renovasi di bagian atap.
Bangunan ini juga tidak menggunakan paku. Bahkan, saat ada gempa bumi meru ini tidak ada yang rusak, melainkan hanya bergoyang saja.
Baca Juga: Ritual Sujud Unik di Pura Kancing Gumi: Disebut Memiliki Makna Sangat Dalam
Di muka meru besar bertumpang 11 di Pura Ulun Swi itu, terdapat arca kuno, tipe abad ke-17, yang diletakkan berjejer, yaitu Arca Dewata Nawa Sangga, berbentuk Rudra di Selatan, Arca Panca Pandawa, berbentuk Bhima di Tengah dan Arca Dewa Astha Wasu, berbentuk Gana Patya di Utara. Diduga arca-arca tersebut adalah suatu kronogram.
Kalau dugaan itu benar, maka dapatlah diartikan: Arca Dewata Nawa Sangga bernilai 9, Arca Panca Pandawa bernilai 5, Arca Dewa Astha Wasu bernilai 8.
Oleh karena berbentuk kronogram, maka pembacaannya adalah dari kiri ke kanan, sehingga menunjukan angka 958 Saka atau 1036 Masehi. (dik)
Editor : I Putu Mardika