BALIEXPRESS.ID - Tari Rejang Renteng kini kembali menjadi sorotan. Setiap piodalan di tempat suci di Bali, tarian ini selalu dipersembahkan secara kompak sebagai wujud bhakti kepada Yang Mahasempurna.
Fenomena ini menggambarkan kebangkitan dan pelestarian sebuah tradisi sakral yang semakin dikenal di pelosok Bali.
Simbol Kesederhanaan yang Penuh Makna
Tari Rejang Renteng dikenal dengan penampilan yang sederhana. Para penari mengenakan kebaya putih dan kain kuning sebagai wujud kesederhanaan dalam persembahan yang luhur kepada para dewa-dewi.
Salah satu seniman tari dan penari Rejang Renteng, Ni Ketut Maskardenawangi, mengungkapkan bahwa setiap tarian Bali memiliki sejarah dan pesan tersendiri.
“Gerakan Rejang Renteng sangat sederhana. Kebanyakan penarinya adalah ibu-ibu, sehingga terlihat sangat anggun,” jelas Maskar ketika diwawancarai akhir pekan lalu.
Meski didominasi oleh ibu-ibu, Maskar menambahkan bahwa pemudi dan anak-anak perempuan juga bisa menarikan tarian ini, terutama saat upacara keagamaan.
Kini, tarian ini telah menjadi tren di berbagai desa di Bali, dengan ibu-ibu PKK secara kompak menarikan Rejang Renteng.
Maskar merasa bangga, karena melalui tarian ini, selain ngayah (berbakti), mereka juga turut melestarikan tradisi.
"Sejak ibu-ibu PKK mulai menari Rejang Renteng, mereka semakin kompak," akunya.
Pengaruh Positif bagi Masyarakat
Maskar, yang juga istri dari Kelihan Dinas Banjar Mas, Ubud, berperan aktif dalam menggerakkan ibu-ibu PKK di banjarnya untuk belajar menari Rejang Renteng.
Ia melihat adanya peningkatan hubungan sosial yang lebih harmonis di banjar melalui latihan bersama tarian ini.
Sebagai tari wali (tarian sakral), Rejang Renteng dipentaskan saat upacara di pura, dan sangat tidak tepat jika ditarikan di acara formal non-religius.
Sebagai tarian yang dipersembahkan untuk Dewa, Rejang Renteng adalah tarian yang disakralkan.
Tarian ini juga memerlukan upakara (persembahan) khusus sebelum pementasannya.
Maskar menegaskan bahwa Rejang Renteng bukanlah ajang pameran busana, karena pakaian yang dikenakan sangat sederhana, yaitu kebaya putih dan kain kuning.
"Tujuan menari di pura adalah ngayah dan didasari ketulusan," tambahnya.
Melalui kegiatan menari ini, Maskar berharap dapat mengubah persepsi masyarakat tentang ibu-ibu yang sering dikaitkan dengan aktivitas bergosip ketika berkumpul.
"Kami ingin menunjukkan bahwa berkumpul bisa untuk kegiatan positif, seperti ngayah," ungkap ibu dua anak tersebut.
Makna Gerakan Tari Rejang Renteng
Gerakan dalam Tari Rejang Renteng memiliki makna mendalam, yaitu sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Pencipta.
Beberapa gerakan utama dalam tarian ini adalah Nyalud dan Ngelung. Nyalud adalah gerakan tangan yang membuka dan menutup di depan dada dengan posisi kaki bergantian.
Sedangkan Ngelung adalah gerakan membungkukkan tubuh ke kanan dan kiri, disertai satu tangan lurus ke samping dan satu menekuk ke arah dada.
Tarian ini diakhiri dengan gerakan memande, di mana para penari memegang selendang penari lain membentuk lingkaran tanpa putus.
Harapan Pelestarian Tarian Rejang Renteng
Dosen UHN Sugriwa Denpasar, Anak Agung Pertu, berharap Tarian Rejang Renteng tidak hanya menjadi tren sesaat.
"Tarian ini seharusnya murni dilestarikan sebagai bagian dari budaya Bali, bukan sekadar mengikuti zaman. Saya berharap Rejang Renteng tetap ada di setiap upacara, bahkan ketika tren berubah," jelas pria asli Batubulan, Gianyar ini.
Rejang Renteng tidak hanya dikenal sebagai tarian sakral, tetapi juga dianggap sebagai pangider bhuana, sebuah tarian yang mengelilingi dan melestarikan alam semesta.
Tarian ini sering disandingkan dengan Tari Gabor karena gerakannya yang sederhana namun penuh makna, terutama ketika ditarikan oleh kaum ibu yang lembut.
Anak Agung Pertu juga menyebutkan bahwa Rejang Renteng kini semakin dikenal karena kajian khusus yang dilakukan oleh akademisi dan seniman tari.
Ia melihat bahwa tarian ini menjadi media untuk meningkatkan interaksi sosial di antara ibu-ibu yang biasanya lebih banyak berdiam di rumah.
"Mereka bukan hanya datang ke pura untuk menghaturkan banten, tetapi juga bisa ngayah menari bersama," tambahnya.
Kesederhanaan dan Keharmonisan dalam Tarian
Dia menjelaskan bahwa Rejang Renteng adalah tarian berkelompok yang diikuti oleh banyak penari.
Pakaian penari sangat sederhana, hanya dengan selendang yang panjang, diikat bersama dalam satu renteng menggunakan benang putih.
Tarian ini biasanya diiringi oleh musik sederhana yang tidak banyak memainkan pola kotekan, tetapi tetap halus, ritmis, dan dinamis.
Filosofi Mendalam di Balik Tari Rejang Renteng
Tari Rejang Renteng memiliki pesan mendalam tentang keselarasan hidup. Tarian ini mengajarkan setiap orang untuk melepaskan ego pribadi, menyamakan ritme dengan orang lain, tanpa ada rasa iri atau dengki.
Dalam Rejang Renteng, tidak ada persaingan, melainkan kebersamaan yang penuh kasih, di mana setiap penari bekerja sama menuju jalan yang diberkati Tuhan.
Tarian ini berasal dari Banjar Saren, Nusa Penida, Klungkung, dan biasanya ditarikan oleh mereka yang sudah dewasa atau tua.
Kesederhanaan tarian ini tidak hanya terlihat dari kostum, yang terdiri dari kebaya putih, kain kuning, dan bunga jepun di rambut, tetapi juga dalam gerakan yang halus dan harmonis dengan musik.
Tari Rejang Renteng menjadi simbol kebersamaan, ketulusan, dan pengabdian kepada Sang Pencipta, serta pelestarian tradisi yang harus terus diwariskan kepada generasi mendatang. ***
Editor : I Putu Suyatra