Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kuningan dan Kesadaran Diri: Momentum Memuliakan Tri Śarīra di Era Digital

I Putu Mardika • Minggu, 30 November 2025 | 23:37 WIB

 

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi
BALIEXPRESS.ID-Hari Suci Kuningan tidak hanya menjadi penanda berakhirnya rangkaian Hari Raya Galungan, tetapi juga sebuah momentum spiritual untuk kembali menyapa kesadaran terdalam sebagai manusia.

Dalam ajaran Hindu, proses mencapai jnana pengetahuan sejati bermula dari pemahaman utuh tentang Tri Śarīra, yang terdiri atas Stūla Śarīra (tubuh kasar), Sūkṣma Śarīra (tubuh halus), dan Antah Kāraṇa Śarīra (tubuh penyebab).

Kuningan hadir sebagai ruang hening bagi umat Hindu untuk menata kembali tubuh, pikiran, dan jiwa, khususnya di tengah derasnya arus kehidupan digital yang serba cepat.

Makna ini ditegaskan dalam Lontar Sundarigama, sumber utama yang memuat pijakan filosofis tentang Galungan dan Kuningan. Salah satu kutipannya berbunyi, “Rangda ring amangkya, dewatā teka ring angga” yang berarti pada Hari Kuningan para dewa hadir menyertai tubuh dan kesadaran manusia.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd., menjelaskan bahwa sloka ini menggambarkan turunnya energi sattvika untuk membantu umat menata kejernihan pikiran, kesehatan batin, dan kesucian tujuan hidup.

Karena itu, memuliakan Tri Śarīra pada Kuningan berarti membuka diri agar tubuh, pikiran, dan jiwa dapat disentuh cahaya ketuhanan.

Pada tingkat pertama, Stūla Śarīra sebagai tubuh kasar yang dipahami sebagai media utama untuk menjalankan dharma. Taittirīya Upaniṣad menegaskan pentingnya kesadaran tubuh melalui ajaran Annamayo’nnamayenaiva jīvati, yang bermakna bahwa tubuh hidup dari apa yang kita asup.

Di era digital, tubuh bekerja lebih berat atau kurang gerak, kurang istirahat, dan sering terjebak dalam kebiasaan serba cepat.

Lontar Sundarigama mengajarkan simbol tamiang dan endogan sebagai perlambang perlindungan dan keseimbangan, mengingatkan bahwa tubuh harus dijaga dari “serangan adharma” berupa stres, penyakit, maupun pola hidup tidak sehat.

Irma menyebut bahwa perayaan Kuningan menjadi kesempatan untuk mengatur ulang pola makan, tidur, aktivitas fisik, serta merawat tubuh dari kelelahan digital.

Sementara itu, Sūkṣma Śarīra tubuh halus yang mencakup pikiran, perasaan, dan prana—adalah bagian yang paling rentan goyah di era informasi. Pikiran mudah terseret opini, emosi diombang-ambingkan berita, dan energi halus terkuras tanpa disadari.

Bhagavad Gītā 6.5 menekankan pentingnya kemampuan mengangkat diri melalui disiplin batin. Dalam tradisi Kuningan, umat dianjurkan melakukan kontemplasi, pengulangan mantra, serta mengurangi paparan informasi berlebih.

“Lontar Sundarigama menyebut bahwa pada hari ini para dewa membawa ketenangan pikiran dan kejernihan buddhi, bagi mereka yang tulus bersembahyang. Kuningan menjadi jeda suci untuk memurnikan pikiran di tengah kebisingan digital,” katanya.

Pada aspek terdalam, Antah Kāraṇa Śarīra merupakan sumber niat suci, karma, dan bibit dharma. Lontar Sundarigama menggambarkan Kuningan sebagai saat ketika atma dibersihkan oleh sinar keemasan, sehingga manusia mampu melihat orientasi hidupnya secara lebih terang.

Ajaran Tat Tvam Asi dari Chandogya Upaniṣad turut menegaskan bahwa manusia berasal dari cahaya suci. Karena itu, Kuningan mendorong refleksi mendasar, apakah keputusan hidup lahir dari kesadaran atau hanya mengikuti tren digital? Apakah teknologi mendukung pertumbuhan diri atau justru menjauhkan manusia dari jati dirinya?

Dalam konteks digitalisasi, pesan Lontar Sundarigama menjadi sangat relevan. Ajaran “Maya ring awak, tan wikan sangkāra” mengingatkan agar manusia tidak terperdaya ilusi—sebuah peringatan penting di tengah maraknya hoaks dan manipulasi digital.

 “Linggihang dewa ring manah” menegaskan perlunya menghadirkan kesucian dalam pikiran, bukan hanya konten cepat dan sensasional. Sedangkan ajaran “Suksmeng angga, suksma dewakang teka” menekankan bahwa kelembutan batin merupakan syarat hadirnya cahaya spiritual.

Pada akhirnya, esensi Kuningan adalah cermin bagi setiap umat untuk melihat diri sendiri: apakah tubuh telah dihormati, pikiran dijernihkan, dan jiwa disinari ketulusan? Bila iya, maka Kuningan telah bekerja dalam diri.

“Bila belum, Kuningan menjadi awal perjalanan untuk kembali pulang ke pusat kesadaran,” sebutnya.

Hari suci ini mengingatkan bahwa cahaya para dewa hanya dapat masuk ke dalam diri yang dijaga melalui keharmonisan tubuh, pikiran, dan jiwa, sebuah pesan yang semakin penting di era digital yang serba cepat. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#jnana #hindu #era digital #kuningan #Tri Sarira