Fenomena inilah yang diangkat dalam refleksi Buda Cemeng Menail oleh Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd., Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula. Ia menyoroti pertanyaan mendasar yang relevan bagi umat hari ini: mengapa manusia begitu mudah merasa senang, tetapi sulit menemukan kebahagiaan sejati?
Menurutnya, momentum Buda Cemeng Menail menjadi ruang kontemplatif yang penting untuk menjawab kegelisahan tersebut. Dalam tradisi Hindu Bali dan Nusantara, sistem ritus tidak sekadar seremoni, melainkan sarat nilai pembelajaran spiritual.
Hari suci Buda Cemeng yang jatuh setiap Rabu Wage diperingati sebagai pemujaan kepada Bhatari Sri (Dewi Padi) dan Bhatari Manik Galih (Dewi Beras).
Umat meyakini pada hari itu kedua manifestasi sakral tersebut turun ke dunia untuk menganugerahkan kesuburan dan kehidupan bagi jagat raya (umredyaken hurip ring jagat).
Merujuk pada Lontar Sundarigama sebagaimana dikaji I Made Suarka, Buda Cemeng dimaknai sebagai simbol pikiran yang kosong dan sempurna karena terputus dari ikatan nafsu indria (Budha Cemeng Ngaran Ajnana Suksma, Pamegat Ing Indriya). Oleh sebab itu, Buda Cemeng Menail dipahami sebagai hari pengendalian diri, pengendapan gejolak indria, serta penataan ulang kesadaran.
“Buda Cemeng adalah jeda spiritual di tengah dunia yang terlalu cepat dan berisik,” jelas Susanthi.
Dalam ajaran Hindu dikenal dua rasa yang sering dianggap sama, namun sejatinya berbeda, yakni sukha dan śānti. Sukha adalah rasa senang yang lahir dari pemuasan indria. Ia menyenangkan, tetapi sifatnya sementara. Sebaliknya, śānti adalah kedamaian batin yang lahir dari kesadaran, pengendalian diri, dan keterhubungan dengan Dharma.
“Sukha datang dan pergi. Śānti menetap dalam nilai spiritualitas,” tegasnya.
Penjelasan ini sejalan dengan ajaran dalam Bhagavad Gītā. Dalam Bhagavad Gītā 5.22, Sri Kṛṣṇa menegaskan bahwa kenikmatan yang lahir dari sentuhan indria pada hakikatnya menjadi sumber penderitaan karena memiliki awal dan akhir. Orang bijaksana tidak melekat padanya.
Sloka tersebut mengingatkan bahwa kesenangan yang bersumber dari benda, pujian, maupun pengakuan sosial hanya memberikan sensasi sesaat, lalu meninggalkan kekosongan yang menuntut pemuasan ulang. Inilah yang membuat manusia modern mudah merasa senang, namun tetap sulit bahagia.
Sebaliknya, kebahagiaan sejati dalam Hindu berkaitan erat dengan kesadaran atas tujuan kelahiran manusia. Kelahiran sebagai manusia (manuṣya janma) dipandang sebagai anugerah mulia, karena hanya dalam wujud inilah seseorang mampu membedakan yang benar dan yang semu.
Dalam Bhagavad Gītā 6.23 ditegaskan bahwa yoga adalah keterpisahan dari penderitaan dan harus dijalani dengan tekad serta keteguhan hati. Yoga di sini tidak dimaknai sebatas gerak tubuh, melainkan latihan kesadaran untuk melepaskan keterikatan berlebihan terhadap sukha, sehingga batin mencapai śānti.
“Bahagia bukan berarti menolak kesenangan, tetapi tidak diperbudak olehnya,” ungkap Susanthi.
Refleksi Buda Cemeng Menail menjadi pengingat simbolik dan praktis. Dengan mengurangi aktivitas yang memicu kesenangan indria, umat diajak kembali ke dalam diri. Keheningan bukanlah kekosongan, melainkan ruang bagi kebijaksanaan untuk bertumbuh.
Di tengah kehidupan sosial saat ini, isu tersebut terasa sangat faktual. Banyak keluarga terlihat harmonis di luar, tetapi rapuh di dalam. Anak-anak tumbuh cepat secara digital, tetapi miskin ketenangan batin. Orang dewasa produktif secara ekonomi, tetapi mengalami kelelahan spiritual.
Bhagavad Gītā 2.66 menyatakan bahwa tanpa pengendalian diri tidak ada kebijaksanaan; tanpa kebijaksanaan tidak ada perenungan; tanpa perenungan tidak ada kedamaian; dan tanpa kedamaian, tidak mungkin ada kebahagiaan.
Melalui perenungan Buda Cemeng Menail, umat diajak menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa dalam pemahaman terhadap diri sendiri. Ketika kesenangan mulai dikendalikan, di situlah kebahagiaan menemukan tempatnya.
“Sukha membuat kita tersenyum, tetapi śānti membuat kita mengerti,” tutup Susanthi.
Refleksi ini juga mengandung pesan etis yang lebih luas: belajar bahagia tanpa melukai, tenang tanpa menghakimi, serta menumbuhkan empati dalam kehidupan bersama. Tidak ada yang ditinggikan dan tidak ada yang direndahkan. Sukha adalah rasa, śānti adalah arah. Keduanya berjalan bersama menuju welas asih. (dik)
Editor : I Putu Mardika