alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Bisnis Properti Masih Bergerak Positif

DENPASAR, BALI EXPRESS – Bisnis properti masih bergerak positif sepanjang tahun 2021. Berdasarkan indikator di perbankan, transaksi pembelian rumah pada kuartal II tahun 2021 sebelum PPKM tercatat naik sekitar 30 persen dari tahun sebelumnya. Kendati demikian, PPKM tetap memberi pengaruh meski tak begitu menekan.

Saat ini, menurut Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Bali, I Gede Suardita, pihaknya di REI yang umur perusahaannya rata-rata di atas lima tahun, memang belum memiliki aktivitas proyek sebanyak sebelum pandemi Covid-19. Tetapi para anggota REI selama lebih dari satu setengah tahun ini sudah mulai beradaptasi dalam kondisi pandemi. 

“Jadi selama satu setengah tahun kita mulai beradaptasi, khususnya segmen-segmen mana yang bisa dijalani, sesuai dengan skala prioritas. Sekarang ini, di Bali khususnya beadlock perumahan sekitar 15 ribu tahun 2021 ini, sedangkan supply untuk perumahan tidak sampai segitu. Cuman memang segmen khususnya beadlock 15 ribu rata-rata di atas 50 persen itu semua MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) otomatis yang bisa memainkan peranan banyak itu rumah subsidi,” paparnya saat dihubungi Jumat (1/10).

Suardita mengakui, penjualan properti memang turun, tetapi untuk rumah subsidi tetap terjaga. Namun pada kondisi ini klasifikasi developer dengan konsumennya betul-betul disaring. “Situasinya kan kita tidak tahu pandemi ini kapan akan berakhir. Tapi kami tetap berusaha optimis. Karena properti ini satu dari tiga kebutuhan pokok yaitu papan. Jadi otomatis butuh rumah, apalagi untuk keluarga baru. Kembali lagi segmennya yang berubah,” kata dia.

Sebelum pandemi, masyarakat berkeinginan membeli properti yang bagus. Namun sekarang, masyarakat cenderung membeli properti khusus untuk kebutuhan ditinggali. “Walaupun kategori kecil, yang penting masih bisa ditempati. Itulah yang dicari sekarang,” tambahnya.

Ia menyebutkan, peminat properti di Bali cukup banyak. Mulai dari kalangan lokal, domestik, bahkan hingga mancanegara. Sebab, Bali selain dikenal sebagai destinasi wisata, juga sebagai destinasi untuk berinvestasi dalam hal properti. Kalangan-kalangan tersebut terpikat memiliki properti di wilayah Bali. “Ini yang membuat Bali berbeda dengan wilayah-wilayah lainnya. Makanya di Bali selain properti yang konvensional seperti rumah-rumah, villa, itu laris-manis di Bali. Bahkan sampai sekarang pun masih ada pembelinya,” ungkap dia.

Bahkan, dia menuturkan, saat pandemi ini justru banyak masyarakat berburu properti sekelas villa dan hotel di Bali. Begitu pula dilihat dari transaksi yang mulai naik lantaran kini untuk villa maupun hotel dijual dengan harga miring. “Malahan transaksi khusus untuk hotel dan villa ini naik saat pandemi, karena banyak pelaku pariwisata yang mulai putus asa. Jadi sekarang lebih banyak yang menjual. Tetapi rata-rata properti tidak turun (drastis), mungkin ada diskon atau koreksi-koreksi harga sekitar 30 persen,” katanya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Bisnis properti masih bergerak positif sepanjang tahun 2021. Berdasarkan indikator di perbankan, transaksi pembelian rumah pada kuartal II tahun 2021 sebelum PPKM tercatat naik sekitar 30 persen dari tahun sebelumnya. Kendati demikian, PPKM tetap memberi pengaruh meski tak begitu menekan.

Saat ini, menurut Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Bali, I Gede Suardita, pihaknya di REI yang umur perusahaannya rata-rata di atas lima tahun, memang belum memiliki aktivitas proyek sebanyak sebelum pandemi Covid-19. Tetapi para anggota REI selama lebih dari satu setengah tahun ini sudah mulai beradaptasi dalam kondisi pandemi. 

“Jadi selama satu setengah tahun kita mulai beradaptasi, khususnya segmen-segmen mana yang bisa dijalani, sesuai dengan skala prioritas. Sekarang ini, di Bali khususnya beadlock perumahan sekitar 15 ribu tahun 2021 ini, sedangkan supply untuk perumahan tidak sampai segitu. Cuman memang segmen khususnya beadlock 15 ribu rata-rata di atas 50 persen itu semua MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) otomatis yang bisa memainkan peranan banyak itu rumah subsidi,” paparnya saat dihubungi Jumat (1/10).

Suardita mengakui, penjualan properti memang turun, tetapi untuk rumah subsidi tetap terjaga. Namun pada kondisi ini klasifikasi developer dengan konsumennya betul-betul disaring. “Situasinya kan kita tidak tahu pandemi ini kapan akan berakhir. Tapi kami tetap berusaha optimis. Karena properti ini satu dari tiga kebutuhan pokok yaitu papan. Jadi otomatis butuh rumah, apalagi untuk keluarga baru. Kembali lagi segmennya yang berubah,” kata dia.

Sebelum pandemi, masyarakat berkeinginan membeli properti yang bagus. Namun sekarang, masyarakat cenderung membeli properti khusus untuk kebutuhan ditinggali. “Walaupun kategori kecil, yang penting masih bisa ditempati. Itulah yang dicari sekarang,” tambahnya.

Ia menyebutkan, peminat properti di Bali cukup banyak. Mulai dari kalangan lokal, domestik, bahkan hingga mancanegara. Sebab, Bali selain dikenal sebagai destinasi wisata, juga sebagai destinasi untuk berinvestasi dalam hal properti. Kalangan-kalangan tersebut terpikat memiliki properti di wilayah Bali. “Ini yang membuat Bali berbeda dengan wilayah-wilayah lainnya. Makanya di Bali selain properti yang konvensional seperti rumah-rumah, villa, itu laris-manis di Bali. Bahkan sampai sekarang pun masih ada pembelinya,” ungkap dia.

Bahkan, dia menuturkan, saat pandemi ini justru banyak masyarakat berburu properti sekelas villa dan hotel di Bali. Begitu pula dilihat dari transaksi yang mulai naik lantaran kini untuk villa maupun hotel dijual dengan harga miring. “Malahan transaksi khusus untuk hotel dan villa ini naik saat pandemi, karena banyak pelaku pariwisata yang mulai putus asa. Jadi sekarang lebih banyak yang menjual. Tetapi rata-rata properti tidak turun (drastis), mungkin ada diskon atau koreksi-koreksi harga sekitar 30 persen,” katanya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/