alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Peminat Tinggi di Bali, Tren Desain Paludarium Alam Lagi Naik Daun

DENPASAR, BALI EXPRESS -Makin hari desain interior semakin berkembang seiring perkembangan zaman. Selain memanfaatkan teknologi, penggunaan bahan alam juga semakin diminati. Namun, diperlukan ide yang tepat agar desain terlihat unik, indah, estetik dan tentunya enak dipandang mata.

Salah satu desain yang kini sedang trending yakni Paludarium lagi naik daun. Konsep desain ini memadukan bahan-bahan alami yang dirangkai sedemikian rupa agar membentuk sebuah pemandangan alam yang natural dan memiliki nikai estetika yang tinggi.

Memang terlihat sederhana, namun prosesnya sangat rumit. Dengan proses yang tidak main-main, cuan yang didapat juga tidak main-main, bahkan sampai ratusan juta. Seperti pengalaman Kadek Sudila Sudarsana.

Ia menceritakan Paludarium ini bagaikan landscape alam yang natural bisa dibentuk sedemikian rupa agar sama persis atau paling tidak menyerupai kondisi aslinya. “Kalau bisa dibilang ini bisnis yang menjanjikan. Peminatnya sangat besar di Bali. Mungkin karena kebutuhan juga, karena di kota sudah jenuh, maka interiornya dipadukan dengan kondisi di alam yang asri,” ujar Sudila Sudarsana saat mengerjakan proyek di salah satu rumah di Jalan Gatot Subroto, Denpasar.

Baca Juga :  Kelola Gianyar Mineral Water, Tirta Sanjiwani Butuh 6 Pejabat 

Bahan-bahan utamanya semua alami. Tinggal kini bagaimana merancang konsep sesuai dengan permintaan. “Bahannya dari tanaman tropis, ada yang didapat dari luar Bali juga, terutama Kayu Santigi,” jelasnya.

Dalam satu tahun, ia mengaku bisa mendapat proyek 3 sampai 4 kali. Meski terbilang sedikit, tapi hasil yang didapat tidaklah sedikit pula, bahkan mencapai ratusan juta. “Saya pernah membuat yang Rp 80 juta, bahkan pernah kerjakan yang harganya Rp 500 juta. Itu saya kerjakan tahun lalu,” bebernya.

Sementara konsep yang ia kerjakan saat ini adalah vertical garden, dimana terdapat sebuah kolam yang dikelilingi oleh tanaman seperti di hutan pada umumnya dengan kenampakan menjulang ke atas.

Baca Juga :  Tumbuh 7,07 Persen, BPS Sebut Indonesia Lepas dari Resesi Ekonomi

Selain itu, Sudila Sudarsana juga menambahkan alat yang bisa menyemprotkan air seperti embun yang bisa menyala otomatis sesuai dengan kebutuhan. “Jika di lokasi dataran rendah apalagi musim kemarau, timer bisa diatur untuk menyalakan air 4-5 kali sehari. Kalau di daerah pegunungan cukup 1 kali sehari saja karena sudah lembab,” terangnya.

Sementara itu, Putu Pradnya Teguh Wisesa dari pihak SHL Asia selaku kontraktor yang dipercayakan untuk menggarap proyek klien tersebut menjelaskan, konsep yang digarap dan dikerjakan oleh Kadek Sudila Sudarsana ini yakni konsep campuhan. Dan konsep ini memang ide dari pihak SHL Asia sendiri .

“Kami memang memiliki ciri khas desain nature dan art. Dan setiap pengerjaannya kami percayakan kepada bli Kadek Sudarsana,” ujar Teguh Wisesa.






Reporter: I Dewa Made Krisna Pradipta

DENPASAR, BALI EXPRESS -Makin hari desain interior semakin berkembang seiring perkembangan zaman. Selain memanfaatkan teknologi, penggunaan bahan alam juga semakin diminati. Namun, diperlukan ide yang tepat agar desain terlihat unik, indah, estetik dan tentunya enak dipandang mata.

Salah satu desain yang kini sedang trending yakni Paludarium lagi naik daun. Konsep desain ini memadukan bahan-bahan alami yang dirangkai sedemikian rupa agar membentuk sebuah pemandangan alam yang natural dan memiliki nikai estetika yang tinggi.

Memang terlihat sederhana, namun prosesnya sangat rumit. Dengan proses yang tidak main-main, cuan yang didapat juga tidak main-main, bahkan sampai ratusan juta. Seperti pengalaman Kadek Sudila Sudarsana.

Ia menceritakan Paludarium ini bagaikan landscape alam yang natural bisa dibentuk sedemikian rupa agar sama persis atau paling tidak menyerupai kondisi aslinya. “Kalau bisa dibilang ini bisnis yang menjanjikan. Peminatnya sangat besar di Bali. Mungkin karena kebutuhan juga, karena di kota sudah jenuh, maka interiornya dipadukan dengan kondisi di alam yang asri,” ujar Sudila Sudarsana saat mengerjakan proyek di salah satu rumah di Jalan Gatot Subroto, Denpasar.

Baca Juga :  Susu Kurma Sehat Ala Abhigail, Gunakan Kurma Sukari dan Garam Himalaya

Bahan-bahan utamanya semua alami. Tinggal kini bagaimana merancang konsep sesuai dengan permintaan. “Bahannya dari tanaman tropis, ada yang didapat dari luar Bali juga, terutama Kayu Santigi,” jelasnya.

Dalam satu tahun, ia mengaku bisa mendapat proyek 3 sampai 4 kali. Meski terbilang sedikit, tapi hasil yang didapat tidaklah sedikit pula, bahkan mencapai ratusan juta. “Saya pernah membuat yang Rp 80 juta, bahkan pernah kerjakan yang harganya Rp 500 juta. Itu saya kerjakan tahun lalu,” bebernya.

Sementara konsep yang ia kerjakan saat ini adalah vertical garden, dimana terdapat sebuah kolam yang dikelilingi oleh tanaman seperti di hutan pada umumnya dengan kenampakan menjulang ke atas.

Baca Juga :  Angkat Cita Rasa Cokelat Jembrana Melalui Cokelat Morning

Selain itu, Sudila Sudarsana juga menambahkan alat yang bisa menyemprotkan air seperti embun yang bisa menyala otomatis sesuai dengan kebutuhan. “Jika di lokasi dataran rendah apalagi musim kemarau, timer bisa diatur untuk menyalakan air 4-5 kali sehari. Kalau di daerah pegunungan cukup 1 kali sehari saja karena sudah lembab,” terangnya.

Sementara itu, Putu Pradnya Teguh Wisesa dari pihak SHL Asia selaku kontraktor yang dipercayakan untuk menggarap proyek klien tersebut menjelaskan, konsep yang digarap dan dikerjakan oleh Kadek Sudila Sudarsana ini yakni konsep campuhan. Dan konsep ini memang ide dari pihak SHL Asia sendiri .

“Kami memang memiliki ciri khas desain nature dan art. Dan setiap pengerjaannya kami percayakan kepada bli Kadek Sudarsana,” ujar Teguh Wisesa.






Reporter: I Dewa Made Krisna Pradipta

Most Read

Artikel Terbaru

/