alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Pertumbuhan Kendaraan Listrik di Bali Masih Lambat

DENPASAR, BALI EXPRESS – Tahun 2021, nampaknya pertumbuhan kendaraan listrik di Bali masih bergerak lambat. Pasalnya, harga per unit untuk kendaraan listrik masih terbilang cukup tinggi. Selain itu, efek pandemi Covid-19 banyak investor yang menahan diri karena pangsa pasar masih berkurang. Demikian yang disampaikan MSB Strategi Pemasaran PLN UID Bali, Oscar Praditya.

“Mereka investasinya tertahan dulu karena memang pangsa pasarnya masih berkurang. Tapi antuasias dari investor ini sangat menarik posisi tahun depan. Sebab tahun depan beberapa kendaraan mobil listrik akan lebih murah dari tahun sekarang,” ujarnya, Minggu (3/10). 

Di Jakarta sendiri, menurutnya, pertumbuhan listrik sudah mencapai 45 persen. Bali masih tertahan lantaran penggunaan mobil listrik masih difokuskan untuk penggunaan di pariwisata. “Jadi lebih menyewakan (kendaraan listrik). Untuk pribadi, jarang. Di Jakarta, karena macet, ada kepentingan, dan lebih efisien jadi mobil listrik ketika digunakan di tengah kemacetan itu jaraknya lebih jauh, jadi lebih irit kalau macet,” ungkapnya.

Untuk keiritannya, Praditya menggambarkan, jika dibandingkan dengan penggunaan BBM, ketika seseorang memakai motor listrik, satu kali pengecasan hanya butuh Rp 2 ribu dengan jarak 50 km. Sedangkan untuk motor pada umumnya, dengan jarak 50 km BBM yang dibeli sebesar Rp 7 ribuan. “Jadi penghematannya cukup signifikan ketika kita menggunakan (kendaraan listrik). Itu baru sisi pembelian, belum dari sisi maintenance seperti service rutin dan lainnya,” kata dia.

Ia menilai, jika harga mobil listrik sudah berada di bawah Rp 400 juta, maka akan banyak orang yang ingin beralih ke mobil listrik. 

Disamping itu, PLN juga menyediakan subsidi atau stimulus bagi pengguna kendaraan listrik. Yakni dengan pemberian diskon sebesar 30 persen. “Subsidinya memang sudah ada diberlakukan oleh Pemda setempat berupa pajak. Kalau di listriknya, kita melakukan pendekatan. Karena mobil listrik itu lebih ke arah pribadi dan lebih lama parkirnya di rumah, maka kita memberikan pendekatan untuk fasilitas home charging,” kata dia. “Jadi ketika pelanggan memasang charging di rumah, dengan tipa AC yang dayanya 7.700 maka ketika mereka mengecas mobil dari pukul 22.00 Wita sampai pukul 04.00 Wita, kita akan berikan diskon 30 persen. Jadi stimulusnya kita berikan ke arah rumah-rumah seperti itu,” tambahnya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Tahun 2021, nampaknya pertumbuhan kendaraan listrik di Bali masih bergerak lambat. Pasalnya, harga per unit untuk kendaraan listrik masih terbilang cukup tinggi. Selain itu, efek pandemi Covid-19 banyak investor yang menahan diri karena pangsa pasar masih berkurang. Demikian yang disampaikan MSB Strategi Pemasaran PLN UID Bali, Oscar Praditya.

“Mereka investasinya tertahan dulu karena memang pangsa pasarnya masih berkurang. Tapi antuasias dari investor ini sangat menarik posisi tahun depan. Sebab tahun depan beberapa kendaraan mobil listrik akan lebih murah dari tahun sekarang,” ujarnya, Minggu (3/10). 

Di Jakarta sendiri, menurutnya, pertumbuhan listrik sudah mencapai 45 persen. Bali masih tertahan lantaran penggunaan mobil listrik masih difokuskan untuk penggunaan di pariwisata. “Jadi lebih menyewakan (kendaraan listrik). Untuk pribadi, jarang. Di Jakarta, karena macet, ada kepentingan, dan lebih efisien jadi mobil listrik ketika digunakan di tengah kemacetan itu jaraknya lebih jauh, jadi lebih irit kalau macet,” ungkapnya.

Untuk keiritannya, Praditya menggambarkan, jika dibandingkan dengan penggunaan BBM, ketika seseorang memakai motor listrik, satu kali pengecasan hanya butuh Rp 2 ribu dengan jarak 50 km. Sedangkan untuk motor pada umumnya, dengan jarak 50 km BBM yang dibeli sebesar Rp 7 ribuan. “Jadi penghematannya cukup signifikan ketika kita menggunakan (kendaraan listrik). Itu baru sisi pembelian, belum dari sisi maintenance seperti service rutin dan lainnya,” kata dia.

Ia menilai, jika harga mobil listrik sudah berada di bawah Rp 400 juta, maka akan banyak orang yang ingin beralih ke mobil listrik. 

Disamping itu, PLN juga menyediakan subsidi atau stimulus bagi pengguna kendaraan listrik. Yakni dengan pemberian diskon sebesar 30 persen. “Subsidinya memang sudah ada diberlakukan oleh Pemda setempat berupa pajak. Kalau di listriknya, kita melakukan pendekatan. Karena mobil listrik itu lebih ke arah pribadi dan lebih lama parkirnya di rumah, maka kita memberikan pendekatan untuk fasilitas home charging,” kata dia. “Jadi ketika pelanggan memasang charging di rumah, dengan tipa AC yang dayanya 7.700 maka ketika mereka mengecas mobil dari pukul 22.00 Wita sampai pukul 04.00 Wita, kita akan berikan diskon 30 persen. Jadi stimulusnya kita berikan ke arah rumah-rumah seperti itu,” tambahnya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/