alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Tidak Ada Lagi Harapan Wisman Datang Akhir Tahun 2021 ke Bali

DENPASAR, BALI EXPRESS – Melihat adanya penerapan PPKM level 3 serta ditambahnya masa karantina wisatawan mancanegara (wisman) yang mulanya tujuh hari menjadi 10 hari, tak disangkal lagi menutup harapan Bali akan kedatangan wisman sampai akhir tahun 2021. Bahkan disebutkan, belum ada tanda-tanda kemunculan wisman ke Bali sampai Januari 2022 mendatang.

“Kalau kita berbicara wisman, saya kira sudah tidak ada harapan lagi. Karena kemarin itu saya sudah ditelpon oleh (rekan) Airlines Operators Committee (AOC), dia mengatakan bahwa Desember-Januari ini sudah tidak ada pesawat yang datang ke Bali untuk internsional, ini sudah clear,” ungkap Ketua Dewan Pengurus Daerah Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (DPD ASITA) Bali, Putu Winastra saat dihubungi Jumat (3/12).

Winastra menambahkan, untuk mendatangkan pesawat internasional ini tidak semudah yang dipikirkan. Menurutnya, ada banyak hal yang menjadi acuan untuk maskapai internasional berani terbang ke Bali. “Jadi tidak berharap lagi (sampai akhir tahun ada wisman datang),” katanya.

Wisatawan domestik (wisdom) saat ini, diakuinya, memang sebagai trigger untuk pemulihan pariwisata. Namun, jika wisdom yang hendak ke Bali masih beratkan dengan berbagai aturan seperti PPKM level 3, akan memberi beban psikologis untuk bepergian.

Harapannya, Bali dapat diperlakukan secara khusus terkait kebijakan PPKM level 3. Sebab faktanya, vaksinasi di Bali untuk dosis kedua sudah di atas 90 persen. selain itu, penerapan CHSE di setiap hotel, restoran, pusat perbelanjaan, dan tempat wisata juga sudah terjamin. Ini membuktikan kepatuhan masyarakat Bali akan protokol kesehatan (prokes) tak perlu diragukan lagi. “Kan terbukti Gubernur Bali (Wayan Koster) mendapatkan award terhadap pengendalian Covid-19 di Bali. Nah terus yang harus dikhawatirkan apa?” katanya.

Pihaknya menilai, prokes yang mestinya perlu ditingkatkan alih-alih membatasi kegiatan. Yang mana, harus ada skema yang dibentuk agar kegiatan tetap berjalan tetapi dengan menerapkan prokes yang ketat. “Saya pikir teman-teman di lapangan sudah siap dengan itu (kegiatan berprokes ketat),” klaimnya.

Diprediksi, tak akan banyak wisdom yang datang ke Bali untuk merayakan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) lantaran adanya PPKM level 3. “Orang-orang akan berpikir dua, tiga kali, untuk apa (datang ke Bali)? Perayaan tidak boleh, waktu dibatasi dan sebagainya. Teman-teman di hotel juga mengatakan banyak sekali yang cancel akhir tahun ini,” jelasnya.

Pihaknya pun khawatir Bali akan kembali melarat pada tahun 2022 mendatang. Sebab, jika sampai Desember aturan soal kedatangan wisman (visa, karantina, dan penerbangan) tak diubah, maka jangan berharap tahun 2022 ada wisman yang datang. “Karena pola liburan orang Eropa itu, mereka booking bulan Desember, Januari, Februari untuk musim panas. Nah ini akan memberikan dampak yang sangat besar terhadap kepariwisataan Bali. Ya kita akan melarat kalau itu tidak dibuka,” tuturnya.

Ia tak mempermasalahkan jika aturan tersebut sebagai langkah antisipasi merebaknya virus Covid-19 varian Omicron di Indonesia, khususnya Bali. Tetapi, jika dibandingkan tahun ini dengan tahun lalu, situasinya telah berbeda. Yang mana, herd immunity masyarakat Bali saat ini sudah cukup terbentuk dengan adanya vaksinasi. “Kalau sekarang saja vaksin tidak dipercaya, PCR tidak dereference ya terus apa? Itu kan juga aturan dari pemerintah. Kalau vaksin dan PCR saja tidak menjadi acuan, terus apa? Kan menjadi kontradiktif,” katanya.

Sementara itu, dikonfirmasi Stakeholder Relation Manager Angkasa Pura I, Bandar Udara (Bandara) Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Taufan Yudhistira, pihaknya mengatakan memang saat ini belum ada penerbangan internasional berstatus komersial ke Bali. “Sampai Januari? Kita belum tahu. Kalau mengajukan slot bisa kapan saja sih, tapi untuk realisasinya kembali ke maskapai,” terangnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Melihat adanya penerapan PPKM level 3 serta ditambahnya masa karantina wisatawan mancanegara (wisman) yang mulanya tujuh hari menjadi 10 hari, tak disangkal lagi menutup harapan Bali akan kedatangan wisman sampai akhir tahun 2021. Bahkan disebutkan, belum ada tanda-tanda kemunculan wisman ke Bali sampai Januari 2022 mendatang.

“Kalau kita berbicara wisman, saya kira sudah tidak ada harapan lagi. Karena kemarin itu saya sudah ditelpon oleh (rekan) Airlines Operators Committee (AOC), dia mengatakan bahwa Desember-Januari ini sudah tidak ada pesawat yang datang ke Bali untuk internsional, ini sudah clear,” ungkap Ketua Dewan Pengurus Daerah Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (DPD ASITA) Bali, Putu Winastra saat dihubungi Jumat (3/12).

Winastra menambahkan, untuk mendatangkan pesawat internasional ini tidak semudah yang dipikirkan. Menurutnya, ada banyak hal yang menjadi acuan untuk maskapai internasional berani terbang ke Bali. “Jadi tidak berharap lagi (sampai akhir tahun ada wisman datang),” katanya.

Wisatawan domestik (wisdom) saat ini, diakuinya, memang sebagai trigger untuk pemulihan pariwisata. Namun, jika wisdom yang hendak ke Bali masih beratkan dengan berbagai aturan seperti PPKM level 3, akan memberi beban psikologis untuk bepergian.

Harapannya, Bali dapat diperlakukan secara khusus terkait kebijakan PPKM level 3. Sebab faktanya, vaksinasi di Bali untuk dosis kedua sudah di atas 90 persen. selain itu, penerapan CHSE di setiap hotel, restoran, pusat perbelanjaan, dan tempat wisata juga sudah terjamin. Ini membuktikan kepatuhan masyarakat Bali akan protokol kesehatan (prokes) tak perlu diragukan lagi. “Kan terbukti Gubernur Bali (Wayan Koster) mendapatkan award terhadap pengendalian Covid-19 di Bali. Nah terus yang harus dikhawatirkan apa?” katanya.

Pihaknya menilai, prokes yang mestinya perlu ditingkatkan alih-alih membatasi kegiatan. Yang mana, harus ada skema yang dibentuk agar kegiatan tetap berjalan tetapi dengan menerapkan prokes yang ketat. “Saya pikir teman-teman di lapangan sudah siap dengan itu (kegiatan berprokes ketat),” klaimnya.

Diprediksi, tak akan banyak wisdom yang datang ke Bali untuk merayakan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) lantaran adanya PPKM level 3. “Orang-orang akan berpikir dua, tiga kali, untuk apa (datang ke Bali)? Perayaan tidak boleh, waktu dibatasi dan sebagainya. Teman-teman di hotel juga mengatakan banyak sekali yang cancel akhir tahun ini,” jelasnya.

Pihaknya pun khawatir Bali akan kembali melarat pada tahun 2022 mendatang. Sebab, jika sampai Desember aturan soal kedatangan wisman (visa, karantina, dan penerbangan) tak diubah, maka jangan berharap tahun 2022 ada wisman yang datang. “Karena pola liburan orang Eropa itu, mereka booking bulan Desember, Januari, Februari untuk musim panas. Nah ini akan memberikan dampak yang sangat besar terhadap kepariwisataan Bali. Ya kita akan melarat kalau itu tidak dibuka,” tuturnya.

Ia tak mempermasalahkan jika aturan tersebut sebagai langkah antisipasi merebaknya virus Covid-19 varian Omicron di Indonesia, khususnya Bali. Tetapi, jika dibandingkan tahun ini dengan tahun lalu, situasinya telah berbeda. Yang mana, herd immunity masyarakat Bali saat ini sudah cukup terbentuk dengan adanya vaksinasi. “Kalau sekarang saja vaksin tidak dipercaya, PCR tidak dereference ya terus apa? Itu kan juga aturan dari pemerintah. Kalau vaksin dan PCR saja tidak menjadi acuan, terus apa? Kan menjadi kontradiktif,” katanya.

Sementara itu, dikonfirmasi Stakeholder Relation Manager Angkasa Pura I, Bandar Udara (Bandara) Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Taufan Yudhistira, pihaknya mengatakan memang saat ini belum ada penerbangan internasional berstatus komersial ke Bali. “Sampai Januari? Kita belum tahu. Kalau mengajukan slot bisa kapan saja sih, tapi untuk realisasinya kembali ke maskapai,” terangnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/