alexametrics
29.8 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Harga Masker Stabil, Pembelian Vitamin di Apotek Meningkat 400 Persen

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Harga masker di apotek kini cendenrung stabil dibandingkan tahun lalu yang melonjak drastis. Bahkan mencapai Rp 150 ribu satu kotak. Kini harga tertinggi berada dikisaran Rp 60 ribu. Namun dari pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) di lapangan, masyarakat belum mengalami panic buying untuk pembelian masker. Begitu juga stok masker di apotek masih aman dan cenderung murah. Selain di apotek, toko-toko lainnya seperti toko aksesosris dan toko kosmetik juga menyediakan masker dengan harga yang sama murahnya.

Dari pantauan di apotek Ganesha Farma, Singaraja harga masker cenderung stabil. Pembelian masker oleh masyarakat juga tidak terlalu tinggi. Stok masker di apotek tersebut masih tergolong aman. Begitu pula dengan distributor yang mensuplay ke apotek-apotek. “Kalau masker harganya sekarang menurun. Karena sudah mulai bisa import. Karena distributor Cina itu sudah masuk ke semua negara. Jadi tidak ada peningkatan harga. Kalau disini ada tiga varian masker. Harganya dari Rp 18 ribu sampe Rp 50 ribu. tentunya ada harga ada kualitas,” ujar Owner Apotek Ganesha Farma, I Made Agus Budhi Sasmitha,36, Selasa (6/7) siang.

Agus menyebut, masyarakat yang datang ke apotek justru lebih banyak memborong vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kebanyakan mereka yang membeli obat-obatan tersebut untuk antisipasi. “Vitamin yang paling dicari itu adalah vitamin untuk daya tahan tubuh. Bukan hanya masa pandemi, tapi musim pancroba ini juga salah satu faktornya untuk harus selalu menajga daya tahan tubuh. Yang beli obat-obatan itu untuk jaga-jaga. Jadi mereka tidak sakit. Jadi mereka untuk antisipasi,” terangnya.

Pemblian vitamin serta obat-obatan yang dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta mencegah penularan virus Covid-19 mengalami peningkatan. Bahkan hingga 400 persen. masyarakat yang datang akan membeli vitamin serta obat lainnya untuk kebutuhan satu bulan. “Peningkatannya dalam sebulan memang meningkat sampai 400 persen. Produknya juga terbatas dari produsen. Pembatasan dari distributor juga. Distribusinya lebih diutamakan ke apotek BUMN. Kalau vitamin juga sama, bahkan sampai 400 persen. Itu disebabkan karena orang yang tidak pernah minum vitamin sekarang berusaha untuk minum vitamin. Mereka beli untuk kebutuhan satu bulan. Untuk harga tidak terlalu mahal juga. Biasanya dia beli untuk anak-anaknya, sekarang orangtuanya juga beli,” tambahnya.

Sama halnya dengan apotek Mulia Farma Banyuning. Kebutuhan masyarakat membeli masker tidak terlalu tinggi seperti tahun sebelumnya. Saat ini pun tidak terjadi kelangkaan stok masker. Akan tetapi masyarakat lebih banyak memburu vitamin untuk daya tahan tubuh. “Kalau beli maskernya tidak seperti dulu. Sekarang belum banyak yang cari. Tapi yang banyak dicari itu vitamin C dan Vitamin D3. Kalau mereka ditanya untuk apa, pasti jawabnya untuk antisipasi agar tidak kena virus. Tidak ada panic buying juga. Semua Masih berjalan normal. Dan untuk paracetamol juga Masih wajar-wajar aja pembeliannya. Karena kan sudah tersedia juga di apotek lainnya,” ujar Nyoman Dukajaya, Owner Apotek Mulia Farma Group. (dhi)


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Harga masker di apotek kini cendenrung stabil dibandingkan tahun lalu yang melonjak drastis. Bahkan mencapai Rp 150 ribu satu kotak. Kini harga tertinggi berada dikisaran Rp 60 ribu. Namun dari pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) di lapangan, masyarakat belum mengalami panic buying untuk pembelian masker. Begitu juga stok masker di apotek masih aman dan cenderung murah. Selain di apotek, toko-toko lainnya seperti toko aksesosris dan toko kosmetik juga menyediakan masker dengan harga yang sama murahnya.

Dari pantauan di apotek Ganesha Farma, Singaraja harga masker cenderung stabil. Pembelian masker oleh masyarakat juga tidak terlalu tinggi. Stok masker di apotek tersebut masih tergolong aman. Begitu pula dengan distributor yang mensuplay ke apotek-apotek. “Kalau masker harganya sekarang menurun. Karena sudah mulai bisa import. Karena distributor Cina itu sudah masuk ke semua negara. Jadi tidak ada peningkatan harga. Kalau disini ada tiga varian masker. Harganya dari Rp 18 ribu sampe Rp 50 ribu. tentunya ada harga ada kualitas,” ujar Owner Apotek Ganesha Farma, I Made Agus Budhi Sasmitha,36, Selasa (6/7) siang.

Agus menyebut, masyarakat yang datang ke apotek justru lebih banyak memborong vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kebanyakan mereka yang membeli obat-obatan tersebut untuk antisipasi. “Vitamin yang paling dicari itu adalah vitamin untuk daya tahan tubuh. Bukan hanya masa pandemi, tapi musim pancroba ini juga salah satu faktornya untuk harus selalu menajga daya tahan tubuh. Yang beli obat-obatan itu untuk jaga-jaga. Jadi mereka tidak sakit. Jadi mereka untuk antisipasi,” terangnya.

Pemblian vitamin serta obat-obatan yang dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta mencegah penularan virus Covid-19 mengalami peningkatan. Bahkan hingga 400 persen. masyarakat yang datang akan membeli vitamin serta obat lainnya untuk kebutuhan satu bulan. “Peningkatannya dalam sebulan memang meningkat sampai 400 persen. Produknya juga terbatas dari produsen. Pembatasan dari distributor juga. Distribusinya lebih diutamakan ke apotek BUMN. Kalau vitamin juga sama, bahkan sampai 400 persen. Itu disebabkan karena orang yang tidak pernah minum vitamin sekarang berusaha untuk minum vitamin. Mereka beli untuk kebutuhan satu bulan. Untuk harga tidak terlalu mahal juga. Biasanya dia beli untuk anak-anaknya, sekarang orangtuanya juga beli,” tambahnya.

Sama halnya dengan apotek Mulia Farma Banyuning. Kebutuhan masyarakat membeli masker tidak terlalu tinggi seperti tahun sebelumnya. Saat ini pun tidak terjadi kelangkaan stok masker. Akan tetapi masyarakat lebih banyak memburu vitamin untuk daya tahan tubuh. “Kalau beli maskernya tidak seperti dulu. Sekarang belum banyak yang cari. Tapi yang banyak dicari itu vitamin C dan Vitamin D3. Kalau mereka ditanya untuk apa, pasti jawabnya untuk antisipasi agar tidak kena virus. Tidak ada panic buying juga. Semua Masih berjalan normal. Dan untuk paracetamol juga Masih wajar-wajar aja pembeliannya. Karena kan sudah tersedia juga di apotek lainnya,” ujar Nyoman Dukajaya, Owner Apotek Mulia Farma Group. (dhi)


Most Read

Artikel Terbaru

/