alexametrics
25.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

PPKM Berjalan Empat Hari, Edy Hanya Kantongi Rp 10 Ribu Sehari

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat telah berlangsung selama empat hari. Selama hari itu, Edi, salah satu pedagang jagung di Pantai Sanur, hanya mengantongi rata-rata Rp 10 ribu dalam seharinya. Padahal normalnya, ia bisa membawa pulang Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Sepinya pembeli ini lantaran akses menuju tempat wisata, salah satunya pantai, ditutup.

“Kalau pedagang di pantai itu pasti stres. Stres kami karena tidak ada pemasukan sama sekali. Selama empat hari pelaksanaan PPKM ini kami tidak dapat pemasukan sama sekali karena dari pintu masuk sudah ditutup total. Warung kami tetap buka, tapi pengunjung sama sekali tidak ada,” keluhnya saat diwawancara, Selasa (6/7).

Dia mengaku, pembelinya hanya warga lingkungan sekitar, seperti pedagang lainnya dan petugas yang kebetulan berjaga. “Kami iseng saja buka, daripada mumet di rumah. Jualan dari pagi sampai pukul 18.00 Wita yang laku cuman kopi,” katanya.

Edy berharap pemerintah melihat kondisi masyarakat kecil saat ini. Dia juga berharap agar PPKM ini segera berlalu dan tidak ada perpanjangan. “Mudah-mudahan segera berlalu. Karena situasi seperti orang-orang kecil seperti kami kan susah sekali kehidupannya. Kami inginnya pemerintah bijak. Silakan ditutup, tapi agar kami dapat bantuan atau timbal baliknya. Kami berharap kan ada bantuan dana atau sembako, tapi sampai sekarang nggak ada,” ungkapnya.

Demikian juga dialami pedagang asongan Sri, yang berjualan di sekitar Lapangan Niti Mandala Renon. Lantaran akses lapangan ditutup bagi pengunjung, tak jarang ia terpaksa membawa dagangan utuh kembali ke rumah. “Kemarin hanya terjual dua botol minuman saja. Dua hari lalu malah nggak ada yang beli sama sekali. Gimana ini,” katanya.

Sri mengaku, di Denpasar ia hanya tinggal bersama dua orang anaknya. Perempuan paruh baya itu mesti meminjam ke sana-sini agar bisa menghidupi anak-anaknya. Tak jarang ia mesti berpindah-pindah tempat untuk berjualan agar ada saja yang laku. “Kalau di sini nggak laku, saya pindah ke Puputan, begitu terus. Kemana saja yang penting ada pembelinya,” kata dia. “Daripada petugas, saya lebih takut anak-anak saya nggak bisa makan,” akunya.

Sri menyayangkan keputusan pemerintah karena menerapkan PPKM di saat kondisi Bali belum normal betul. Namun, karena dia hanya masyarakat kecil, suaranya mungkin tak terdengar sampai ke pemerintah. “Saya hanya bisa doa semoga ini segera berlalu. Kami rakyat kecil bisa apa,” keluhnya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat telah berlangsung selama empat hari. Selama hari itu, Edi, salah satu pedagang jagung di Pantai Sanur, hanya mengantongi rata-rata Rp 10 ribu dalam seharinya. Padahal normalnya, ia bisa membawa pulang Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Sepinya pembeli ini lantaran akses menuju tempat wisata, salah satunya pantai, ditutup.

“Kalau pedagang di pantai itu pasti stres. Stres kami karena tidak ada pemasukan sama sekali. Selama empat hari pelaksanaan PPKM ini kami tidak dapat pemasukan sama sekali karena dari pintu masuk sudah ditutup total. Warung kami tetap buka, tapi pengunjung sama sekali tidak ada,” keluhnya saat diwawancara, Selasa (6/7).

Dia mengaku, pembelinya hanya warga lingkungan sekitar, seperti pedagang lainnya dan petugas yang kebetulan berjaga. “Kami iseng saja buka, daripada mumet di rumah. Jualan dari pagi sampai pukul 18.00 Wita yang laku cuman kopi,” katanya.

Edy berharap pemerintah melihat kondisi masyarakat kecil saat ini. Dia juga berharap agar PPKM ini segera berlalu dan tidak ada perpanjangan. “Mudah-mudahan segera berlalu. Karena situasi seperti orang-orang kecil seperti kami kan susah sekali kehidupannya. Kami inginnya pemerintah bijak. Silakan ditutup, tapi agar kami dapat bantuan atau timbal baliknya. Kami berharap kan ada bantuan dana atau sembako, tapi sampai sekarang nggak ada,” ungkapnya.

Demikian juga dialami pedagang asongan Sri, yang berjualan di sekitar Lapangan Niti Mandala Renon. Lantaran akses lapangan ditutup bagi pengunjung, tak jarang ia terpaksa membawa dagangan utuh kembali ke rumah. “Kemarin hanya terjual dua botol minuman saja. Dua hari lalu malah nggak ada yang beli sama sekali. Gimana ini,” katanya.

Sri mengaku, di Denpasar ia hanya tinggal bersama dua orang anaknya. Perempuan paruh baya itu mesti meminjam ke sana-sini agar bisa menghidupi anak-anaknya. Tak jarang ia mesti berpindah-pindah tempat untuk berjualan agar ada saja yang laku. “Kalau di sini nggak laku, saya pindah ke Puputan, begitu terus. Kemana saja yang penting ada pembelinya,” kata dia. “Daripada petugas, saya lebih takut anak-anak saya nggak bisa makan,” akunya.

Sri menyayangkan keputusan pemerintah karena menerapkan PPKM di saat kondisi Bali belum normal betul. Namun, karena dia hanya masyarakat kecil, suaranya mungkin tak terdengar sampai ke pemerintah. “Saya hanya bisa doa semoga ini segera berlalu. Kami rakyat kecil bisa apa,” keluhnya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/