alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Bangkitkan Budaya Menenun, Tenun Ikat Desa Sinabun Kian Eksis

BULELENG, BALI EXPRESS – Kerajinan tenun ikat yang kini masih eksis di Buleleng dapat ditemukan di rumah produksi Pertenunan Artha Dharma di Desa Sinabun, Kecamatan Sawan. Usaha yang sudah didirikan sejak 2002 silam ini produknya sangat diminati para pejabat pesohor di negeri ini.

Plang nama ‘Pertenunan Artha Dharma’ terpampang jelas di ruas Jalan Sinabun-Sudaji, Kecamatan Sawan. Industri rumahan ini dirintis langsung oleh Ketut Radjin. Pria berusia 57 tahun ini sudah berkutat memproduksi tenun ikat berupa kain endek, songket sejak 20 tahun lamanya.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (31/7)  lalu, ratusan jenis kain endek dan songket beragam motif terpampang di galerinya. Ada pula pakaian jadi dengan motif kain endek, selendang, hingga destar.

Di belakang galerinya, dibangun sebuah gudang yang dijadikan sebagai tempat produksi tenun ikat. Di tanah seluas 17 are ini, ia bersama hampir 50 orang karyawannya memproduksi tenun ikat berbagai motif.

Alat tenun yang digunakan adalah alat tenun bukan mesin (ATBM). Semua proses dilakukan secara tradisional. Mulai dari proses pewarnaan, malpal hingga menenun. Karyawan yang dipekerjakan ini rata-rata berasal dari Desa Sinabun.

Rajin menceritakan, pertenunan itu dibangun berawal dari adanya rasa kekhawatiran akan punahnya tenun ikat tradisional di Sinabun. Tahun 2002, Rajin akhirnya membangkitkan budaya menenun yang hendak punah tersebut dengan membuka pelatihan dengan harapan budaya ini kembali bangkit.

Baca Juga :  Mall Bali Tak Terpilih Uji Coba, Pengelola Mall Diminta Bersabar

Lambat laun, masyarakat yang sebagian besar kaum wanita di Sinabun akhirnya berminat untuk menenun tradisional. Mulai dari jenis endek dan kain songket.

“Dahulu berproduksinya terpusat di Pertenunan Artha Dharma, nah setelah mereka menguasai teknik menenun, ada yang menggarapnya di rumah masing-masing sebagai kerajinan rumah tangga, karena mereka juga memiliki alat tenun,” ujarnya.

Di luar 50 orang tenaga kerja, ada pula tenaga pendukung yang dilibatkan. Mereka ada yang bertugas saat nyumput hingga malpal. Namun, proses bekerjanya tetap di bawah pengawasan Pertenunan Artha Dharma.

Dikatakan Rajin, produksi kain tenun ikat seperti endek, songket membutuhkan waktu yang cukup lama. Jika ditotal waktu yang dibutuhkan keseluruhan proses mencapai 1 sampai 2 bulan lebih.

“Tergantung jenis kain yang dibuat. Apakah itu murni menggunakan bahan alami, mulai dari proses pewarnaan. Ada pula yang pewarnaannya menggunakan bahan pewarna kimia. Tetapi nanti akan berpengaruh di harga jualnya, dan tingkat kerumitannya,” paparnya.

Jenis kain yang dihasilkan bervariasi. Seperti endek, jumputan, endek sutra, songket. Ada berbagai macam jenis proses ada yang pewarnaan kimia, atau natural (alam) yang tidak memakai bahan kimia.

“Jadi semuanya ramah lingkungan. Pewarnaan dari tumbuh-tumbuhan ada yang memakai kayu mahoni, daun ketapang, daun jati. Yang prosesnya alami ini lebih mahal. Karena memang memakan waktu lebih lama,” ungkapnya.

Baca Juga :  Mendag RI Apresiasi Pasar Intaran dan Pasar Sindu Sanur

Disinggung terkait motif, pihaknya mengaku menciptakan sendiri. Hal ini dilakukan agar desain tetap ada sesuatu yang baru, sehingga tidak monoton. Ketut Rajin mengaku jika selama proses produksinya dilakukan dari hulu hingga hilir. Mulai dari proses pemintalan, pencelupan warna, baru naik tingkat ke penyiapan. Mulai dari pembuatan lusi untuk endek dan lusi untuk songket.

Ada juga pembuatan pakan atau desain, melalui pencelupan, malpal, nyatri, sampai finishing 90 persen itu hanya tinggal nenun saja. “Kalau nenun itu waktunya singkat. Dari benang sampai nenun itu waktunya sampai 1 bulan. Itu kalau prosesnya diambil dari awal. Itu membutuhkan waktu yang lama. Tetapi kalau sebatas nenun ya sehari bisa dapat satu lembar saja,” imbuhnya.

Ia menambahkan, selama ini kain tenun ikat yang diproduksi mampu merambah pasar di pelosok Bali. Peminatnya mulai dari masyarakat, hingga kalangan pemerintahan. Bahkan, kain tersebut kerap dijadikan oleh-oleh bagi pejabat yang berkunjung ke Bali. “Ibu Megawati pernah beli kain endek, pernah juga Ibu Negara Iriana Jokowi, Gubernur, Bupati. Kain ini juga dijadikan sebagai seragam kantoran di instansi pemerintahan,” sebutnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS – Kerajinan tenun ikat yang kini masih eksis di Buleleng dapat ditemukan di rumah produksi Pertenunan Artha Dharma di Desa Sinabun, Kecamatan Sawan. Usaha yang sudah didirikan sejak 2002 silam ini produknya sangat diminati para pejabat pesohor di negeri ini.

Plang nama ‘Pertenunan Artha Dharma’ terpampang jelas di ruas Jalan Sinabun-Sudaji, Kecamatan Sawan. Industri rumahan ini dirintis langsung oleh Ketut Radjin. Pria berusia 57 tahun ini sudah berkutat memproduksi tenun ikat berupa kain endek, songket sejak 20 tahun lamanya.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (31/7)  lalu, ratusan jenis kain endek dan songket beragam motif terpampang di galerinya. Ada pula pakaian jadi dengan motif kain endek, selendang, hingga destar.

Di belakang galerinya, dibangun sebuah gudang yang dijadikan sebagai tempat produksi tenun ikat. Di tanah seluas 17 are ini, ia bersama hampir 50 orang karyawannya memproduksi tenun ikat berbagai motif.

Alat tenun yang digunakan adalah alat tenun bukan mesin (ATBM). Semua proses dilakukan secara tradisional. Mulai dari proses pewarnaan, malpal hingga menenun. Karyawan yang dipekerjakan ini rata-rata berasal dari Desa Sinabun.

Rajin menceritakan, pertenunan itu dibangun berawal dari adanya rasa kekhawatiran akan punahnya tenun ikat tradisional di Sinabun. Tahun 2002, Rajin akhirnya membangkitkan budaya menenun yang hendak punah tersebut dengan membuka pelatihan dengan harapan budaya ini kembali bangkit.

Baca Juga :  Vaksin Gotong Royong, Ekonom Sebut Akan Ada Ketimpangan Besar

Lambat laun, masyarakat yang sebagian besar kaum wanita di Sinabun akhirnya berminat untuk menenun tradisional. Mulai dari jenis endek dan kain songket.

“Dahulu berproduksinya terpusat di Pertenunan Artha Dharma, nah setelah mereka menguasai teknik menenun, ada yang menggarapnya di rumah masing-masing sebagai kerajinan rumah tangga, karena mereka juga memiliki alat tenun,” ujarnya.

Di luar 50 orang tenaga kerja, ada pula tenaga pendukung yang dilibatkan. Mereka ada yang bertugas saat nyumput hingga malpal. Namun, proses bekerjanya tetap di bawah pengawasan Pertenunan Artha Dharma.

Dikatakan Rajin, produksi kain tenun ikat seperti endek, songket membutuhkan waktu yang cukup lama. Jika ditotal waktu yang dibutuhkan keseluruhan proses mencapai 1 sampai 2 bulan lebih.

“Tergantung jenis kain yang dibuat. Apakah itu murni menggunakan bahan alami, mulai dari proses pewarnaan. Ada pula yang pewarnaannya menggunakan bahan pewarna kimia. Tetapi nanti akan berpengaruh di harga jualnya, dan tingkat kerumitannya,” paparnya.

Jenis kain yang dihasilkan bervariasi. Seperti endek, jumputan, endek sutra, songket. Ada berbagai macam jenis proses ada yang pewarnaan kimia, atau natural (alam) yang tidak memakai bahan kimia.

“Jadi semuanya ramah lingkungan. Pewarnaan dari tumbuh-tumbuhan ada yang memakai kayu mahoni, daun ketapang, daun jati. Yang prosesnya alami ini lebih mahal. Karena memang memakan waktu lebih lama,” ungkapnya.

Baca Juga :  BRI Borong Tiga Penghargaan Alpha South East Asia 2022

Disinggung terkait motif, pihaknya mengaku menciptakan sendiri. Hal ini dilakukan agar desain tetap ada sesuatu yang baru, sehingga tidak monoton. Ketut Rajin mengaku jika selama proses produksinya dilakukan dari hulu hingga hilir. Mulai dari proses pemintalan, pencelupan warna, baru naik tingkat ke penyiapan. Mulai dari pembuatan lusi untuk endek dan lusi untuk songket.

Ada juga pembuatan pakan atau desain, melalui pencelupan, malpal, nyatri, sampai finishing 90 persen itu hanya tinggal nenun saja. “Kalau nenun itu waktunya singkat. Dari benang sampai nenun itu waktunya sampai 1 bulan. Itu kalau prosesnya diambil dari awal. Itu membutuhkan waktu yang lama. Tetapi kalau sebatas nenun ya sehari bisa dapat satu lembar saja,” imbuhnya.

Ia menambahkan, selama ini kain tenun ikat yang diproduksi mampu merambah pasar di pelosok Bali. Peminatnya mulai dari masyarakat, hingga kalangan pemerintahan. Bahkan, kain tersebut kerap dijadikan oleh-oleh bagi pejabat yang berkunjung ke Bali. “Ibu Megawati pernah beli kain endek, pernah juga Ibu Negara Iriana Jokowi, Gubernur, Bupati. Kain ini juga dijadikan sebagai seragam kantoran di instansi pemerintahan,” sebutnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/