alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Imbas PPKM, Okupansi Hotel di Bali Drop

DENPASAR, BALI EXPRESS – Imbas penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, okupansi hotel-hotel di Bali drop. Saat ini okupansi berada di single digit atau tingkat hunian rata-rata 5 sampai 10 kamar yang diisi oleh tamu domestik. Demikian yang disampaikan Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Akomodasi dan Pengembangan Pariwisata, Dr (C) I Made Ramia Adnyana, SE, MM CHA. 

“Okupansi itu tadinya mungkin sekitar 15 sampai 20 persen. Sekarang masih single digit. (Rata-rata, Red) cuma 5 sampai 10 kamar isi hotel kita. Kalau bulan Juni masih menggeliat ya, ada kegiatan work from Bali itu masih membuat bergeliat,” katanya saat diwawancara, Rabu (7/7).

Dia mengatakan, sampai tanggal 20 Juli mendatang, terkait okupansi pihaknya tidak bisa berharap apa-apa. Saat ini, menurutnya, yang bisa dilakukan hanya patuh terhadap aturan. “Tetapi setelah tanggal 20 Juli, kalau seandainya memang ada planning untuk dibuka saya kira ini cukup potensial. Karena kita berharap terjadi penurunan pandemi Covid-19, sehingga masyarakat akan kembali berkunjung ke Bali,” jelasnya.

Sementara, ungkap dia, nasib hotel non-bintang mungkin jauh lebih parah lantaran telah banyak yang tutup. “Ya jelas teman-teman kita di homestay atau hotel non-bintang itu kebanyakan sudah dari lama tidak buka. Mereka tutup,” katanya.

Lebih lanjut pihaknya berharap, di saat PPKM darurat ini masyarakat tidak hanya diimbau untuk di rumah dan work from home. Tetapi pemerintah juga membantu masyarakat, terutama pekerja pariwisata, dengan bantuan langsung tunai, sembako, atau menggulirkan program padat karya. “Agar dana PEN itu segera direalisasikan, supaya pengusaha pariwisata dan pekerja itu kembali bisa bekerja setelah PPKM ini. Sehingga ekonomi pariwisata Bali kembali bisa bergeliat,” harapnya.

Kondisi itu pun dialami salah satu hotel di kawasan Badung, Hilton Garden Inn Bali, Tuban. Director of Sales Hilton Garden Inn Bali, Bianca Rosetta mengaku, sejak penerapan PPKM darurat, bookingan hotel langsung drop. Okupansi disebutkan turun sampai 12 persen atau sekitar 35 kamar yang terisi.

“Turun drastis (okupansinya, Red). Sebelum PPKM bisa sampai terjual 90 kamar atau sekitar 30 persen okupansinya dan diisi domestik. Jauh banget dropnya,” keluh dia.

Selain itu, dampak dari penerapan PPKM, banyak bookingan yang di-reschedule. Bahkan ada yang di-reschedule ke bulan Agustus. “Tidak sampai cancel, hanya reschedule saja. Beberapa ke bulan Agustus,” katanya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Imbas penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, okupansi hotel-hotel di Bali drop. Saat ini okupansi berada di single digit atau tingkat hunian rata-rata 5 sampai 10 kamar yang diisi oleh tamu domestik. Demikian yang disampaikan Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Akomodasi dan Pengembangan Pariwisata, Dr (C) I Made Ramia Adnyana, SE, MM CHA. 

“Okupansi itu tadinya mungkin sekitar 15 sampai 20 persen. Sekarang masih single digit. (Rata-rata, Red) cuma 5 sampai 10 kamar isi hotel kita. Kalau bulan Juni masih menggeliat ya, ada kegiatan work from Bali itu masih membuat bergeliat,” katanya saat diwawancara, Rabu (7/7).

Dia mengatakan, sampai tanggal 20 Juli mendatang, terkait okupansi pihaknya tidak bisa berharap apa-apa. Saat ini, menurutnya, yang bisa dilakukan hanya patuh terhadap aturan. “Tetapi setelah tanggal 20 Juli, kalau seandainya memang ada planning untuk dibuka saya kira ini cukup potensial. Karena kita berharap terjadi penurunan pandemi Covid-19, sehingga masyarakat akan kembali berkunjung ke Bali,” jelasnya.

Sementara, ungkap dia, nasib hotel non-bintang mungkin jauh lebih parah lantaran telah banyak yang tutup. “Ya jelas teman-teman kita di homestay atau hotel non-bintang itu kebanyakan sudah dari lama tidak buka. Mereka tutup,” katanya.

Lebih lanjut pihaknya berharap, di saat PPKM darurat ini masyarakat tidak hanya diimbau untuk di rumah dan work from home. Tetapi pemerintah juga membantu masyarakat, terutama pekerja pariwisata, dengan bantuan langsung tunai, sembako, atau menggulirkan program padat karya. “Agar dana PEN itu segera direalisasikan, supaya pengusaha pariwisata dan pekerja itu kembali bisa bekerja setelah PPKM ini. Sehingga ekonomi pariwisata Bali kembali bisa bergeliat,” harapnya.

Kondisi itu pun dialami salah satu hotel di kawasan Badung, Hilton Garden Inn Bali, Tuban. Director of Sales Hilton Garden Inn Bali, Bianca Rosetta mengaku, sejak penerapan PPKM darurat, bookingan hotel langsung drop. Okupansi disebutkan turun sampai 12 persen atau sekitar 35 kamar yang terisi.

“Turun drastis (okupansinya, Red). Sebelum PPKM bisa sampai terjual 90 kamar atau sekitar 30 persen okupansinya dan diisi domestik. Jauh banget dropnya,” keluh dia.

Selain itu, dampak dari penerapan PPKM, banyak bookingan yang di-reschedule. Bahkan ada yang di-reschedule ke bulan Agustus. “Tidak sampai cancel, hanya reschedule saja. Beberapa ke bulan Agustus,” katanya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/