alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Tak Perlu Interaksi Fisik, Bank Digital Mulai Dilirik

DENPASAR, BALI EXPRESS – Masyarakat kini tampaknya mulai melirik keberadaan bank digital. Pasalnya, jumlah unduhan bank digital tahun 2020 mencapai 4,1 juta unduhan naik 7 persen per tahun. Hal tersebut disampaikan Director Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira.

Bhima memperkirakan, perlahan masyarakat akan lebih banyak beralih ke bank digital. Menurutnya, bank digital merupakan bank yang terfokus pada layanan berbasis internet, sehingga tidak dibutuhkan interaksi fisik. “Betul, jadi perlahan (masyarakat, Red) akan bergeser ke digital,” katanya saat dihubungi, Rabu (7/7).

Dari layanan kredit sampai customer service bank semua dilakukan secara digital. Selain itu, imbuhnya, biaya operasional akan sangat rendah dan lebih bersaing dibanding bank tradisional. “Bahkan model bank digital yang maju seperti Neo Bank tidak punya kantor cabang satupun, hanya ada kantor pusat,” jelasnya. 

Hanya saja, kata dia, risiko dari penggunaan bank digital terletak dari keamanan siber. Yang mana, kejahatan keuangan memanfaatkan celah untuk mengambil data pribadi nasabah hingga OTP atau PIN yang sifatnya rahasia. Begitu disalahgunakan maka dalam waktu singkat uang bisa terkuras habis. Maka dari itu, ia menilai, perlunya peningkatan keamanan dalam dua sisi.

“Pertama, melalui upgrading keamanan siber bank digital dan perlunya regulasi setingkat undang-undang salah satunya rancangann undang-undang perlindungan data pribadi. Kedua, dari sisi nasabah agar hati-hati dalam membagikan data ke pihak ketiga,” pesannya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Masyarakat kini tampaknya mulai melirik keberadaan bank digital. Pasalnya, jumlah unduhan bank digital tahun 2020 mencapai 4,1 juta unduhan naik 7 persen per tahun. Hal tersebut disampaikan Director Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira.

Bhima memperkirakan, perlahan masyarakat akan lebih banyak beralih ke bank digital. Menurutnya, bank digital merupakan bank yang terfokus pada layanan berbasis internet, sehingga tidak dibutuhkan interaksi fisik. “Betul, jadi perlahan (masyarakat, Red) akan bergeser ke digital,” katanya saat dihubungi, Rabu (7/7).

Dari layanan kredit sampai customer service bank semua dilakukan secara digital. Selain itu, imbuhnya, biaya operasional akan sangat rendah dan lebih bersaing dibanding bank tradisional. “Bahkan model bank digital yang maju seperti Neo Bank tidak punya kantor cabang satupun, hanya ada kantor pusat,” jelasnya. 

Hanya saja, kata dia, risiko dari penggunaan bank digital terletak dari keamanan siber. Yang mana, kejahatan keuangan memanfaatkan celah untuk mengambil data pribadi nasabah hingga OTP atau PIN yang sifatnya rahasia. Begitu disalahgunakan maka dalam waktu singkat uang bisa terkuras habis. Maka dari itu, ia menilai, perlunya peningkatan keamanan dalam dua sisi.

“Pertama, melalui upgrading keamanan siber bank digital dan perlunya regulasi setingkat undang-undang salah satunya rancangann undang-undang perlindungan data pribadi. Kedua, dari sisi nasabah agar hati-hati dalam membagikan data ke pihak ketiga,” pesannya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/