alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Sambut Antusias, Made Jaya Ngaku Kangen Ngobrol Sama Bule

DENPASAR, BALI EXPRESS – Rencana pembukaan pariwisata internasional pada 14 Oktober mendatang disambut antusias oleh para pedagang di tempat wisata Pantai Sanur, Bali. Setelah nyaris dua tahun dalam kondisi tak menentu, sejumlah pedagang berharap dengan dibukanya pariwisata internasional di Bali ini menjadi harapan baru bagi mereka.

Hal itu diamini salah satu pemilik art shop, Dayu Sulis, yang telah berjualan di Pantai Sanur sejak 20 tahun lalu. Dirinya mengaku senang mendengar kabar bahwa sebentar lagi para turis mancanegara akan berkunjung lagi ke Bali. “(Rasanya) Seneng, mudah-mudahan seperti dulu lagi,” katanya saat diwawancara Kamis (7/10).

Katanya, ia merindukan suasana saat banyak turis berlalu-lalang di pantai. Pasalnya, selama ini kondisi pantai sangat sepi. Bahkan kadang dalam sehari, ia pernah tak mendapatkan pembeli sama sekali. Namun, beberapa minggu terakhir pasca PPKM yang mulai dilonggarkan, kunjungan mulai ramai meski rata-rata warga lokal. “Pernah sehari nggak dapet jualan. Tapi sekarang sudah mendingan daripada bulan-bulan lalu. Kami buka tapi pengunjung tidak ada. Minggu-minggu ini sudah mulai ramai,” jelas perempuan usia paruh baya ini.

Sebelumnya, agar laku saja, Dayu Sulis mesti menurunkan harga dagangannya. Ia mengaku, dulunya berani mengambil untung sampai Rp 10 ribu, tapi saat ini maksimal hanya Rp 5 ribu. “Harganya agak turun. Kalau dulu pas ramai ambil untung Rp 10 ribu, sekarang maksimal Rp 5 ribu. Dulu turis-turis itu beberapa bisa nawar, apalagi kalau turis yang sudah lama tinggal di Bali, nawarnya sudah kayak warga lokal. China itu paling pinter nawar,” katanya. “Tapi kadang kalau mereka ngerti, mau mereka (beli harga tinggi). Ada juga bule yang nggak tahu harga baru (tidak menawar). Tapi kami di sini juga tidak pasang harga tinggi, yang penting bisa makan saja,” imbuhnya.

Pedagang lainnya, Made Jaya, mengaku berbincang-bincang dengan turis adalah momen yang paling dirindukannya saat Bali masih ramai turis. Meski terbata-bata saat mengobrol, dirinya mengungkapkan hal itu yang paling dirindukannya. “Saya kangen ngobrol sama bule. Mereka kadang bisa sangat ramah,” katanya.

Dirinya pun berharap, pemerintah tak lagi memberikan janji kosong kepada pelaku pariwisata. Karena hal ini sudah dinanti-nanti banyak masyarakat. “Kesabaran saya tidak seluas laut, kita-kita di sini butuh makan. Kalau sehari yang beli satu dua orang, jangankan bayar sekolah anak, untuk makan saja susah,” kata bapak dua anak ini.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Rencana pembukaan pariwisata internasional pada 14 Oktober mendatang disambut antusias oleh para pedagang di tempat wisata Pantai Sanur, Bali. Setelah nyaris dua tahun dalam kondisi tak menentu, sejumlah pedagang berharap dengan dibukanya pariwisata internasional di Bali ini menjadi harapan baru bagi mereka.

Hal itu diamini salah satu pemilik art shop, Dayu Sulis, yang telah berjualan di Pantai Sanur sejak 20 tahun lalu. Dirinya mengaku senang mendengar kabar bahwa sebentar lagi para turis mancanegara akan berkunjung lagi ke Bali. “(Rasanya) Seneng, mudah-mudahan seperti dulu lagi,” katanya saat diwawancara Kamis (7/10).

Katanya, ia merindukan suasana saat banyak turis berlalu-lalang di pantai. Pasalnya, selama ini kondisi pantai sangat sepi. Bahkan kadang dalam sehari, ia pernah tak mendapatkan pembeli sama sekali. Namun, beberapa minggu terakhir pasca PPKM yang mulai dilonggarkan, kunjungan mulai ramai meski rata-rata warga lokal. “Pernah sehari nggak dapet jualan. Tapi sekarang sudah mendingan daripada bulan-bulan lalu. Kami buka tapi pengunjung tidak ada. Minggu-minggu ini sudah mulai ramai,” jelas perempuan usia paruh baya ini.

Sebelumnya, agar laku saja, Dayu Sulis mesti menurunkan harga dagangannya. Ia mengaku, dulunya berani mengambil untung sampai Rp 10 ribu, tapi saat ini maksimal hanya Rp 5 ribu. “Harganya agak turun. Kalau dulu pas ramai ambil untung Rp 10 ribu, sekarang maksimal Rp 5 ribu. Dulu turis-turis itu beberapa bisa nawar, apalagi kalau turis yang sudah lama tinggal di Bali, nawarnya sudah kayak warga lokal. China itu paling pinter nawar,” katanya. “Tapi kadang kalau mereka ngerti, mau mereka (beli harga tinggi). Ada juga bule yang nggak tahu harga baru (tidak menawar). Tapi kami di sini juga tidak pasang harga tinggi, yang penting bisa makan saja,” imbuhnya.

Pedagang lainnya, Made Jaya, mengaku berbincang-bincang dengan turis adalah momen yang paling dirindukannya saat Bali masih ramai turis. Meski terbata-bata saat mengobrol, dirinya mengungkapkan hal itu yang paling dirindukannya. “Saya kangen ngobrol sama bule. Mereka kadang bisa sangat ramah,” katanya.

Dirinya pun berharap, pemerintah tak lagi memberikan janji kosong kepada pelaku pariwisata. Karena hal ini sudah dinanti-nanti banyak masyarakat. “Kesabaran saya tidak seluas laut, kita-kita di sini butuh makan. Kalau sehari yang beli satu dua orang, jangankan bayar sekolah anak, untuk makan saja susah,” kata bapak dua anak ini.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/