alexametrics
28.8 C
Denpasar
Thursday, June 30, 2022

Turun 40 Persen, Pemesan Penjor di Denpasar Sudah Datang Sejak Sugihan

DENPASAR, BALI EXPRESS – Penjor umumnya dipasang pada Hari Raya Galungan yang berlangsung setiap enam bulan sekali. Penjor ini biasanya terbuat dari bambu melengkung yang dihiasi janur dan pernak-pernik lainnya termasuk jajan, buah, dan umbi-umbian. Tak sedikit karena minimnya waktu, atau untuk lebih mudahnya, sejumlah masyarakat perkotaan di Bali memilih untuk membeli penjor jadi. 

Hal ini pun dimanfaatkan sebagai salah satu peluang bisnis bagi masyarakat di Denpasar. Gusti Ayu Sekarini, 51, salah satunya. Ia berjualan penjor di rumahnya yang beralamat di Jalan Padma Nomor 118 Penatih, Denpasar.

Ditemui di kediamannya, Sekarini mengaku, pemesanan penjor Galungan sudah mulai berdatangan sejak Sugihan pada Kamis (4/11) lalu. Namun tak seperti biasanya, baru hanya 60 penjor yang dipesan oleh pembeli di tempatnya. Ia pun mengungkapkan, penjualan penjornya sudah mengalami penurunan sampai 40 persen sejak munculnya pandemi Covid-19.

Sebelum pandemi, kata dia, jelang Galungan pemesan penjor sudah mencapai seratusan lebih. “Yang jelas dampak Corona yang membuat penurunan dari sebelumnya, kebanyakan yang buat sendiri sekarang karena kondisi ekonominya,” ujarnya Minggu (7/11).

Ia mengatakan untuk satu penjor dijual dengan kisaran harga Rp 300 ribu hingga Rp 700 ribu. Harga ini tergantung pada hiasan dari penjor yang diminta pembeli. Sementara untuk pembeli datang dari wilayah Penatih, Monang-maning, hingga Sanur. Selain menjual penjor jadi, dirinya juga menjual bahan-bahan pembuatan penjor. Untuk bambu dijual dengan harga Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Sampian penjor mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu.

“Untuk sampiannya yang sederhana saja, karena banyak yang minta sederhana. Padi Rp 20 ribu, lampion Rp 20 ribu, bakang-bakang biasa Rp 20 ribu sampai Rp 26 ribu, yang ratna Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu, dan yang bentuk kobra Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu,” rincinya.

Sekarini dibantu oleh tiga orang rekannya untuk menyelesaikan pesanan penjornya. Persiapan pun telah dilakukan dari sebelum Sugihan dengan jalan melilit bambu dengan kain kasa.

Untuk saat ini, omzet penjualan penjornya hanya Rp 15 jutaan. Sementara sebelum pandemi bisa mencapai Rp 25 juta lebih. “Selain menerima pemesanan penjor untuk Galungan, di sini juga nerima pesanan untuk resepsi, odalan, atau kegiatan keagamaan yang lain,” katanya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Penjor umumnya dipasang pada Hari Raya Galungan yang berlangsung setiap enam bulan sekali. Penjor ini biasanya terbuat dari bambu melengkung yang dihiasi janur dan pernak-pernik lainnya termasuk jajan, buah, dan umbi-umbian. Tak sedikit karena minimnya waktu, atau untuk lebih mudahnya, sejumlah masyarakat perkotaan di Bali memilih untuk membeli penjor jadi. 

Hal ini pun dimanfaatkan sebagai salah satu peluang bisnis bagi masyarakat di Denpasar. Gusti Ayu Sekarini, 51, salah satunya. Ia berjualan penjor di rumahnya yang beralamat di Jalan Padma Nomor 118 Penatih, Denpasar.

Ditemui di kediamannya, Sekarini mengaku, pemesanan penjor Galungan sudah mulai berdatangan sejak Sugihan pada Kamis (4/11) lalu. Namun tak seperti biasanya, baru hanya 60 penjor yang dipesan oleh pembeli di tempatnya. Ia pun mengungkapkan, penjualan penjornya sudah mengalami penurunan sampai 40 persen sejak munculnya pandemi Covid-19.

Sebelum pandemi, kata dia, jelang Galungan pemesan penjor sudah mencapai seratusan lebih. “Yang jelas dampak Corona yang membuat penurunan dari sebelumnya, kebanyakan yang buat sendiri sekarang karena kondisi ekonominya,” ujarnya Minggu (7/11).

Ia mengatakan untuk satu penjor dijual dengan kisaran harga Rp 300 ribu hingga Rp 700 ribu. Harga ini tergantung pada hiasan dari penjor yang diminta pembeli. Sementara untuk pembeli datang dari wilayah Penatih, Monang-maning, hingga Sanur. Selain menjual penjor jadi, dirinya juga menjual bahan-bahan pembuatan penjor. Untuk bambu dijual dengan harga Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Sampian penjor mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu.

“Untuk sampiannya yang sederhana saja, karena banyak yang minta sederhana. Padi Rp 20 ribu, lampion Rp 20 ribu, bakang-bakang biasa Rp 20 ribu sampai Rp 26 ribu, yang ratna Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu, dan yang bentuk kobra Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu,” rincinya.

Sekarini dibantu oleh tiga orang rekannya untuk menyelesaikan pesanan penjornya. Persiapan pun telah dilakukan dari sebelum Sugihan dengan jalan melilit bambu dengan kain kasa.

Untuk saat ini, omzet penjualan penjornya hanya Rp 15 jutaan. Sementara sebelum pandemi bisa mencapai Rp 25 juta lebih. “Selain menerima pemesanan penjor untuk Galungan, di sini juga nerima pesanan untuk resepsi, odalan, atau kegiatan keagamaan yang lain,” katanya.


Most Read

Artikel Terbaru

/