alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Musim Hujan, Penyakit dan Mahalnya Perawatan Jadi Kendala Petani Cabai

DENPASAR, BALI EXPRESS – Per Senin (6/12) harga cabai rawit telah menyentuh angka Rp 60 ribu per kilogram di pasaran. Meroketnya harga cabai ini diduga dipicu curah hujan tinggi beberapa hari terakhir di Bali. Sehingga di pertanian, menjadi kendala dalam memproduksi cabai. Mulai dari banyaknya penyakit hingga biaya perawatan yang tinggi.

Salah seorang petani dari Kintamani, I Nengah Arimbawa menuturkan, pada musim hujan banyak penyakit yang menyerang tanaman. Hal ini membuat buah cepat busuk. Selain itu, intensitas air hujan yang tinggi membuat pohon cabai terendam dan berdampak pada matinya tanaman.

Agar dapat menekan risiko gagal panen, pihaknya mesti merogoh kocek lebih dalam dibandingkan biasanya untuk melakukan perawatan. Tentunya, harga perawatan tak bisa dikatakan murah. “Biayanya mahal untuk perawatan. Penyiraman pestisida harus dilakukan empat hari sekali dan pemupukan lima hari sekali agar pohon dan buah tetap terjaga,” katanya, Selasa (7/12).

Sementara dalam kondisi normal, menurutnya, penyemprotan pestisida dilakukan cukup sekali dalam seminggu. Selain itu, untuk pemupukan dilakukan dua kali dalam sebulan. “Selain harga perawatan tinggi, risiko gagal panen juga besar pada musim hujan. Dan ini tentu membuat kami para petani mengalami kerugian,” ungkapnya.

Sebagai informasi, menurut data hasil pantauan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Provinsi Bali, harga rata-rata cabai di beberapa pasar di Kota Denpasar mencapai Rp 55 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram. Salah satu pedagang bumbu dapur di Pasar Badung, Ketut Sri, membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, kenaikan harga cabai terjadi mulai akhir November.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Per Senin (6/12) harga cabai rawit telah menyentuh angka Rp 60 ribu per kilogram di pasaran. Meroketnya harga cabai ini diduga dipicu curah hujan tinggi beberapa hari terakhir di Bali. Sehingga di pertanian, menjadi kendala dalam memproduksi cabai. Mulai dari banyaknya penyakit hingga biaya perawatan yang tinggi.

Salah seorang petani dari Kintamani, I Nengah Arimbawa menuturkan, pada musim hujan banyak penyakit yang menyerang tanaman. Hal ini membuat buah cepat busuk. Selain itu, intensitas air hujan yang tinggi membuat pohon cabai terendam dan berdampak pada matinya tanaman.

Agar dapat menekan risiko gagal panen, pihaknya mesti merogoh kocek lebih dalam dibandingkan biasanya untuk melakukan perawatan. Tentunya, harga perawatan tak bisa dikatakan murah. “Biayanya mahal untuk perawatan. Penyiraman pestisida harus dilakukan empat hari sekali dan pemupukan lima hari sekali agar pohon dan buah tetap terjaga,” katanya, Selasa (7/12).

Sementara dalam kondisi normal, menurutnya, penyemprotan pestisida dilakukan cukup sekali dalam seminggu. Selain itu, untuk pemupukan dilakukan dua kali dalam sebulan. “Selain harga perawatan tinggi, risiko gagal panen juga besar pada musim hujan. Dan ini tentu membuat kami para petani mengalami kerugian,” ungkapnya.

Sebagai informasi, menurut data hasil pantauan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Provinsi Bali, harga rata-rata cabai di beberapa pasar di Kota Denpasar mencapai Rp 55 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram. Salah satu pedagang bumbu dapur di Pasar Badung, Ketut Sri, membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, kenaikan harga cabai terjadi mulai akhir November.


Most Read

Artikel Terbaru

/