alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Jualan Rujak Tumbuk, Toni Sebut Bisa Laku 90 Porsi Sehari

DENPASAR, BALI EXPRESS – Berjualan di bawah teriknya sinar matahari, tak membuat semangat Toni Iskandar luntur untuk menumbuk bumbu rujaknya. Semakin siang, pelanggan semakin banyak yang memburu dagangannya, rujak tumbuk atau bebek khas Bandung, hingga menciptakan barisan kendaraan di tempatnya berjualan, di Jembatan Pekambingan, Jalan Pulau Buru, Kelurahan Dauh Puri, Denpasar.

Begitu meletakkan pikulannya yang berisi aneka buah dan bumbu, satu per satu pelanggan datang memesan. Tak heran, ia tampak kelelahan melayani pembeli. Bahkan, jamak kali ia meminta agar pelanggan bersedia menunggu. “Karena kadang ada satu pelanggan beli banyak, jadi bisa delapan pesanan antre. Kadang pelanggan juga pesan dulu, lalu ditinggal, nanti balik lagi pesanannya diambil,” ujar Toni saat dijumpai di lokasi, Minggu (8/8).

Untuk pembuatan bumbu rujaknya, Toni mengolah aneka bahan seperti cabai, gula, garam, terasi, ubi jalar dan pisang krutuk. Sementara buahnya, ia menggunakan mangga, nanas, dan bengkuang. Resepnya sendiri memang asli dari Bandung. “Dengan ditumbuk, semua bumbunya akan meresap ke dalam buah. Itu keunggulan rujak ini,” ungkapnya.

Dalam pembuatannya, pertama semua bumbu dimasukkan ke dalam lesung kecil. Bumbu yang sudah dicampur kemudian ditumbuk hingga halus. Setelah bumbu ditumbuk halus, barulah irisan buah dimasukkan ke dalam lesung. Buah itu pun kemudian ditumbuk, namun tidak sehalus bumbu sehingga saat digigit potongan-potongan buah masih terasa. Membuat satu porsi rujak ini memakan waktu kurang lebih 10 hingga 15 menit. Untuk satu porsi rujak tumbuk, pelanggan hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 7 ribu.

Kendati hanya menggelar lapak sederhana, seharinya Toni bisa menjual 90 porsi rujak. Dengan harga Rp 7 ribu perporsi, dalam sehari rata-rata ia bisa mengantongi omzet hingga Rp 600 ribu lebih. Jika dikalkulasi, dalam sebulan kotornya ia bisa meraup omzet hingga Rp 18 juta.

Selama pandemi Covid-19 ini, dirinya mengaku tak berdampak signifikan terhadap penjualan rujak ini. “Penurunan ada, tapi tidak terlalu, karena banyak langganan yang membeli rujak di sini,” katanya. 

Salah seorang pembeli, Agung Sastra mengaku sering membeli rujak ini. Saking sukanya, ia tak keberatan menunggu hingga sejam lamanya untuk mendapatkan satu porsi rujak. Diakuinya, setiap melewati Jembatan Pekambingan, ia pasti menyempatkan diri melipir dan memesan seporsi rujak tumbuk. “Saya suka rujak tumbuk ini karena rasanya khas. Bumbunya meresap hingga ke dalam buah karena ditumbuk. Beda dengan rujak yang diiris-iris,” jelasnya.

Pembeli lain, Baskoro mengungkapkan, ia telah berlangganan rujak tumbuk sejak istrinya hamil dua bulan lalu. Sang istri ngidam rujak tumbuk dan mau tak mau ia turut mengantre. “Kebetulan istri saya ngidam rujak, dan rujak tumbuk dekat dari rumah saya. Jadi saya belikan ini, dan istri nagih terus,” katanya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Berjualan di bawah teriknya sinar matahari, tak membuat semangat Toni Iskandar luntur untuk menumbuk bumbu rujaknya. Semakin siang, pelanggan semakin banyak yang memburu dagangannya, rujak tumbuk atau bebek khas Bandung, hingga menciptakan barisan kendaraan di tempatnya berjualan, di Jembatan Pekambingan, Jalan Pulau Buru, Kelurahan Dauh Puri, Denpasar.

Begitu meletakkan pikulannya yang berisi aneka buah dan bumbu, satu per satu pelanggan datang memesan. Tak heran, ia tampak kelelahan melayani pembeli. Bahkan, jamak kali ia meminta agar pelanggan bersedia menunggu. “Karena kadang ada satu pelanggan beli banyak, jadi bisa delapan pesanan antre. Kadang pelanggan juga pesan dulu, lalu ditinggal, nanti balik lagi pesanannya diambil,” ujar Toni saat dijumpai di lokasi, Minggu (8/8).

Untuk pembuatan bumbu rujaknya, Toni mengolah aneka bahan seperti cabai, gula, garam, terasi, ubi jalar dan pisang krutuk. Sementara buahnya, ia menggunakan mangga, nanas, dan bengkuang. Resepnya sendiri memang asli dari Bandung. “Dengan ditumbuk, semua bumbunya akan meresap ke dalam buah. Itu keunggulan rujak ini,” ungkapnya.

Dalam pembuatannya, pertama semua bumbu dimasukkan ke dalam lesung kecil. Bumbu yang sudah dicampur kemudian ditumbuk hingga halus. Setelah bumbu ditumbuk halus, barulah irisan buah dimasukkan ke dalam lesung. Buah itu pun kemudian ditumbuk, namun tidak sehalus bumbu sehingga saat digigit potongan-potongan buah masih terasa. Membuat satu porsi rujak ini memakan waktu kurang lebih 10 hingga 15 menit. Untuk satu porsi rujak tumbuk, pelanggan hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 7 ribu.

Kendati hanya menggelar lapak sederhana, seharinya Toni bisa menjual 90 porsi rujak. Dengan harga Rp 7 ribu perporsi, dalam sehari rata-rata ia bisa mengantongi omzet hingga Rp 600 ribu lebih. Jika dikalkulasi, dalam sebulan kotornya ia bisa meraup omzet hingga Rp 18 juta.

Selama pandemi Covid-19 ini, dirinya mengaku tak berdampak signifikan terhadap penjualan rujak ini. “Penurunan ada, tapi tidak terlalu, karena banyak langganan yang membeli rujak di sini,” katanya. 

Salah seorang pembeli, Agung Sastra mengaku sering membeli rujak ini. Saking sukanya, ia tak keberatan menunggu hingga sejam lamanya untuk mendapatkan satu porsi rujak. Diakuinya, setiap melewati Jembatan Pekambingan, ia pasti menyempatkan diri melipir dan memesan seporsi rujak tumbuk. “Saya suka rujak tumbuk ini karena rasanya khas. Bumbunya meresap hingga ke dalam buah karena ditumbuk. Beda dengan rujak yang diiris-iris,” jelasnya.

Pembeli lain, Baskoro mengungkapkan, ia telah berlangganan rujak tumbuk sejak istrinya hamil dua bulan lalu. Sang istri ngidam rujak tumbuk dan mau tak mau ia turut mengantre. “Kebetulan istri saya ngidam rujak, dan rujak tumbuk dekat dari rumah saya. Jadi saya belikan ini, dan istri nagih terus,” katanya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/