alexametrics
30.4 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Beban Puncak Kelistrikan Naik 3,6 Persen pada Momen Lebaran di Bali

DENPASAR, BALI EXPRESS – Beban puncak kelistrikan di Bali pada libur Lebaran mengalami kenaikan 3,6 persen dibanding seminggu sebelumnya. PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali mencatat pada 3 Mei 2022 (Hari Kedua Idul Fitri) beban puncak di Bali mencapai 804,7 mega watt (MW). Dibandingkan seminggu sebelumnya yaitu pada 26 April, beban puncak di Bali mencapai 777,1 MW.

Menurut Manager Komunikasi PLN UID Bali, I Made Arya, beban puncak tertinggi juga terjadi pada 7 Mei lalu yang masih dalam momen Libur Lebaran yaitu mencapai 818,29 MW. Ia memperkirakan hal ini dipengaruhi oleh kunjungan wisatawan ke Bali pada Libur Lebaran. “Kemungkinan ya (pengaruh kedatangan wisatawan ke Bali). Tapi belum bisa dipastikan karena belum ada data detailnya. Untuk data pastinya akan ada di awal bulan mendatang,” katanya, Senin (9/5).

Made Arya mengakui, kondisi beban puncak pada momen Lebaran tahun ini mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun 2021. Dikatakannya, pada hari pertama Lebaran tahun 2021 beban puncak hanya mencapai 652,4 MW dan pada hari kedua Lebaran beban puncak mencapai 658,2 MW.

Jika dibandingkan beban puncak tertinggi sebelum pandemi, dikatakannya memang masih belum bisa melampaui atau masih dibawah. “Beban puncak tertinggi yang pernah dicapai Bali sebelum pandemi sampai 980 MW yang terjadi pada bulan Februari 2020 lalu,” ungkapnya.

Kendati demikian, pihaknya berharap dengan mulai menggeliatnya pariwisata Bali dan adanya perhelatan G20 pada tahun ini, bisa memberi pengaruh terhadap kenaikan konsumsi listrik di Bali.






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Beban puncak kelistrikan di Bali pada libur Lebaran mengalami kenaikan 3,6 persen dibanding seminggu sebelumnya. PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali mencatat pada 3 Mei 2022 (Hari Kedua Idul Fitri) beban puncak di Bali mencapai 804,7 mega watt (MW). Dibandingkan seminggu sebelumnya yaitu pada 26 April, beban puncak di Bali mencapai 777,1 MW.

Menurut Manager Komunikasi PLN UID Bali, I Made Arya, beban puncak tertinggi juga terjadi pada 7 Mei lalu yang masih dalam momen Libur Lebaran yaitu mencapai 818,29 MW. Ia memperkirakan hal ini dipengaruhi oleh kunjungan wisatawan ke Bali pada Libur Lebaran. “Kemungkinan ya (pengaruh kedatangan wisatawan ke Bali). Tapi belum bisa dipastikan karena belum ada data detailnya. Untuk data pastinya akan ada di awal bulan mendatang,” katanya, Senin (9/5).

Made Arya mengakui, kondisi beban puncak pada momen Lebaran tahun ini mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun 2021. Dikatakannya, pada hari pertama Lebaran tahun 2021 beban puncak hanya mencapai 652,4 MW dan pada hari kedua Lebaran beban puncak mencapai 658,2 MW.

Jika dibandingkan beban puncak tertinggi sebelum pandemi, dikatakannya memang masih belum bisa melampaui atau masih dibawah. “Beban puncak tertinggi yang pernah dicapai Bali sebelum pandemi sampai 980 MW yang terjadi pada bulan Februari 2020 lalu,” ungkapnya.

Kendati demikian, pihaknya berharap dengan mulai menggeliatnya pariwisata Bali dan adanya perhelatan G20 pada tahun ini, bisa memberi pengaruh terhadap kenaikan konsumsi listrik di Bali.






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/