alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, July 3, 2022

Sambut Galungan, Berata Siapkan 1 Ton Dodol Buleleng

DENPASAR, BALI EXPRESS – Selain penjor, yang wajib ada saat Hari Raya Galungan adalah jaje Bali, salah satunya dodol. Jelang Galungan, permintaan konsumen akan dodol meningkat dari hari biasanya. Hal ini diakui pemilik Warung Purnama yang khusus menjual dodol, Wayan Berata dan istrinya, Putu Suriati.

Wayan Berata mengaku untuk Hari Raya Galungan kali ini ia telah menyiapkan satu ton dodol khas Penglatan, Buleleng. Dari jumlah satu ton dodol yang disiapkan sudah hampir habis dan dirinya masih menunggu kiriman dari Buleleng. “Saya kerjasama dengan ipar di Penglatan yang memang memproduksi dodol,” ujar Berata yang ditemui di warungnya, Jalan Trenggana Nomor 15 Penatih, Denpasar, Senin (8/11).

Namun, kata dia, penjualan kali ini tak seramai sebelum pandemi Covid-19. Biasanya, saat Galungan sebelum pandemi, ia bisa menjual habis tiga sampai lima ton dodol. “Agak sepian sekarang. Cuma siapin satu ton saja untuk Galungan, tapi sudah mau habis. Dulu bisa sampai lima ton. Di sini saya jualnya sistem eceran atau grosian,” katanya.

Berata menyebutkan, satu kilo dodol dijual dengan harga Rp 35 ribu, dimana satu kilo berisi rata-rata 28 biji dodol. Ada empat rasa dodol yang disediakan yakni dodol hitam biasa, rasa pandan, rasa nangka, dan rasa kacang. Setiap rasa tersebut juga memiliki warna yang berbeda yakni hitam untuk rasa original, hijau untuk rasa pandan, kuning rasa nangka, dan cokelat rasa kacang. “Paling laris adalah dodol yang memiliki rasa pandan, nangka dan kacang. Sekarang yang tersisa warna hitam, yang warna-warni sudah habis. Masih menunggu kiriman dari Buleleng,” ungkapnya.

Sejak Sugihan dodolnya sudah mulai ramai diburu. Menurutnya, asal tidak lembab, daya tahan dodol ini bisa mencapai sebulan lebih. Jika ingin lebih tahan lama, dodolnya kembali dijemur.

Di sisi lain, Putu Suriati menambahkan dirinya sudah berjualan dodol Buleleng di Denpasar sejak tahun 1990-an. Selain menjual dodol, dirinya juga menjual iwel dan satuh. Untuk Kuningan nanti, dirinya akan menyiapkan 500 kilo dodol. Dengan penjualan tersebut, saat Galungan kali ini dirinya mampu meraup omzet kurang lebih Rp 35 juta.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Selain penjor, yang wajib ada saat Hari Raya Galungan adalah jaje Bali, salah satunya dodol. Jelang Galungan, permintaan konsumen akan dodol meningkat dari hari biasanya. Hal ini diakui pemilik Warung Purnama yang khusus menjual dodol, Wayan Berata dan istrinya, Putu Suriati.

Wayan Berata mengaku untuk Hari Raya Galungan kali ini ia telah menyiapkan satu ton dodol khas Penglatan, Buleleng. Dari jumlah satu ton dodol yang disiapkan sudah hampir habis dan dirinya masih menunggu kiriman dari Buleleng. “Saya kerjasama dengan ipar di Penglatan yang memang memproduksi dodol,” ujar Berata yang ditemui di warungnya, Jalan Trenggana Nomor 15 Penatih, Denpasar, Senin (8/11).

Namun, kata dia, penjualan kali ini tak seramai sebelum pandemi Covid-19. Biasanya, saat Galungan sebelum pandemi, ia bisa menjual habis tiga sampai lima ton dodol. “Agak sepian sekarang. Cuma siapin satu ton saja untuk Galungan, tapi sudah mau habis. Dulu bisa sampai lima ton. Di sini saya jualnya sistem eceran atau grosian,” katanya.

Berata menyebutkan, satu kilo dodol dijual dengan harga Rp 35 ribu, dimana satu kilo berisi rata-rata 28 biji dodol. Ada empat rasa dodol yang disediakan yakni dodol hitam biasa, rasa pandan, rasa nangka, dan rasa kacang. Setiap rasa tersebut juga memiliki warna yang berbeda yakni hitam untuk rasa original, hijau untuk rasa pandan, kuning rasa nangka, dan cokelat rasa kacang. “Paling laris adalah dodol yang memiliki rasa pandan, nangka dan kacang. Sekarang yang tersisa warna hitam, yang warna-warni sudah habis. Masih menunggu kiriman dari Buleleng,” ungkapnya.

Sejak Sugihan dodolnya sudah mulai ramai diburu. Menurutnya, asal tidak lembab, daya tahan dodol ini bisa mencapai sebulan lebih. Jika ingin lebih tahan lama, dodolnya kembali dijemur.

Di sisi lain, Putu Suriati menambahkan dirinya sudah berjualan dodol Buleleng di Denpasar sejak tahun 1990-an. Selain menjual dodol, dirinya juga menjual iwel dan satuh. Untuk Kuningan nanti, dirinya akan menyiapkan 500 kilo dodol. Dengan penjualan tersebut, saat Galungan kali ini dirinya mampu meraup omzet kurang lebih Rp 35 juta.


Most Read

Artikel Terbaru

/