alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Kematian Mereda, Peternakan Babi Masih Seret

DENPASAR, BALI EXPRESS – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali mencatat kasus kematian babi pada Juli 2020 nyaris nol. Namun produksi masih belum menunjukkan pertumbuhan yang optimal.

Data yang disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, IKG Nata Kesuma, Senin (10/8), menyebutkan, berdasar data komulatif situasi perkembangan wabah suspect ASF di Provinsi Bali, kematian babi sudah mulai sejak Desember 2019 yang puncak dengan total kematian terbanyak terjadi pada Maret yang mencapai 14.940 ekor, atas laporan peternak.

“Populasi babi pada bulan itu mencapai 18.971 ekor. Kemudan pada bulan berikutnya kematian babi terus menurun serta pada bulan Juli tercatat hanya 4 ekor babi yang dilaporkan meninggal,” jelasnya.

Baca Juga :  Setahun Pandemi, Produksi Mukena Jelang Ramadan Merosot

Berdasarkan laporan dari peternak, secara keseluruhan tercatat ada 32.442 ekor babi yang mati terhitung sejak Desember 2019 hingga Juli 2020. Namun, berdasarkan pemantuan langsung oleh dinas terkait kabupaten/kota, secara keseluruhan kematian babi sejak Desember 2019 hingga Juli 2020 hanya mencapai 3.538 ekor. 

Sementara itu, Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali I Ketut Hari Suyasa mengatakan, kematian babi diperkirakan  masih terjadi, terutama pada peternak yang ada di wilayah terdampak, namun angka kematiannya sangat kecil sehingga membuat produksi belum optimal. “Kalau produksi saat ini masih sangat jauh lebih rendah dibandingkan sebelum keberadaan wabah,” jelasnya.

Di sisi lain, dikatakannya, harga babi sekarang cukup bagus yang berkisar dari Rp 36 ribu  hingga Rp 39 ribu  per kilogram babi hidup. Hal ini, diakuinya, menjadi peluang yang bagus bagi para peternak sehingga mampu mengembalikan semangat para peternak.

Baca Juga :  Mabuk, Arek Malang Tewas Tabrak Akar Pohon di Jalan Dewata

DENPASAR, BALI EXPRESS – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali mencatat kasus kematian babi pada Juli 2020 nyaris nol. Namun produksi masih belum menunjukkan pertumbuhan yang optimal.

Data yang disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, IKG Nata Kesuma, Senin (10/8), menyebutkan, berdasar data komulatif situasi perkembangan wabah suspect ASF di Provinsi Bali, kematian babi sudah mulai sejak Desember 2019 yang puncak dengan total kematian terbanyak terjadi pada Maret yang mencapai 14.940 ekor, atas laporan peternak.

“Populasi babi pada bulan itu mencapai 18.971 ekor. Kemudan pada bulan berikutnya kematian babi terus menurun serta pada bulan Juli tercatat hanya 4 ekor babi yang dilaporkan meninggal,” jelasnya.

Baca Juga :  BPPD Badung Ngotot Pengadaan Pesawat Komersial

Berdasarkan laporan dari peternak, secara keseluruhan tercatat ada 32.442 ekor babi yang mati terhitung sejak Desember 2019 hingga Juli 2020. Namun, berdasarkan pemantuan langsung oleh dinas terkait kabupaten/kota, secara keseluruhan kematian babi sejak Desember 2019 hingga Juli 2020 hanya mencapai 3.538 ekor. 

Sementara itu, Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali I Ketut Hari Suyasa mengatakan, kematian babi diperkirakan  masih terjadi, terutama pada peternak yang ada di wilayah terdampak, namun angka kematiannya sangat kecil sehingga membuat produksi belum optimal. “Kalau produksi saat ini masih sangat jauh lebih rendah dibandingkan sebelum keberadaan wabah,” jelasnya.

Di sisi lain, dikatakannya, harga babi sekarang cukup bagus yang berkisar dari Rp 36 ribu  hingga Rp 39 ribu  per kilogram babi hidup. Hal ini, diakuinya, menjadi peluang yang bagus bagi para peternak sehingga mampu mengembalikan semangat para peternak.

Baca Juga :  Siswa Difabel Netra Akui Soal USBN Cukup Sulit

Most Read

Artikel Terbaru

/