alexametrics
30.4 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Pasca Panen Solusi Penting di Sektor Pertanian

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pada saat ini, pasca panen merupakan solusi penting di sektor pertanian. Hal ini berkaitan dengan umur dari sebuah produk pertanian yang dihasilkan. Menurut Ketua Forum Petani Muda Bali, AA Gede Agung Wedhatama, masih banyak petani yang menjual produknya mentahan. Sebab, kurangnya edukasi untuk petani serta kurangnya ketersediaan alat atau mesin agar dapat mengolah produknya menjadi produk olahan. 

“Contohnya, buah kalau dibiarkan begitu saja, paling tiga hari sudah busuk. Tapi kalau freeze drying bisa kita simpan bahkan sampai satu tahun. Di sinilah kami dari Komunitas Petani Muda Keren, bergerak untuk mengedukasi petani kita agar bisa aktif mengolah pertanian pasca panen,” ujar Agung yang juga sebagai Ketua Komunitas Petani Muda Keren saat dihubungi Selasa (10/8). “Selain itu, pemerintah harus turun tangan dan membantu ‘memfasilitasi’ seperti alat, mesin, dan sebagainya. Sehingga UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dan ekonomi kreatif tumbuh dan semuanya bisa berdaya,” sambungnya.

Sementara itu, baru-baru ini Presiden RI, Joko Widodo, mencetuskan keinginannya agar semakin banyak generasi muda tertarik jadi petani. Lantaran, sektor pertanian dinilai penting dalam membangun kemandirian pangan Indonesia.

Menanggapi hal itu, Agung optimis generasi muda kedepannya akan lebih banyak yang bergelut di sektor pertanian. Sebab saat ini, pihaknya tengah gencar mengedukasi anak muda Bali terkait digitalisasi pertanian atau smart farming. Disamping itu, ia menyebutkan, di tengah anjloknya sejumlah sektor di masa pandemi ini, sektor pertanian masih tumbuh positif karena terkait pangan.

“Kemarin kami mengadakan pelatihan di Gobleg, banyak sekali anak muda kita yang mengikuti pelatihan itu. Jadi saya optimis, di tengah pandemi ini, mindset anak muda kita mulai terbuka kalau sektor pertanian itu adalah sektor yang tangguh dan sustainable untuk kelangsungan masyarakat,” paparnya.

Ia menuturkan, sebelum pandemi masyarakat banyak yang terlena oleh sektor pariwisata. Namun dengan adanya pandemi ini, perlahan masyarakat mulai disadarkan bahwa pariwisata merupakan sektor yang rapuh dan rentan. “Jadi mulai sekarang kita harus memfokuskan sektor di sektor produktif dan menghasilkan seperti pertanian. Kalau kita membicarakan Bali secara holistik, pertanian itu merupakan urat nadinya Bali. Subak, air, adat budaya, bahkan sampai agama pun dari pertanian,” katanya.

Disinggung apakah lahan menjadi faktor utama minimnya masyarakat terjun ke pertanian, Agung menepis hal tersebut. Dia mengungkapkan, masih banyak lahan tidak produktif di Bali. Adanya alih fungsi lahan di Bali, disebutnya, lantaran lahan-lahan tersebut tidak dikelola atau diberdayakan yang berdampak pada banyaknya lahan di Bali yang terjual. “Kalau membicarakan lahan itu relatif. Kalau dikatakan sempit, sebenarnya masih banyak lahan di Bali yang tidak produktif. Masih banyak lahan yang tidak dimanfaatkan secara maksimal, jadi permasalahannya bukan karena ada atau tidaknya lahan, tapi masalahnya mau atau tidak. Karena kalau mau, pasti ada jalan,” bebernya.

Kendala saat ini justru datang pada minimnya demand atau permintaan. Banyaknya hotel dan restoran yang tutup, minimnya aktivitas bandara, serta daya beli masyarakat menurun memberi pengaruh terhadap demand. “Tantangan terbesar kita saat ini ada di demand. Meskipun begitu, pertanian masih tetap jalan karena kita terus berproduksi untuk ketahanan pangan,” tandasnya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Pada saat ini, pasca panen merupakan solusi penting di sektor pertanian. Hal ini berkaitan dengan umur dari sebuah produk pertanian yang dihasilkan. Menurut Ketua Forum Petani Muda Bali, AA Gede Agung Wedhatama, masih banyak petani yang menjual produknya mentahan. Sebab, kurangnya edukasi untuk petani serta kurangnya ketersediaan alat atau mesin agar dapat mengolah produknya menjadi produk olahan. 

“Contohnya, buah kalau dibiarkan begitu saja, paling tiga hari sudah busuk. Tapi kalau freeze drying bisa kita simpan bahkan sampai satu tahun. Di sinilah kami dari Komunitas Petani Muda Keren, bergerak untuk mengedukasi petani kita agar bisa aktif mengolah pertanian pasca panen,” ujar Agung yang juga sebagai Ketua Komunitas Petani Muda Keren saat dihubungi Selasa (10/8). “Selain itu, pemerintah harus turun tangan dan membantu ‘memfasilitasi’ seperti alat, mesin, dan sebagainya. Sehingga UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dan ekonomi kreatif tumbuh dan semuanya bisa berdaya,” sambungnya.

Sementara itu, baru-baru ini Presiden RI, Joko Widodo, mencetuskan keinginannya agar semakin banyak generasi muda tertarik jadi petani. Lantaran, sektor pertanian dinilai penting dalam membangun kemandirian pangan Indonesia.

Menanggapi hal itu, Agung optimis generasi muda kedepannya akan lebih banyak yang bergelut di sektor pertanian. Sebab saat ini, pihaknya tengah gencar mengedukasi anak muda Bali terkait digitalisasi pertanian atau smart farming. Disamping itu, ia menyebutkan, di tengah anjloknya sejumlah sektor di masa pandemi ini, sektor pertanian masih tumbuh positif karena terkait pangan.

“Kemarin kami mengadakan pelatihan di Gobleg, banyak sekali anak muda kita yang mengikuti pelatihan itu. Jadi saya optimis, di tengah pandemi ini, mindset anak muda kita mulai terbuka kalau sektor pertanian itu adalah sektor yang tangguh dan sustainable untuk kelangsungan masyarakat,” paparnya.

Ia menuturkan, sebelum pandemi masyarakat banyak yang terlena oleh sektor pariwisata. Namun dengan adanya pandemi ini, perlahan masyarakat mulai disadarkan bahwa pariwisata merupakan sektor yang rapuh dan rentan. “Jadi mulai sekarang kita harus memfokuskan sektor di sektor produktif dan menghasilkan seperti pertanian. Kalau kita membicarakan Bali secara holistik, pertanian itu merupakan urat nadinya Bali. Subak, air, adat budaya, bahkan sampai agama pun dari pertanian,” katanya.

Disinggung apakah lahan menjadi faktor utama minimnya masyarakat terjun ke pertanian, Agung menepis hal tersebut. Dia mengungkapkan, masih banyak lahan tidak produktif di Bali. Adanya alih fungsi lahan di Bali, disebutnya, lantaran lahan-lahan tersebut tidak dikelola atau diberdayakan yang berdampak pada banyaknya lahan di Bali yang terjual. “Kalau membicarakan lahan itu relatif. Kalau dikatakan sempit, sebenarnya masih banyak lahan di Bali yang tidak produktif. Masih banyak lahan yang tidak dimanfaatkan secara maksimal, jadi permasalahannya bukan karena ada atau tidaknya lahan, tapi masalahnya mau atau tidak. Karena kalau mau, pasti ada jalan,” bebernya.

Kendala saat ini justru datang pada minimnya demand atau permintaan. Banyaknya hotel dan restoran yang tutup, minimnya aktivitas bandara, serta daya beli masyarakat menurun memberi pengaruh terhadap demand. “Tantangan terbesar kita saat ini ada di demand. Meskipun begitu, pertanian masih tetap jalan karena kita terus berproduksi untuk ketahanan pangan,” tandasnya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/