alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Mahasiswa Unmas Olah Masker Jadi Bahan Campuran Beton

DENPASAR, BALI EXPRESS – Kekhawatirkan akan adanya penumpukan limbah masker medis yang setiap hari jumlahnya kian meningkat, menginisiasi kumpulan mahasiswa Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil Univesitas Mahasaraswati (Unmas) untuk menjadikannya bahan guna. Salah satunya, dengan membuat bahan bangunan beton dari bahan dasar limbah masker medis. Kegiatan pengolahan limbah masker yang dijadikan bahan campuran beton ini dinamakan Covid Concrete atau disingkat dengan Covcrete19. 

Ketua Tim Peneliti Covid Concrete, I Made Wahyu Wijaya menuturkan, pihaknya melihat selama pandemi Covid-19 ini ada peningkatan sampah masker, terutama masker medis di kegiatan domestik atau rumah tangga. “Kebetulan pada bulan April itu ada semacam kompetisi pendanaan penelitian dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan mereka memberikan kesempatan untuk penelitian-penelitian di bidang kesehatan. Salah satunya di bidang kesehatan ini kami mengambil sub temanya penganggulangan sampah medis,” ujar Wahyu, Minggu (10/10).

Dari sana, pihaknya melihat ternyata sampah medis dapat dihasilkan dari kegiatan domestik atau rumah tangga karena digunakan hampir setiap hari. Setelah melihat banyaknya sampah medis yang dihasilkan rumah tangga, ia dan kumpulan mahasiswa tersebut melakukan survey penggunaan masker medis. Dari hasil survey, didapatkan penggunaan masker medis oleh rumah tangga dalam waktu satu hari berjumlah satu hingga tiga masker. 

“Masker yang telah digunakan tersebut langsung dibuang di sampah rumah tangga dijadikan satu tanpa ada pemilihan. Oleh karena itu daripada mencemari lingkungan karena tidak bisa didaur secara alami. Maka dari itu kami menemukan ide penganggulangan limbah masker medis ini dengan disolidifikasi atau dibentuk dengan dipadatkan,” jelasnya. 

Bermula dari sana, ia langsung berdiskusi dengan mahasiswa dan orang-orang yang terkait dengan teknik sipil bahwa memungkinkan untuk menambahkan serat dari masker ini menjadi bahan campuran untuk beton dan paving blok. Masker sendiri memiliki kandungan semacam serat yang bisa diambil dan menjadi campuran untuk paving blok. 

“Akhirnya kami terpilih untuk mendapatkan pendanaan dari BNPB untuk melakukan penelitian ini. Jadi mulai bulan April itu sudah jalan lalu bulan Mei dan Juni untuk pengumpulan maskernya. Jadi kami infokan melalui sosial media bahwa ada pengumpulan masker di kampus kami, Universitas Mahasarawati Denpasar. Bagi yang memiliki sampah masker bisa dikumpulkan di rumah dan dikumpulkan ke kami akan kami olah jadikan bahan campuran ini,” terangnya. 

Ia mengungkapkan, seluruh masker medis bisa digunakan untuk campuran beton. Namun ia menegaskan, masker medis yang digunakan di sini merupakan masker medis hasil dari kegiatan rumah tangga, bukan dari kegiatan klinik atau rumah sakit. 

Ia menyebutkan, dalam pengerjaan beton ini pihaknya melibatkan sejumlah orang. “Kami tim peneliti ada dosen dari jurusan Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil berkolaborasi. Kemudian ada teman-teman mahasiswa dari Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil Fakultas Teknik Unmas Denpasar yang membantu proses pengumpulan masker, pembuatan dan pengolahannya,” katanya. 

Sementara untuk beton yang sudah dihasilkan masih dalam tahap penelitian. Selanjutnya pihaknya akan menguji kualitas beton dan paving blok yang telah dikerjakan. Jika kedepannya terpenuhi syarat, bahwa beton ini bisa dikomersilkan mungkin akan ditindaklanjuti. 

“Masih akan diteliti terkait penggunaan serat masker. Kalau untuk beton di sini kami ada 36 benda uji dengan beberapa variasi pencampuran serat masker ada 0 sampai 0,75 persen. Jadi ada 0 persen tanpa serat masker ada 0,125, 0,25, 0,375 persen untuk campuran masker. Jadi akan kami uji semua yang mana kualitasnya paling bagus. Akan jadi referensi jika kedepannya akan digunakan untuk komersial,” kata dia.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Kekhawatirkan akan adanya penumpukan limbah masker medis yang setiap hari jumlahnya kian meningkat, menginisiasi kumpulan mahasiswa Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil Univesitas Mahasaraswati (Unmas) untuk menjadikannya bahan guna. Salah satunya, dengan membuat bahan bangunan beton dari bahan dasar limbah masker medis. Kegiatan pengolahan limbah masker yang dijadikan bahan campuran beton ini dinamakan Covid Concrete atau disingkat dengan Covcrete19. 

Ketua Tim Peneliti Covid Concrete, I Made Wahyu Wijaya menuturkan, pihaknya melihat selama pandemi Covid-19 ini ada peningkatan sampah masker, terutama masker medis di kegiatan domestik atau rumah tangga. “Kebetulan pada bulan April itu ada semacam kompetisi pendanaan penelitian dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan mereka memberikan kesempatan untuk penelitian-penelitian di bidang kesehatan. Salah satunya di bidang kesehatan ini kami mengambil sub temanya penganggulangan sampah medis,” ujar Wahyu, Minggu (10/10).

Dari sana, pihaknya melihat ternyata sampah medis dapat dihasilkan dari kegiatan domestik atau rumah tangga karena digunakan hampir setiap hari. Setelah melihat banyaknya sampah medis yang dihasilkan rumah tangga, ia dan kumpulan mahasiswa tersebut melakukan survey penggunaan masker medis. Dari hasil survey, didapatkan penggunaan masker medis oleh rumah tangga dalam waktu satu hari berjumlah satu hingga tiga masker. 

“Masker yang telah digunakan tersebut langsung dibuang di sampah rumah tangga dijadikan satu tanpa ada pemilihan. Oleh karena itu daripada mencemari lingkungan karena tidak bisa didaur secara alami. Maka dari itu kami menemukan ide penganggulangan limbah masker medis ini dengan disolidifikasi atau dibentuk dengan dipadatkan,” jelasnya. 

Bermula dari sana, ia langsung berdiskusi dengan mahasiswa dan orang-orang yang terkait dengan teknik sipil bahwa memungkinkan untuk menambahkan serat dari masker ini menjadi bahan campuran untuk beton dan paving blok. Masker sendiri memiliki kandungan semacam serat yang bisa diambil dan menjadi campuran untuk paving blok. 

“Akhirnya kami terpilih untuk mendapatkan pendanaan dari BNPB untuk melakukan penelitian ini. Jadi mulai bulan April itu sudah jalan lalu bulan Mei dan Juni untuk pengumpulan maskernya. Jadi kami infokan melalui sosial media bahwa ada pengumpulan masker di kampus kami, Universitas Mahasarawati Denpasar. Bagi yang memiliki sampah masker bisa dikumpulkan di rumah dan dikumpulkan ke kami akan kami olah jadikan bahan campuran ini,” terangnya. 

Ia mengungkapkan, seluruh masker medis bisa digunakan untuk campuran beton. Namun ia menegaskan, masker medis yang digunakan di sini merupakan masker medis hasil dari kegiatan rumah tangga, bukan dari kegiatan klinik atau rumah sakit. 

Ia menyebutkan, dalam pengerjaan beton ini pihaknya melibatkan sejumlah orang. “Kami tim peneliti ada dosen dari jurusan Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil berkolaborasi. Kemudian ada teman-teman mahasiswa dari Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil Fakultas Teknik Unmas Denpasar yang membantu proses pengumpulan masker, pembuatan dan pengolahannya,” katanya. 

Sementara untuk beton yang sudah dihasilkan masih dalam tahap penelitian. Selanjutnya pihaknya akan menguji kualitas beton dan paving blok yang telah dikerjakan. Jika kedepannya terpenuhi syarat, bahwa beton ini bisa dikomersilkan mungkin akan ditindaklanjuti. 

“Masih akan diteliti terkait penggunaan serat masker. Kalau untuk beton di sini kami ada 36 benda uji dengan beberapa variasi pencampuran serat masker ada 0 sampai 0,75 persen. Jadi ada 0 persen tanpa serat masker ada 0,125, 0,25, 0,375 persen untuk campuran masker. Jadi akan kami uji semua yang mana kualitasnya paling bagus. Akan jadi referensi jika kedepannya akan digunakan untuk komersial,” kata dia.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/