alexametrics
27.6 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Tingkatkan Soft Skill Pemasaran Produk, Lusi Sampai Ikut Kelas Instagram

DENPASAR, BALI EXPRESS – Komang Lusi Damayanti, 39, menunjukkan keseriusannya untuk membangkitkan usahanya dari hantaman pandemi Covid-19. Selain menggenjot pemasaran produk melalui online marketing, ia pun meningkatkan soft skill-nya dengan mengikuti kelas sosial media (sosmed) Instagram. Di sana, perempuan asli Gianyar ini, belajar bagaimana cara menggunakan hashtag yang benar, deskripsi profil, hingga penggunaan keyword.

“Karena market saya kan middle up, jadi display produk tidak sembarangan. Ikut kelas Instagram supaya mengerti bagaimana caranya agar kalau ada yang nyari endek, akun saya muncul di atas,” jelasnya saat diwawancarai di Art Centre, Denpasar, Kamis (10/2).

Penggunaan sosmed sebagai media pemasaran memang bukan hal baru bagi Lusi. Sebab, jauh sebelum pandemi ia sudah mengiklankan produknya melalui sosmed yang familiar. Gegara ini, pelanggan justru lebih banyak membeli melalui aplikasi ojek online alih-alih datang ke tokonya yang terlokasi di Jalan Buluh Indah, Denpasar.

Lusi mengakui, pandemi cukup memukul usahanya yang bergerak di bidang fashion, khususnya pakaian endek yang ready to wear. Sebelum pandemi, Lusi bisa mengantongi omzet sampai Rp 35 juta sebulan. Setelah pandemi, omzet yang masuk turun menjadi Rp 10 juta sebulan. “Tukang jahit saya bahkan hampir 1,5 tahun berhenti buat endek,” ungkapnya.

Sementara itu, produknya telah terjual sampai ke luar Bali, seperti Makassar, Pekan Baru, Jogja, Jakarta, dan wilayah lainnya. Kain endeknya sendiri, berasal dari daerah Klungkung dan Gianyar. Kisaran harga pakaian endeknya pun beragam tergantung kualitas endek yang digunakan. “Saya juga buat koleksi yang affordable, yang terjangkau, biasanya di bawah Rp 500 ribu. Kalau yang kainnya bagus, harganya di atas Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta.

Beruntung dalam kondisi seperti ini, ia bisa mengikuti Pameran Bali Bangkit 2022 Tahap I yang digelar Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali dan Dekranasda Provinsi Bali. “Kebetulan dengan acara seperti ini kita optimis, karena ada saja yang belanja setiap harinya. Sebelumnya saya setiap tahun rutin ikut Pesta Kesenian Bali (PKB). Kalau PKB omzetnya lumayan, pendapatan 3 bulan bisa dicapai dalam 1 bulan,” katanya.

Meskipun tak sedikit kompetitor di bidang usahanya, Lusi mengaku tidak masalah. Sebab, menurut dia, setiap brand memiliki ciri khasnya masing-masing. “Jadi be your self saja, tidak ikut-ikutan orang lain. Customer juga kan punya style-nya sendiri,” tuturnya.

Untuk mengembangkan usahanya, Lusi didukung oleh kredit yang diajukannya ke Bank BRI. Terakhir, ia mengajukan kredit usaha rakyat (KUR) senilai Rp 50 juta dengan tenor 2 tahun. Menurutnya, dengan kredit ini cukup membantu usahanya yang terdampak pandemi. “Ini sebentar lagi selesai, tinggal 10 bulan lagi. Kita harus punya target agar nggak molor-molor,” tutupnya.






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Komang Lusi Damayanti, 39, menunjukkan keseriusannya untuk membangkitkan usahanya dari hantaman pandemi Covid-19. Selain menggenjot pemasaran produk melalui online marketing, ia pun meningkatkan soft skill-nya dengan mengikuti kelas sosial media (sosmed) Instagram. Di sana, perempuan asli Gianyar ini, belajar bagaimana cara menggunakan hashtag yang benar, deskripsi profil, hingga penggunaan keyword.

“Karena market saya kan middle up, jadi display produk tidak sembarangan. Ikut kelas Instagram supaya mengerti bagaimana caranya agar kalau ada yang nyari endek, akun saya muncul di atas,” jelasnya saat diwawancarai di Art Centre, Denpasar, Kamis (10/2).

Penggunaan sosmed sebagai media pemasaran memang bukan hal baru bagi Lusi. Sebab, jauh sebelum pandemi ia sudah mengiklankan produknya melalui sosmed yang familiar. Gegara ini, pelanggan justru lebih banyak membeli melalui aplikasi ojek online alih-alih datang ke tokonya yang terlokasi di Jalan Buluh Indah, Denpasar.

Lusi mengakui, pandemi cukup memukul usahanya yang bergerak di bidang fashion, khususnya pakaian endek yang ready to wear. Sebelum pandemi, Lusi bisa mengantongi omzet sampai Rp 35 juta sebulan. Setelah pandemi, omzet yang masuk turun menjadi Rp 10 juta sebulan. “Tukang jahit saya bahkan hampir 1,5 tahun berhenti buat endek,” ungkapnya.

Sementara itu, produknya telah terjual sampai ke luar Bali, seperti Makassar, Pekan Baru, Jogja, Jakarta, dan wilayah lainnya. Kain endeknya sendiri, berasal dari daerah Klungkung dan Gianyar. Kisaran harga pakaian endeknya pun beragam tergantung kualitas endek yang digunakan. “Saya juga buat koleksi yang affordable, yang terjangkau, biasanya di bawah Rp 500 ribu. Kalau yang kainnya bagus, harganya di atas Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta.

Beruntung dalam kondisi seperti ini, ia bisa mengikuti Pameran Bali Bangkit 2022 Tahap I yang digelar Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali dan Dekranasda Provinsi Bali. “Kebetulan dengan acara seperti ini kita optimis, karena ada saja yang belanja setiap harinya. Sebelumnya saya setiap tahun rutin ikut Pesta Kesenian Bali (PKB). Kalau PKB omzetnya lumayan, pendapatan 3 bulan bisa dicapai dalam 1 bulan,” katanya.

Meskipun tak sedikit kompetitor di bidang usahanya, Lusi mengaku tidak masalah. Sebab, menurut dia, setiap brand memiliki ciri khasnya masing-masing. “Jadi be your self saja, tidak ikut-ikutan orang lain. Customer juga kan punya style-nya sendiri,” tuturnya.

Untuk mengembangkan usahanya, Lusi didukung oleh kredit yang diajukannya ke Bank BRI. Terakhir, ia mengajukan kredit usaha rakyat (KUR) senilai Rp 50 juta dengan tenor 2 tahun. Menurutnya, dengan kredit ini cukup membantu usahanya yang terdampak pandemi. “Ini sebentar lagi selesai, tinggal 10 bulan lagi. Kita harus punya target agar nggak molor-molor,” tutupnya.






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/