alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Bisnis Sekaligus Pelestarian, Aswin Tangkar Burung Unta

YOGJAKARTA, BALI EXPRESS — Biasanya masyarakat lebih banyak memilih untuk memelihara ataupun melakukan jual beli unggas yang mudah ditemui di pasaran, seperti burung, ayam, ataupun bebek. Namun, berbeda halnya dengan salah satu warga Sleman, Langgoso Aswin Putra, yang memilih burung unta.

Berawal dari ketertarikan dan kekagumannya akan burung unta, mendorongnya untuk membuat penangkaran burung unta. Hingga akhirnya berdirilah Mahasvin Farm. Penangkaran ini berlokasi di Dusun Gebang, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.

“Kami mengambil segmen memelihara burung unta, karena itu adalah hewan purba. Dimana ada sebuah kebanggaan, rasa syukur kami bisa melestarikan hewan yang berstatus purba. Dimana nenek moyang mereka itu juga ada di zaman purba dinosaurus. Ini sebuah kebanggaan, kami bisa memelihara statusnya dinosaurus,” jelasnya saat ditemui di Mahasvin Farm, Jumat (10/6).

Hingga saat ini, terdapat lima ekor burung unta yang berada di penangkaran Mahasvin Farm. Terdiri dari satu jantan, dua betina, dan dua anakan burung unta.

Aswin menjelaskan, tak sulit dalam merawat burung unta, karena termasuk hewan yang bisa diberi makan apa saja.
Dalam sehari, burung-burung unta miliknya hanya diberi makan rumput dua hari sekali. Walau begitu kondisi kesehatannya sangatlah terjaga. Terbukti dari lincahnya gerak dan tubuh yang ideal.

“Kami telah memiliki izin penangkaran dari instansi terkait. Mengingat burung unta berstatus langka, merujuk jumlah populasi burung unta di Indonesia yang sedikit. Sementara burung unta ini banyak dan sangat mudah ditemui di benua Afrika, sehingga tak dilarang untuk dilakukan penangkaran,” katanya.

Tak sekadar dipelihara, Aswin menjadikan burung unta sebagai komoditi bisnisnya. Sasarannya adalah para kolektor, penghobi, dan para pengusaha yang membuka destinasi wisata mini zoo. Sepasang burung unta berusia satu minggu dibanderol dengan harga puluhan juta rupiah.

Dia juga menyuplai sejumlah tempat wisata di Indonesia. Berupa pengiriman burung unta dalam kondisi hidup. Untuk kemudian menjadi pengisi wahana di tempat yang baru.

“Kami yang menyuplai hewan-hewan seperti ini. Karena kami basisnya bisnis, setiap tahun ada keluar ratusan ekor. Kami menahan satu jantan dan lima betina. Jadi, setiap tahun kami produksi ratusan ekor dan harus kami keluarkan untuk mengurangi populasi yang ada di kandang,” ujarnya. (jpg/wid)

 


YOGJAKARTA, BALI EXPRESS — Biasanya masyarakat lebih banyak memilih untuk memelihara ataupun melakukan jual beli unggas yang mudah ditemui di pasaran, seperti burung, ayam, ataupun bebek. Namun, berbeda halnya dengan salah satu warga Sleman, Langgoso Aswin Putra, yang memilih burung unta.

Berawal dari ketertarikan dan kekagumannya akan burung unta, mendorongnya untuk membuat penangkaran burung unta. Hingga akhirnya berdirilah Mahasvin Farm. Penangkaran ini berlokasi di Dusun Gebang, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.

“Kami mengambil segmen memelihara burung unta, karena itu adalah hewan purba. Dimana ada sebuah kebanggaan, rasa syukur kami bisa melestarikan hewan yang berstatus purba. Dimana nenek moyang mereka itu juga ada di zaman purba dinosaurus. Ini sebuah kebanggaan, kami bisa memelihara statusnya dinosaurus,” jelasnya saat ditemui di Mahasvin Farm, Jumat (10/6).

Hingga saat ini, terdapat lima ekor burung unta yang berada di penangkaran Mahasvin Farm. Terdiri dari satu jantan, dua betina, dan dua anakan burung unta.

Aswin menjelaskan, tak sulit dalam merawat burung unta, karena termasuk hewan yang bisa diberi makan apa saja.
Dalam sehari, burung-burung unta miliknya hanya diberi makan rumput dua hari sekali. Walau begitu kondisi kesehatannya sangatlah terjaga. Terbukti dari lincahnya gerak dan tubuh yang ideal.

“Kami telah memiliki izin penangkaran dari instansi terkait. Mengingat burung unta berstatus langka, merujuk jumlah populasi burung unta di Indonesia yang sedikit. Sementara burung unta ini banyak dan sangat mudah ditemui di benua Afrika, sehingga tak dilarang untuk dilakukan penangkaran,” katanya.

Tak sekadar dipelihara, Aswin menjadikan burung unta sebagai komoditi bisnisnya. Sasarannya adalah para kolektor, penghobi, dan para pengusaha yang membuka destinasi wisata mini zoo. Sepasang burung unta berusia satu minggu dibanderol dengan harga puluhan juta rupiah.

Dia juga menyuplai sejumlah tempat wisata di Indonesia. Berupa pengiriman burung unta dalam kondisi hidup. Untuk kemudian menjadi pengisi wahana di tempat yang baru.

“Kami yang menyuplai hewan-hewan seperti ini. Karena kami basisnya bisnis, setiap tahun ada keluar ratusan ekor. Kami menahan satu jantan dan lima betina. Jadi, setiap tahun kami produksi ratusan ekor dan harus kami keluarkan untuk mengurangi populasi yang ada di kandang,” ujarnya. (jpg/wid)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/