alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Rupiah Melemah, BI Berupaya Berbagai Cara Jaga Stabilitas Nilai Tukar

DENPASAR, BALI EXPRESS – Belakangan ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan adanya pelemahan. Bahkan, sempat menyentuh Rp 15 ribu per dolar AS pada minggu lalu.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali, Trisno Nugroho mengatakan, pergerakan nilai tukar akan berdampak pada perekonomian Nasional yang pada gilirannya juga akan berdampak pada perekonomian Bali. Adapun dampaknya bisa melalui jalur perdagangan, jalur komoditas, dan jalur keuangan.

Secara rinci, Trisno memaparkan, dampak pada jalur perdagangan, yaitu meningkatnya insentif ekspor karena harga barang Bali relatif lebih murah dari sudut pandang Valuta Asing.

Sebaliknya menjadi disinsentif impor karena harga komoditas impor relatif lebih mahal dari sudut pandang rupiah. Kemudian, dampak pada jalur komoditas yaitu meningkatnya harga komoditas yang berasal dari luar negeri, sehingga meningkatkan harga barang di Bali. Harga-harga komoditas yang berasal dari luar negeri seperti CPO, kedelai, gandum, dan daging sapi.

Baca Juga :  Sambut Galungan, Kolaborasi Program Grup Astra Gelar Promo 3 in 1

“Pada jalur keuangan, bisa berdampak pada eksposure utang valas dari bank-bank dan korporasi yang berpotensi meningkatkan NPL dan risiko di pasar keuangan,” terangnya, Minggu (10/7).

Ia menambahkan, pergerakan nilai tukar yang terlalu fluktuatif akan menyulitkan pelaku usaha, sehingga berdampak negatif bagi perekonomian. Maka dari itu, Bank Indonesia berusaha menjaga stabilitas nilai tukar dengan beberapa cara.

Pertama, normalisasi nilai tukar melalui kebijakan intervensi pasar, baik melalui pasar spot maupun pasar SBN, dengan memperhatikan mekanisme pasar dan fundamentalnya.

“Kedua, dengan normalisasi kebijakan moneter agar likuiditas perbankan tetap terjaga, tanpa menimbulkan tekanan terhadap instabilitas baik nilai tukar maupun inflasi, dengan cara meningkatkan efektivitas kenaikan GWM (7 persen di bulan Juli dan 9 persen di bulan September) dan efektivitas operasi moneter,” jabarnya.

Baca Juga :  Kebiasaan Penyebab Motor Matik Rusak

 






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Belakangan ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan adanya pelemahan. Bahkan, sempat menyentuh Rp 15 ribu per dolar AS pada minggu lalu.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali, Trisno Nugroho mengatakan, pergerakan nilai tukar akan berdampak pada perekonomian Nasional yang pada gilirannya juga akan berdampak pada perekonomian Bali. Adapun dampaknya bisa melalui jalur perdagangan, jalur komoditas, dan jalur keuangan.

Secara rinci, Trisno memaparkan, dampak pada jalur perdagangan, yaitu meningkatnya insentif ekspor karena harga barang Bali relatif lebih murah dari sudut pandang Valuta Asing.

Sebaliknya menjadi disinsentif impor karena harga komoditas impor relatif lebih mahal dari sudut pandang rupiah. Kemudian, dampak pada jalur komoditas yaitu meningkatnya harga komoditas yang berasal dari luar negeri, sehingga meningkatkan harga barang di Bali. Harga-harga komoditas yang berasal dari luar negeri seperti CPO, kedelai, gandum, dan daging sapi.

Baca Juga :  Tarif Angkutan Naik Kerek Inflasi Bali 3,05 Persen April 2022

“Pada jalur keuangan, bisa berdampak pada eksposure utang valas dari bank-bank dan korporasi yang berpotensi meningkatkan NPL dan risiko di pasar keuangan,” terangnya, Minggu (10/7).

Ia menambahkan, pergerakan nilai tukar yang terlalu fluktuatif akan menyulitkan pelaku usaha, sehingga berdampak negatif bagi perekonomian. Maka dari itu, Bank Indonesia berusaha menjaga stabilitas nilai tukar dengan beberapa cara.

Pertama, normalisasi nilai tukar melalui kebijakan intervensi pasar, baik melalui pasar spot maupun pasar SBN, dengan memperhatikan mekanisme pasar dan fundamentalnya.

“Kedua, dengan normalisasi kebijakan moneter agar likuiditas perbankan tetap terjaga, tanpa menimbulkan tekanan terhadap instabilitas baik nilai tukar maupun inflasi, dengan cara meningkatkan efektivitas kenaikan GWM (7 persen di bulan Juli dan 9 persen di bulan September) dan efektivitas operasi moneter,” jabarnya.

Baca Juga :  Penerbangan Rute Internasional Menuju Ngurah Rai Terus Bertambah

 






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/